Agen Terpercaya  
 
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA Masa Lalu

Bab 2


🎶 "Love is on the way..I can see it in your eyes..Let's give it one more try tonight baby.."


Alunan refrain grup rock Saigon Kick terdengar lirih di walkman yang Adrian putar malam itu.Pikirannya terbang kembali ke kejadian sore tadi.


"Rian???"


Si ibu berseru tertahan karena kekagetannya..mulutnya yang terbuka karena tertawa tiba-tiba dibungkam dengan mulut Adrian.Kejadian yang hanya 2 detik itu benar-benar membuatnya terkejut.


"Maaf bu,saya turun di sini aja,saya pulang naik angkot besok siang sepulang dari sekolah saya ambil motor saya" ucap Adrian seraya membuka pintu mobil dan berlari ke luar menuju jalanan.


Tak berapa lama ia pun mendapatakan angkutan dan segera naik untuk pulang ke rumah.



"Kenapa aku melakukan hal gila kepada ibunya Fajar?"


"Kenapa aku begitu nekat menciumnya?!"


"Aaarrggghhhhh!!"


Adrian begitu frustasi dan jengkel dengan kelakuannya sendiri tadi sore


Tok..tok..tok..


"Kamu kenapa adrian?"


Tanya ayahnya,


"Nggak apa-apa pak,Adrian hanya pusing dengan pelajaran matematika yang tadi diajarkan di sekolah" sahut Adrian berbohong.


"Tumben kamu belajar hahaha" ayahnya menyahuti tidak percaya.


Adrian diam. Ia mencoba untuk tidur dan melupakan kejadian sore tadi.


Adzan subuh membangunkan Adrian dari tidurnya yang gelisah semalaman. Bayang-bayang ciumannya selalu hadir semalaman.Dadanya berdebar kencang.


Takut,gelisah,gembira,menjadi satu mengombang-ambingkan hati dan pikirannya.


Ia bangun lalu keluar dari kamar.


"Motor dan pakaian seragam mu di mana?" Tanya ibunya


"Di rumah Fajar,kemarin waktu pulang kehujanan terus diajak Fajar berteduh dan mandi di rumahnya." Adrian menuangkan air hangat untuk membasahi kerongkongannya yang kering sambil berdiri di sebelah ibunya yang sedang membersihkan sayuran.


"Kok pulang naik angkot?"


"Sebenarnya kemarin di suruh ibu nya Fajar pulangnya nunggu hujan reda tapi saat ibu nya Fajar mau jemput adik-adiknya pulang sekolah saya ikut,saya turun di lamper sari karena adiknya yang kecil sekolah di sompok."


"Nanti pulang sekolah mau ke rumah Fajar ambil motor dan seragam ku Bu."


"Trus pakaiannya Fajar yang kamu pakai itu gimana?
Masak mau kamu kembalikan tanpa di cuci dulu?"


"Pakaiannya Fajar saya kembalikan besok aja kalau sudah bersih Bu."sembari berjalan kembali ke kamarnya.


"Jangan tidur lagi,nanti bangun mu kesiangan."
"Nanti berangkat biar diantar bapak aja ke rumah Fajar sekalian ambil motor mu."


"Nggak usah bu,saya numpang hermawan ke sekolah" sahut Adrian dari dalam kamarnya


Adrian tiduran termenung,tangan kanannya ia tempelkan di dahinya.Alisnya berkerut-kerut menandakan kegalauan pikirannya.


"Bagaimana kalau ibunya Fajar lapor ke suaminya??"


"Bagaimana kalau ibunya Fajar bilang ke Fajar bahwa aku telah menciumnya??"


Pertanyaan ketakutan dan kegelisahan itu selalu menghantui pikirannya sepanjang malam hingga subuh ini.Akibat rasa kantuk yang kuat tanpa sadar Adrian tertidur.


"Rian,bangun..bangun..sudah jam setengah 7 ini kamu nanti terlambat lagi" ibunya mengguncang-guncang bahu adrian untuk membangunkannya."


"Hoooaaammmzzzz" Adrian membuka mata dan menggeliat.


"Cepetan mandi!!!" Seru ibunya.


Bergegas Adrian lari ke kamar mandi.


Tiiiinn..tiiinn..tiiinnn..


"Ndessss!!!"


"Tuh,Hermawan dah datang" kata ibunya.


"Adrian berangkat dulu ya bu,pak"


"Cepet ndes..nanti terlambat" seru Hermawan jengkel.


"Ngebut ya ndes" sahut adrian sambil membonceng.


Di kelas Adrian hanya diam melamun,gurauan teman-teman sekelas yang riuh rendah tidak mampu menggoyahkan perasaan tidak menentu di hatinya,pikirannya terbang tak tentu arah.


"Nanti pulang bonceng aku aja..sekalian ambil motor mu di rumah" tiba-tiba Fajar duduk disebelahnya.


Adrian menoleh,


"Siap!" Jawabnya


"Kenapa kemarin kamu langsung nyelonong keluar mobil dan pulang??"
"Ibu ku khawatir sama kamu"


Pandangan Adrian menerawang jauh.


"Kenapa ibu mu khawatir?" Dia bertanya sambil menunduk dan kedua telapak tangannya menyati di belakang kepalanya


"Entahlah,ibu ku cm cerita tiba-tiba kamu keluar dari mobil trus naik angkot" kata Fajar tak peduli.


