Agen Terpercaya
Mandala Toto   Jackpot 86
Balaksix   Messipoker
Agen 18   Dunia Jackpot
IBO Play   CMD Play
JP Dewa
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

FANTASY MOSQUITO [LKTCP 2021]

Shibuya

Senpai Semprot
Thread Starter
Daftar
2 Oct 2014
Post
793
Like diterima
321
Lokasi
Ichinomiya Tres Spades Hotel & Casino
MOSQUITO


245957722_1015826299199674_3765037473037757955_n.jpg


Nguuung... Nguuung.... Nguung...

Seekor nyamuk terbang cantik dengan sayap kecilnya. Emisi karbondioksida menuntunnya memasuki sebuah ruang kelas melalui ventilasi kecil yang berada di atas pintu. Mendekati hiruk pikuk mahasiswa yang pagi itu begitu bersemangat memulai aktifitas.


Makhluk kecil itu beberapa kali hinggap di permukaan kulit, namun terasa begitu sulit karena sang manusia bergerak dengan lincahnya. Bercengkrama, menyanyi, belajar presentasi, melompat kegirangan. Sungguh sangat sulit dihinggapi.


Seolah mempunyai semangat yang sangat tinggi, ia tak menyerah terus terbang mencari mangsa baru.
Sensor panas membawanya pada salah satu manusia yang terlihat cukup minim gerak.

Seorang gadis berambut sebahu yang sedari tadi hanya bertopang dagu sambil menjentik-jentikan jemarinya di permukaan meja. Kadang mata bulatnya bergulir ke kanan kiri, bahkan ke atas.
Sepertinya gadis berusia 20 tahun bernama Meru itu sedang berpikir keras tentang sesuatu.

Tapi ia masih belum sadar telah ditargetkan seekor nyamuk betina yang sedang kelaparan.
Serangga itu kian mendekat, hampir sampai dan bersiap merobek kulit leher putih itu.


Nguuuuung... Nguuuuggggg...


Namun...

Csssssssh


"Waaaa!!" Bunyi itu membuat gadis tersebut berjingkat. Sedangkan nyamuk jatuh seketika di permukaan meja. Tapi si gadis langsung terbatuk-batuk sembari menatap kesal ke arah gadis lain yang kini sudah di samping mejanya tertawa terbahak-bahak.


Gadis ceroboh itu sepertinya baru saja menyemprotkan racun serangga yang membuat pernapasannya terganggu barusan. Terbukti di tangan gadis itu menggengam kaleng spray kecil bergambar serangga.


"Namiiiii!" Meru Melotot tapi malah terlihat imut. "Ini sama sekali tidak lucu! Bagaimana kalau terkena mataku?!" Rutuknya kesal.


Nami nyengir canggung. "Maaf maaf, habisnya aku melihatmu melamun dari tadi, sampai tidak sadar ada nyamuk ke arahmu." Gadis tomboy itu lalu mendekat dan mengamati bangkai nyamuk yang telah terjatuh di meja Meru.


"Meru lihat! Dia benar-benar mati!"
Meru yang masih kesal hanya melirik malas sahabatnya itu.


"Lagipula kenapa harus begitu heboh? Semua pestisida diciptakan untuk membunuh serangga."


"Heeeeh...kau ini benar-benar kurang informasi? Hidupmu hanya untuk berpikir bagaimana cara mengencani Kyoshiro si patung es itu?" Nami mencibir. "Bahkan kau tidak tau baru-baru ini pestisida hanya bisa membuat nyamuk pingsan?"


Meru kembali ke tempat duduknya lemas, dan menanggapi Nami asal-asalan, "Haa...benarkah?Aku pikir nyamuk di jaman sekarang sudah mempelajari ilmu kebal dari internet." Ia mulai berpangku dagu lagi.


Nami meliriknya sewot, "Terserah kau saja, aku tidak akan mengajakmu bicara lagi." Dia kesal mendengar jawaban Meru. Ia pun memilih mengamati kaleng pestisida itu dengan kagum.


"Waaah bukankah ini produk baru buatan perusahaan keluarga Kyoshiro?"


Mendengar nama pemuda pujaannya disebut, Meru tersentak menoleh, melihat sekilas produk itu lalu merebutnya dari tangan Nami. Tiba-tiba dia punya ide untuk mendekati Kyoshiro.


"Nami chan, aku pinjam sebentar ya." Berbeda 190° dari keadaannya barusan. Meru tiba-tiba bersemangat dan langsung pergi membawa kaleng pestisida itu meninggalkan Nami yang hanya melongo tak mengerti.


"Tap tapi itu milik kelas." Nami sedikit berteriak. Percuma, suaranya tertelan suara bising teman-temannya. Ia hanya mengedikan bahu lalu bergabung untuk bergosip dengan yang lain.


Sementara itu, nyamuk yang dikira sudah mati perlahan menggerakan kaki depannya. Disusul kaki-kaki yang lain, lalu berguling menopang kembali tubuhnya. Ia mulai mengepakan sayap kecilnya, lalu terbang kembali menuju kerumunan.
Tidak lama suara teriakan perempuan terdengar dari sana.


"Kyaaaaaarrghhhh."


MOSQUITO
AUTHOR : SHIBUYA
RATING : Mature, 20+
GENRE : FANTASI





MERU
245896873_1015995135849457_3818117461350704474_n.jpg


KYOSHIRO HARADA
245716929_1015825922533045_8765380098714617351_n.jpg


Taro Motomiya
246481416_1015826142533023_5875578096793277856_n.jpg


"Kyoshirooo...!!"


Suara melengking itu hanya membuat seorang pemuda yang sedang fokus membaca buku di taman melirik ke sumber suara, tak tertarik pada gadis yang melambaikan tangan lalu berlari ke arahnya.


"Kyoshiro selamat pagi." Gadis itu memiringkan kepala di depan wajah Kyo menyapa ceria. Tanpa permisi duduk di samping si pemuda yang hanya menjawab "Hm." Malas. Ia tampak tidak suka dengan kedatangannya.


Meski begitu Meru Takahashi tidak peduli, "Kyoshiro, lihatlah ini." Ia mengeluarkan kaleng pestisida kecil dan menggerak-gerakannya di depan wajah Kyo. Kyoshiro melirik sebentar, menghela napas lalu kembali fokus pada bacaannya.


"Ini produk terbaru dari perusahaanmu kan?" Dengan mata berbinar ia menunggu jawaban si pemuda.


Tak ada tanda-tanda mau menjawab senyum lebar hilang dari bibir Meru. Tak patah semangat dia mencoba lagi, "Wah aku sangat kagum dengan ini, kau tau? Dia membunuh nyamuk hanya dengan 3 detik." Meru menggunakan ketiga jarinya. "Aku heran kenapa semua produk dari perusahaanmu begitu mengaggumkan dan sempurna?" Bualnya mirip sales promotion girl, Kyo berpikir posisi itu cocok untuk Meru.


"Aku sedang sibuk." Hanya kalimat itu yang akhirnya keluar dari bibir pemuda yang minim ekspresi