"Nanti ambil motor jangan pulang dulu..ibu ku menyuruh mu menunggu beliau" Fajar bangkit dan berlalu dari sebelahnya.


"Ck"


"Mati aku"


"Ada apa ndes?" Hermawan duduk di meja di depan Adrian.
"Ngapain kepala mu kau pukul sendiri,ada tangan teman mu yang kasar ini kalau memang mau diperbantukan untuk memukul kepala mu" kata Hermawan sambil mengusap-usap telapak tangannya.


Adrian tetap menunduk.


Plak!!!


"Asu!!!" Jerit Adrian mengusap kepalanya.


"Hahahahahaha" Hermawan lari keluar kelas sambil tertawa terbahak-bahak.


Adrian sekolah di STM negeri yang terletak di pusat kota Semarang,hanya ada 1 cewek di kelasnya.
Tidak ada yang menarik dari kehidupan sehari-hari bocah kurus dekil itu.
Kulitnya yg coklat kematangan,rambutnya yang selalu awut-awutan dan pakaian yang tidak pernah rapi seolah menjadi trade mark nya.
Hanya 1 buku yang digulung lalu dimasukkan di saku celana belakang yang jadi sumber pelajarannya.Dan buku itu bersih tanpa noda coretan apapun karena dia hanya meletakkannya di meja tanpa berniat menodai buku itu sedikitpun.
Dia lebih senang lari keluar pagar sekolah bersama Chandra temannya untuk menghabiskan waktu di rental PS 1 waktu itu.
Adrian anak yang sedikit cerdas,walaupun bukunya bersih tanpa catatan apapun tapi nilai pelajarannya tidak pernah jelek pun tidak bagus sekali juga.
Di rumah,belajar adalah hal yang tidak dia pahami.
Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar bermain gitar listrik agar bisa seperti gitaris-gitaris idolanya.
Musik Heavy Metal adalah genre yang dia sukai. Iron Maiden,Judas Priest,Led Zeppelin dan grup-grup band semacam itulah yang selalu mengiringi kehidupannya sejak kelas 4 SD.
Dia banyak belajar mengenai kehidupan dari lirik lagu band-band rock.
Remaja idealis dan anti kemapanan yang merasa usia muda adalah masa untuk berani mendobrak sistem dan berkarya.


Kemampuan bermain gitarnya mumpuni dan karena dentingan suara gitarlah cerita asmara usia muda nya dimulai,hentakan musik rock mendobrak gejolak syahwat nya untuk berani berpetualang dan mengeksplorasi dua kata


"CINTA vs NAFSU"
Mantap suhu.. Lanjuuut
 
Tulisan saya sendiri copas dari lapak sebelah..
Mohon koreksi dan dukungan suhu2 di mari..
Nubie mencoba peruntungan dengan iseng2 memberikan cerita.

Bab 1.

"Dhaaaarr!!!"
"Jedheeeerrrr!!!"

Gemuruh guntur dan kilau petir bersahut-sahutan di tengah hari.Langit yg gelap memuntahkan berkubik2 air yang dihempaskan oleh angin kencang.Tengah hari itu langit berkecamuk seakan murka dengan sang bumi yang hanya bisa diam dan pasrah menerima kemarahan..

Di sebuah emperan toko seorang remaja kurus berkulit sawo matang berdiri menunggu hujan reda.Seragam sekolahnya basah kuyup, helm di kepalanya pun tetap menutupi kepalanya seakan enggan untuk dilepas dan motor astrea prima terongok di tepi jalan terguyur air seakan bahagia karena tak pernah dimandiin si empunya..

Remaja 16 tahun itu menggigil dan menyalakan rokok untuk menghangatkan tubuhnya sembari memaki saat cipratan air menghantam dirinya akibat lalu lalang kendaraan.

"Asu!!!"
"Matane ki lho!!"

Umpatan khas ibukota jawa tengah itu berkumandang merdu dari mulutnya.

"Tiiiitt.. Tiiitttt"

Suara klakson motor di depannya memaksa dia menoleh dan melihat seorang pengendara motor yg berhenti.
Pengendada yg memakai jas hujan model kelelawar membuka kaca helmnya dan dengan tawa renyah dia menunjukkan muka girang

"Ayo ke rumah ku"

"Dingin" sahutnya

"Nanti mandi di rumah ku pakai air hangat"
Suara si pengendara setengah memaksa
Remaja kurus langsung menstarter motor nya melaju mengikuti temannya.

Mereka berdua berhenti di depan sebuah rumah berpagar besi..pengendara berjas hujan itu membuka pagar
"Motor mu masukin rian"

Remaja kurus itu ikut memasukan motor nya ke garasi lalu menutup pagar itu.
Si empunya rumah setelah membereskan jas hujan masuk dan kembali membawa selembar handuk..si kurus yg menggigil kedinginan melangkah masuk
"Di mana kamar mandi nya?"
"Itu di sebelah dapur,masuk aja adrian"
Dengan tergesa-gesa dan tergopoh-gopoh karena pakaiannya yang basah kuyup,remaja yang dipanggil adrian itu segera berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah melepas pakaiannya dan bertelanjang bulat dia lalu membuka kran air panas,mandi dan membersihkan diri sembari menghangatkan tubuh kurusnya yg kedinginan.

Setelah mengeringkan badannya si pemuda kurus yang bernama adrian ini kebingungan karena dia lupa kalau tidak membawa pakaian ganti.
"Bagaimana ini?"
Dia mau keluar hanya pakai handuk pun malu karena dia juga tidak tau di mana letak kamar temannya tadi.

Tok tok tok!!
Suara ketukan terdengar,

"Siapa di dalam?"

Terdengar suara merdu seorang wanita bertanya.Mendengar suara panggilan yg agak berat sepertinya seorang wanita dewasa batin adrian

"Saya adrian yang di dalam,saya temannya fajar,tadi fajar ngajakin mampir karena lihat saya kehujanan tapi saya lupa kalau saya tidak punya pakaian ganti"

Tidak terdengar sahutan dari luar,adrian semakin bingung dengan keadaannya,dia cm berdiam diri sembari menempelkan punggungnya di tembok kamar mandi

"Adrian,buka,ini baju gantinya"
Suara Fajar temannya,

"Terima kasih jar"
Adrian membuka pintu setengah sembari menerima pakaian ganti itu.

Keluar dari kamar mandi dia melihat fajar sedang berdiri sambil mengunyah kue kering,
"Ke kamar ku yuk"

Adrian berjalan mengikuti Fajar sambil menggosok rambutnya dengan handuk saat tiba-tiba ada suara yang tadi terdengar saat dia di dalam kamar mandi,

"Teman mu diajak makan dulu fajar"

"Nanti dulu bu setelah fajar mandi,adrian mau ku ajak ke kamar ku dulu" sahut fajar.

Fajar mengambil handuk di kamar lalu masuk ke kamar mandi

Adrian berdiri dan menatap seorang ibu berusia kisaran 42th yangberwajah manis dengan kulit tangan yangputih,gamisnya bercorak bunga sesuai denganj ilbab yang bercorak sama.

"Maaf bu,tadi saya kelamaan di kamar mandi" sapa adrian kepada ibu nya fajar.

"Iya gak apa-apa,tadi ibu ngingetin fajar kalau temannya di kamar mandi nggak bisa keluar karena tidak punya pakaian ganti" jawab si ibu.

"Sana ke kamar dulu,nanti setelah fajar mandi kalian makan bareng ibu"

"Baik Bu"

Jawab adrian seraya berjalan masuk ke dalam kamar fajar.

Setelah fajar selesai mandi,mereka berkumpul di meja makan.
Adrian makan dengan lahap karena kedinginan yg menyebabkan rasa laparnya meningkat.

"Pulangnya nunggu hujan reda saja adrian,main di sini dulu" kata ibu fajar.

"Sepertinya hujannya bakalan lama bu,nggak enak kalau saya kelamaan main nanti saya dicariin kakak saya" jawab adrian.

"Jar..kalau hujannya nggak reda-reda nanti kamu anterin adrian pakai mobil ibu biar dia nggak kehujanan lagi" perintah ibunya ke fajar.

"Siap bos" sahut fajar.

"Adrian teman sekelas fajar?" Tanya ibu fajar

"Iya bu"

"Adrian belum pernah main ke sini ya?"

"Belum pernah bu"

"Yang sering main ke sini itu si fauzi,ari,sama puji"

"Mereka anak-anak yang rajin belajar bu hehehe" kata adrian sambil tersenyum malu

"Emang adrian nggak rajin sekolahnya?" Tanya ibu fajar lagi

"Adrian itu di kelas pendiam bu,tapi sering cabut main PS hahaha" sahut fajar

"Jar!!!" Kata adrian agak jengkel

"Ck ck ck bengal juga km rian" kata ibu fajar sambil beres-beres meja makan

"Biar adrian aja bu..adrian biasa nyuci piring kalau di rumah" kata adrian

"Eh,hei jar..lihat ini..adrian rajin dalam hal lain yang tidak kamu punya" ucap ibu fajar

"Fajar capek kan bu belajar terus masak masih harus nyuci piring??? Adrian kan nggak capek belajarnya hahaha" kata fajar lalu kembali ke kamarnya..

"Ibu nggak kerja?" Tanya adrian iseng sambil mencuci piring

"Hari ini ibu cuti rian..eh.***k papa kan ibu manggil kamu rian?" Jawab Ibu fajar sambil bersih-bersih meja makan

"Nyantai roket bu..heheh" adrian mencoba
bercanda

"Roket aja cepet lho rian mana bisa nyantai hahaha" ibu rian menjawab sambil tersenyum

Buli mata lentik dan pipi yang chubby serta bibir merah muda yg agak tebal diselimuti kulit putih yang bersih membuat senyum ibu fajar terlihat menawan dan mempesonakan si remaja kurus itu

"Hei rian!! Itu piringnya masih banyak..kok cuma 1 itu diairin terus? Hahaha" kata ibu fajar geli melihat adrian yang menatapnya tanpa berkedip

"Eh..eh..iya bu..maaf..hehehe"

Adrian sangat malu karena tertangkap basah sedang terpesona melihat paras manis ibu temannya.

"Rian itu kayak nggak pernah lihat wanita aja..eh ibu lupa..rian sekolah di STM kok ya hahahaha" ibu fajar semakin menggoda adrian.

Adrian hanya tersenyum malu tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.

"Sudah selesai rian?"

"Sudah bu,ditaruh mana ini piring dan sendoknya?"

"Udah biarin aja di situ nanti ibu beresin,kamu mau ke kamar fajar atau menunggu di ruang tamu?"

"Sebenarnya saya nggak akrab sama fajar bu,seperti yang fajar bilang tadi makanya kami di kelas punya semacam geng2 sendiri gitu tapi semua tetap kompak kalau soal kelas"Jawab adrian sambil berdiri menunduk di belakang si ibu

"Duduklah di kursi tamu rian nanti ibu temani,fajar ngapain juga ngajak teman tapi ditinggal masuk kamar" omel ibu nya

Adrian berjalan santai menuju ruang tamu.Pandangannya menyapu bingkai-bingkai foto yang tertempel di tembok,Foto pernikahan orang tua fajar dan foto keluarga fajar terpampang besar di sebelah-sebelahnya foto-foto adik-adik fajar.
Ya..fajar adalah anak pertama dan dia punya 1 adik perempuan dan yang paling kecil laki-laki.

Ayah fajar seorang PNS itu terlihat dari baju seragam yang beliau kenakan di foto yang adrian lihat.

"Apa pekejaan ibu fajar?" Tanya adrian dalam hati

"Adiknya fajar yang cewek bentar lagi pulang,dia sekolah di SMP Negeri 2,yang kecil sekolah di SD Negeri Sompok" terang si ibu sambil duduk di depan adrian.

"Mereka pulang dijemput siapa bu?"

"Klo ibu libur gini biasanya ibu yang jemput mereka,kamu mau ikut nggak? Daripada di rumah saja nunggu hujan nggak reda-reda" tawar si ibu

"Rian mager rasanya bu,efek kekenyangan hahaha"

"Masih sejam lagi kok,mau tiduran di sofa dulu?"

"Nggak usah bu,rian duduk di sini aja,kalau ibu sibuk silahkan dilanjut aja bu"

"Ibu mau bersih-bersih rumah tapi kok rasanya malas..efek kekenyangan juga kali ya? Hahaha"

Kembali adrian terpesona dengan suara tawa merdu dan wajah ceria si ibu.Kecerian wajah itu bagaikan mentari yang mengintip di kala langit mendung menggayung.

"Untung ibu gak lihat saat aku memandanginya" batin adrian sambil memalingkan muka

"Nanti jadi ikut jemput gak rian?" Tanya ibu fajar seperti berbisik

"Eh.." adrian terkaget

"Hahahaha..ngelamunin apa sih kok kaget gt?"

"Ngelamunin ibu" sahut rian agak jengkel

"Ibu ada di depan mu kok dilamunin,ada-ada aja kamu tu" kembail si ibu tertawa ceria dan lagi-lagi adrian terpesona.

"Kenapa sih aku ini" adrian menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mencoba menghilangkan lamunan ya? Hahaha" kembali si ibu menggoda.

Adrian merasa sebal dan gemas.

"Ibu jangan bikin saya gemas"

"Rian gemas kenapa?"

"Ibu godain saya terus"

"Ibu mau ganti baju dulu,rian ikut ibu aja"

Si ibu melangkah masuk ke kamar dan menutup pintu.

Tak berapa lama si ibu keluar kamar.
Menggunakan kaos dan celana panjang serta hijab menutupi dada membuat adrian semakin terpana tanpa sadar adrian mengucap

"Ibu sangat cantik"

Reflek adrian menutup sembari menampar mulutnya sendiri beberapa kali.

"Hahaha..ayo berangkat rian"

"Jar..ibu ajak rian jemput adik-adik mu!!" Teriak si ibu dan tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar fajar.

Di dalam mobil rian duduk di sebelah si ibu,matanya menatap ke jalanan yg penuh air akibat hujan yang tak kunjung reda.

"Kenapa kamu memuji ibu tadi?"

"Eh..maaf bu"

"Ibu kan tanya,kok malah minta maaf"

"Mulut saya reflek bu makanya saya meminta maaf"

"Rian beneran ngalamunin ibu?"

"Nggak kok bu,tadi bercanda aja"

"Kalau bukan ibu yang rian lamunin,nggak mungkin rian reflek ngatain ibu cantik"
"Iya nggak?"

Rian hanya diam,matanya tetap berpaling menatap jalanan.Dalam hati dia mengutuki hatinya yang terpesona dengan ibu temannya ini.

"Ibu kerja di mana?" Tanya adrian mengalihkan pembicaraan

"Hahaha..remaja 1 ini..pintar sekali mengalihkan pembicaraan"

"Ibu kerja di bank swasta rian"

"Oohh..enak dong bu tiap hari pegang uang hehehe"

"Sayangnya..ibu tidak di bagian yang pegang tuh hahaha"

"Ibu ini menggemaskan" adrian kembali berpaling.

"Emang kenapa kalau ibu menggemaskan?"

"Rian mau ngapain ibu klo menggemaskan?"

"Hahaha"

"Kalau saya gemas..saya bisa mencium ibu tau gak?!" Kata rian.

"Enggak tuh" sahut si ibu.

"Hiiiiihhhhhhh" rian semakin sebal dan gemas,matanya tajam menatap si ibu.

Si ibu yang matanya fokus ke jalanan karena kaca mobil yang buram akibat tertimpa air hujan tidak melihat tatapan tajam penuh kesebalan remaja kurus yang duduk di sebelahnya.

Setelah mampu meredakan kegemasannya mata rian kembali berpaling ke jalanan

Mobil itu masuk ke halaman sekolah dan parkir..mereka datang lebih awal dari jadwal kepulangan murid SD negeri.

Mereka menunggu terdiam di dalam mobil dengan pikiran masing-masing.

"Aaahhh" tiba-tiba adrian mendesah.

"Hayoooo..ngalamunin apa anak bujang ini?? Hahaha" Kembali si ibu menggoda sambil melihat ke arah adrian

Adrian hanya diam dan menatap tajam si ibu.

"Hahaha..rian makim gemas ya..." Mulut si ibu terbuka tertawa senang.

"Cup..mmmpphh"

Mata si ibu melotot kaget

"Rian????"
Mantaaaaaap
 
Bab 6.


"I feel wonderful
Because I see the love light in your eyes
And the wonder of it all
Is that you just don't realize how much I love you"



Sebait lagu dari Eric Clapton dinyanyikan seorang remaja kurus itu di depan seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik malam itu.


Setelah acara makan bersama selesai,Adrian pindah ke ruang tamu dan memetik gitar sambil bernyanyi lirih. Fajar dan adik perempuannya masuk ke dalam kamar. Seorang anak kecil berusia 8th bersimpuh di bawahnya sambil mengerjakan PR.


Mata remaja itu seakan enggan berpaling dari paras cantik berpipi chubby yang menatapnya sambil tersenyum simpul.


"Jangan pernah berani mengatakan kalau kamu jatuh hati pada Ibu,Rian." Kata Bu Kartika lirih.


"Apa yang menyebabkan ibu begitu percaya diri mengatakan itu?" Tanya Rian santai.


"Ibu wanita dewasa,sudah pasti ibu tau perasaan mu walaupun kamu tidak mengatakannya." Sahut si ibu semakin lirih,tangannya bersedekap.


"Tidak perlu saya mengatakannya kan Bu?"


"Ibu membalas ciuman saya, itu sudah menyatakan kepastian penerimaan ibu atas perasaan saya" lirik Adrian sambil tersenyum bahagia.


Bu Kartika menundukkan badan,kedua telapak tangannya menutupi wajah.


"Ibu membalas ciuman mu hanya karena ibu lama tidak pernah merasakan itu..ciuman lembut penuh perasaan itu pernah ibu dapatkan bertahun-tahun lalu..sekarang tidak lagi..dan kamu..kenapa kamu selalu mencium bibir ibu saat kita ketemu??"tanya Bu Kartika penasaran


"Karena saya selalu gemas sama Ibu"jawab Adrian sambil memetik gitar


"Ibu sudah bersuami dan anak ibu pun teman mu,Rian" ujar Bu Kartika berseru lirih


"Saya hanya mengungkapkan kegemasan saya sama ibu..itu saja" Adrian semakin tenang dan percaya diri.


"Tidak saat Rian mencium Ibu di dapur tadi" ketus Bu Kartika


"Ciuman mu tadi adalah ungkapan perasaan mu ke Ibu"


"Ciuman mu tadi menyatakan kamu mencintai Ibu teman sekelasmu!"


Anak kecil yang berada di tengah mereka seakan tidak peduli dengan pertentangan kecil di atas kepalanya. Dia tidak paham dan sibuk dengan PR nya.


"Saya pulang dulu Bu."
"Terima kasih atas makanannya"


Adrian bangkit berdiri dan melangkah keluar,berjalan di samping mobil yg terparkir di garasi yang berada di sebelah kiri pintu ruang tamu.


Bu Kartika mengikutinya,lalu menarik tangan Adrian ke depan pintu garasi


"Mmmpphhh"
Bu Kartika melumat bibir remaja kurus itu,
Keduanya berciuman dengan ganas di depan pintu garasi hingga,


"Bu?!" teriak Radit,anak Bu Kartika yang terkecil.


Mereka kaget dan menghentikan ciuman.Dada Bu Kartika bergemuruh,gairahnya memuncak,puting payudaranya mengeras hanya karena berciuman dengan remaja seusia anak pertamanya.
Wajah Adrian memerah akibat gairah muda dan nafsunya membuncah,terasa sakit di pusat selangkangannya karena terjepit segitiga pengamannya sendiri.


"Iya Dek!!" Jawab Bu Kartika berjalan masuk ke dalam rumah.


Buru-buru Adrian mengeluarkan motor dan meninggalkan rumah Bu Kartika.


"Don't you need some love tonight?
I do, yes I do
Don't you need some love tonight?
How can we stand the heat
When love is all we need?



When passion rules the game (yeah, yeah - ooh)
I ain't got no control, when my heart's in flames
Passion rules the game (yeah, yeah - ooh)
I ain't got no control, when my heart's in flames"




Lagu Scorpion menghentak di tape butut bermerk Tens yang berada di belakang samping meja belajar kayu.



Remaja kurus itu terlihat sibuk dengan novel-novel romansa karya Abdullah Harahap,Motingo Busye,Enny Arrow dan Freddy. S yang ia pinjam dari rental buku langganannya.



Remaja kurus itu ingin belajar dari novel bagaimana percintaan dan bercinta itu akan dia hadapi nanti saat bersama bidadari setengah baya yang selalu mengganggu hati dan birahinya.



Saat ini dia belum tau dan belum mampu membedakan apakah rasa yang timbul di dalam hatinya adalah sebuah CINTA???



Apakah keinginannya untuk selalu menikmati bibir agak tebal Bu Kartika adalah gejolak NAFSU??



Dia hanya merasa bergembira,hidupnya seakan berwarna dan ceria. Keinginan untuk bertemu semakin menyiksa kalbu.



Adrian,remaja kurus dan pendiam bagaikan sebatang pohon kecil mendapatkan air dan pupuk sekaligus.



Passion rules the game!
Sukaaaaaaa
 
Bab 9


Keduanya memejamkan mata, mengatur nafas yang tersengal-sengal setelah pendakian mereka mencapai puncaknya.
Penis Adrian masih bersarang di vagina Bu Kartika.
Kedua tangan Adrian memegang kedua tangan Bu Kartika lalu merangkulkan ke depan perut Bu Kartika. Bibirnya mencium lembut rambut Ibu temannya yang mencuri seluruh pikiran dan gairahnya.

"Apakah Ibu sudah menemukan jawaban atas pertanyaan Ibu sendiri?" Tanya Adrian dengan sedikit tekanan.

"Ibu menemukan sesuatu tapi tidak akan mengatakannya sayang" jawab Bu Adrian masih memejamkan mata.

Sikap Adrian yang terlalu romantis baginya, seakan mampu menghapus status sosialnya sebagai seorang ibu dan istri. Ia merasa seperti seorang wanita muda yang dilanda asmara sekaligus gairah yang menggebu. Ia adalah seorang wanita yang selalu butuh ungkapan kasih sayang dan pemuasan hasrat seksualnya yang tidak dia sadari ternyata sangat tinggi.

Adrian memalingkan muka Bu Kartika melumat bibirnya lembut dan penuh perasaan. Pelukan di tubuh telanjang itu semakin erat. Bu Kartika membalas ciuman Adrian,jari-jari kedua tangannya meremas tangan kurus di perutnya, seakan menegaskan bahwa ia mempunyai perasaan yang sama dengan perjaka bau kencur itu.

"Bercinta dengan Ibu ternyata di luar imajinasi saya saat membaca novel Enny Arrow" kata Adrian sambil terkekeh

"Kenapa kontol mu menegang kembali sayang?" Goda Bu Kartika.

Entah kenapa,dia ingin mendominasi Adrian kalau mereka bercinta lagi. Dan sepertinya keinginan itu dikabulkan oleh penis remaja kencur itu.

"Karena kontol ku sepertinya tau kalau ibu membalas perasaan saya" kata Adrian sambil menggoyangkan pinggulnya"

"Saatnya kamu mendapatkan serangan balik sayang" desis Bu Kartika. Membalikkan tubuhnya langsung melumat bibir Adrian dan berjalan maju membuat Adrian mundur hingga pantanya tertahan meja kecil dibelakangnya.

"Mpppphhh"

Tontonan video porno yang sering dia tonton bersama suaminya,membuat angan yang selama ini tidak bisa ia laksanakan dan hanya dipendamnya, karena suaminya selalu membuat ia harus menerima kodrat sebagai seorang wanita yang harus dibawah,menurut dan menerima perlakuan pria.

Adrian adalah objek yang selama ini dia cari. Dengan Adrian ia akan menjadikan impian seksualnya menjadi kenyataaan.

Jemari tangan Bu Kartika mengelus lembut biji peler Adrian,bibirnya semakin ganas melumat bibir Adrian.

Adrian hanya mendesis keenakan akibat serangan Bu Kartika,jemarinya mencengkeram kuat ujung meja dibelakangnya sambil memejamkan mata.

Bibir Bu Kartika mengeksplor leher Adrian dengan ganas,gairah Bu Adrian meningkat pesat,ia terbakar imajinasi liar syahwatnya sendiri.

Tidak sabar, Bu Kartika menurunkan wajahnya tepat di depan penis Adrian yang telah mencapai ketegangan maksimal.
Tangan kanannya memegang ujung penis itu.
Dengan bernafsu dia menyedot kepala penis remaja itu,

"Oooouuhhhhh" Adrian mendesah antara geli dan ngilu di kepala penisnya.

Mata Bu Kartika menatap binal wajah Adrian,lidahnya menyusuri penis itu dari bawah ke atas berulang kali.

"Mmmmmmhhhh...aaahhh.." desahan Adrian semakin seakan menjadi penyemangat mulut Bu Kartika untuk memasukkan penis Adrian ke dalam mulutnya.

"Glok..glok..glok"

Suara sedotan dan kuluman mulut Bu Kartika beriringan dengan gerakan maju mundur kepalanya saat mengoral penis Adrian.

"Ooouuuhhh..oooouuuhh..enak banget mulut Ibu"

"Kontol ku sepertinya akan kecanduan dengan sepongan Ibu" kata Adrian menggoda binal.

"Glok..slurrpp..glok..slurp"

Bu Kartika menjawab godaan Adrian dengan aksi oral yang semakin menggila. Mulutnya seakan tanpa kenal lelah untuk merobohkan pertahanan Adrian.
Dijepitnya penis itu di antara belahan payudaranya,tangannya menaik turunkan payudaranya seperti mengocok penis itu,lidahnya menjulur menjilat lubang penis Adrian. Matanya menggoda menatap Adrian.

"Ssssshhh..eeehhhh..kenyal banget tete ibu"

"Enak banget bu...aaaaahhhh"

Desisan dan desahan Adrian semakin membakar gairah Bu Kartika. Cairan kewanitaannya menetes perlahan tanpa henti. Di remasnya pantat Adrian,mulutnya maju mundur semakin cepat dan liar.

Ia heran sekaligus senang karena remaja itu mampu bertahan dengan baik.

Ia lepaskan penis itu dari mulutnya,ia dorong tubuh Adrian duduk di meja tertahan tembok. Bu Kartika naik ke atas meja,berjongkok,dipangku Adrian,vaginanya tepat di atas penis Adrian. Tangannya menggerakkan penis Adrian menggesek-gesek vaginanya.

"Sssshhhh..uuuuhhhh"

"Mari kita lihat berapa lama kontol mu dapat bertahan sayang" desis Bu Kartika seraya menindih dan memasukkan penis yang telah mengeluarkan cairan pre-cum nya.

"Aaaaahhhhh..Riiaaann.."

Adrian hanya diam memfokuskan diri untuk mempersiapkan pertahanan terbaiknya. Ia tau bahwa Bu Kartika akan melakukan segala cara untuk menaklukkan penisnya.

"Eeeehhhhh"

Bu Kartika berdiam diri menikmati penis keras di dalam memeknya. Kedutan penis dan kedutan vaginanya terasa begitu nikmat.

"Kenapa kamu nekat mencintai Ibu teman mu sayang?"

"Ssshhh..aahhh" pantat semok itu mulai bergerak lembut naik turun.

"Aaaahhh..Ibuuu"

Adrian tidak menjawab pertanyaan itu,ia melumat bibir yang terlihat seksi di matanya dengan lembut,kedua tangannya meremas kuat payudara besar yg tersaji di depannya.

"Rian,kamu semakin nakal" desis Bu Kartika

Tangan Bu Kartika diletakkan di kedua pundak Adrian,ia percepat gerakan pantatnya. Adrian menjilat kedua puting yang mengacung itu bergantian.

"Oooouuuhhhhhh"

"Ini nikmat banget sayang"

"Aaaaaahhhhhh"

Kepala Bu Adrian mendongak tajam ke atas,matanya memejam,gerakan pantatnya semakin tidak beraturan. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kenikmatan seksual dari seorang remaja bau kencur yang tidak punya pengalaman bercinta. Ia banyak mendapat informasi mengenai Adrian dari anaknya.

Niatnya untuk membuat Adrian menyerah malah berbalik. Ia yang kini merasakan cairan kewanitaannya semakin membanjir.

"Oooouuuhhh..uuuuhhhh..ooouuuhhh" desahannya semakin tidak terkendali.

Serangan Adrian di kedua payudaranya mengakibatkan gelombang besar kenikmatan di dalam vaginanya.

"Riaaaan..aaaahhh..sssshhhh..oooouuuhhh"

"Serrr..serrr..serrr"

Bu Kartika ambruk,tangannya merangkul erat leher Adrian,nafasnya tersengal-sengal,detak jantungnya berdegup kencang.

Adrian memeluk pinggang Bu Kartika,mencium bibirnya lembut dan mengusap-usap punggung putih bersihnya.

Tanpa bicara,Adrian membalikkan tubuh putih mulus itu tanpa melepaskan penisnya di dalam vagina Bu Kartika,Bu Kartika hanya mampu bergerak mengikuti keinginan Adrian. Adriang beringsut memajukan pantatnya hingga diujung meja,kakinya dilebarkan,kaki Bu Kartika dirapatkkan,diturunkan ke lantai.

Adrian berbaring di atas meja,ia pegang pinggang Bu Kartika dan sedikit mengangkatnya. Bu Kartika yang masih lemah hanya bisa mendesah saat penis Adrian kembali menghujam vaginanya darj bawah.

"Aaaahhh..Riaaaannn..ini gila..ooooohhhh..ini nikmat sekali sayang..aaaaaahhh"

Jeritan kenikmatan tidak bisa ditahan dari mulut Bu Kartika. Yang dilakukan Rian berkali-kali lebih dari ekspektasinya. Kenikmatan ini sepertinya akan selalu ia inginkan di kemudian hari.

Plok..plok..plok..

Sodokan keras dengan ritme yang tidak stabil membuat gelombang gairahnya kembali datang, sambil meremas payudaranya sendiri, Bu Kartika semakin lepas kendali.

"God..aaaaahhh...My God..ooouuuuhhhh.."

Jeritan kenikmatan coba ia tahan agar tidak menimbulkan kegaduhan. Sodokan penis itu begitu dalam menembus relung kenikmatan vaginanya.

Tiba-tiba Adrian mengangkat tubuh Bu Kartika dan melepaskan penisnya,ia balik posisi mereka,tangan Bu Kartika memegang ujung meja,kaki kirinya diangkat dan ditahan lengan Adrian dan,

Jleeebb!!

"Aaaaaahhhh...Riaaaaaannn"

"Mpppphhhhh"

Bu Kartika yang awalnya kecewa dan bingung seketika menjerit,mulutnya yang terbuka seketika disumpal dgn lumatan bibir Adrian.

"Eeerrrrggghh...eeemmhhhh"

Adrian yang kurus punya tenaga yang berlipat setelah nafsunya semakin tidak terkendali.

"Aaahhhh..aaahhhh...aaahhh" desahan bersama kedua insan yang sedang bercinta membuat AC ruangan itu seperti rusak,keduanya berkeringat,suhu tubuh keduanya semakin naik,

"Eeeehhh..eeehhh..eeeehhh"

"Saya sudah nggak bisa menahan Bu" kata Adrian dengan deru nafas yang berat.

"Ouuuhhhh..ooouuuhhh..ooouuuhhh"

"Saya hampir sampai sayang" sahut Bu Kartika.

"Oooooohhhhhhh...aaaaahhhhh.." lolongan kenikmatan kedua insan berbeda usia itu terdengar hampir bersamaan. Adrian menurunkan kaki kiri Bu Kartika ke lantai.

"I love you Kartika Puji" bibir Adrian kembali menicum bibir yang tidak pernah membuatnya bosan.

Bu Kartika tidak merespon ucapan Adrian,dia tidak tau apakah dia bisa jatuh cinta kepada seorang remaja. Dia ingin membalas perasaan remaja itu tapi dia sadar dengan keadaan dan kondisi mereka. Dia merasa bersalah karena hanyut dalam gairah asmara dan birahinya terhadap remaja itu. Dia menyadari telah hanyut terlalu jauh,tapi dia meyakini kalau situasi ini bisa ia atasi.

Bu Kartika bergerak ke arah dipan yang masih belum ternoda oleh keringat mereka, ia memejamkan mata karena kelelahan. Usia tidak akan pernah mampu membohongi kerapuhan fisik kita,demikian dengan Bu Kartika.

Kenikmatan itu berujung rasa lelah dan kantuk yang tidak bisa ia tahan. Ia pun terlelap dengan senyum yang menyungging di bibirnya.

Adrian ke kamar mandi dan membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi ia segera menghubungi resepsionis untuk memesan makanan. Haus dan lapar baru terasa setelah 2 jam lebih bercinta.

"Uuuuggghhh..hoaaammzzz"

Bu Kartika menggeliat terbangun,ia mengucek matanya dan kemudian membukanya.

"Sudah bangun Bu?" Pertanyaan bodoh ditanyakan Adrian.

"Ibu lapar sayang" kata Bu Kartika sambil mengelus perutnya yang keroncongan.

"Jam berapa ini Rian?" Kembali Bu Kartika bertanya.

"Mandi dulu Bu..ini ada makanan,sekarang sudah jam 6 sore" sahut Adrian sambil menonton tv.

"Kita akan menginap di sini atau pulang Bu?" Tanya Adrian setelah Bu Kartika keluar dari kamar mandi.

"Tadi pagi saya sudah bilang ke Bapak kalo menginap sehari" kata Bu Kartika hanya mengenakan celana dalam dan baju putih yang hanya dikancingkan 2 dibagian bawah,sehingga menampakkan payudaranya yg besar dan mulus.

"Jadi malam ini kita menginap sehari di sini sayang" katanya lagi sambil mulai makan.

"Saya belum mengabari orang tua saya kalau saya tidak pulang ke rumah bu" sahut Adrian

"Bolehkah saya pulang sebentar untuk bilang ke orang tua saya Bu?"

Bu Kartika menoleh tidak senang,dilanjutkan makannya sampai habis.

"Ibu kasih waktu 1 jam, kalau dalam 1 jam kamu tidak kembali ke sini,Ibu tidak akan mau menerima mu lagi" kata Bu Kartika tegas.

Adrian bangkit lalu berpakaian,

Ia kecup kening Bu Kartika,

"Tunggu Rian di sini sayang"

"Rian akan kembali kurang dari 1 jam"

"Mmmppphhh" ia melumat bibir Bu Kartika,melepaskannya lalu ke luar kamar.

Setengah jam kemudian,

Tok..tok..tok..

Ketukan pintu kamar membuat Bu Kartika bangkit,membuka sedkit korden jendela kamar dan mengintip ke luar.

Ceklek!!

Bu Kartika membuka kunci pintu,membuka sedikit lalu berdiri di belakang pintu.

Adrian bergegas masuk ke kamar.

"Tumben tadi Fajar ke rumah saya Bu" ujar Adrian sambil meminum air mineral yg terletak di meja.

"Fajar bukan teman yang akrab dengan saya,jd mengherankan tiba-tiba dia main ke rumah mencari saya." Adrian melanjutkan.

Bu Kartika bangkit seakan tidak peduli dengan cerita Adrian. Dia mencium bibir remaja yang telah berhasil membuatnya lemas dalam kenikmatan.

"Cup..mmmmpphh" ia melumat mesra bibir Adrian.
Adrian membalas ciuman itu sambil tangannya meremas pantat semok Bu Kartika.

"Apakah kamu takut Rian?" Tanya Bu Kartika,tangannya mengusap lembut dada Adrian.

"Takut apa Bu?" Adrian balik bertanya.

"Takut kalau Fajar mengetahui hubungan ibunya dengan mu" jawab Bu Kartika,lidahnya leher remaja kurus itu.

Mata Adrian menatap tajam ke depan. Otaknya otomatis memikirkan segala kemungkinan andai Fajar mengetahui hubungannya dengan Bu Kartika.

Cup..

Bu Kartika mengecup lembut pipi Adrian,

"Sebelum semua yang kau pikirkan terjadi,marilah kita nikmati saat ini Rian. Ibu tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan mu. Entah Ibu mencintai mu atau hanya menyukai mu tapi ibu menikmati bercinta dengan mu" ucap Bu Kartika lalu mundur dan melepas kancing bajunya secara perlahan bagai penari striptease yang menggoda lelaki hidung belang.

Adrian segera membuang kekhawatiran yang sempat memainkan pikirannya setelah melihat keseksian dan godaan wanita paruh baya yang sedang meremas sendiri kedua payudaranya.

Ia pun melepaskan baju dan celanyanya dengan cepat lalu menghampiri Bu Kartika yang sedang teebakar birahi. Didorongnya pelan tubuh Bu Kartika sehingga terjatuh di kasur.

Pergumulan babak ke 3 kembali terjadi.
 
Bimabet
Mantep banget ceritanya, apa fajar juga punya hubungan sama ibunya Adrian yah
 
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd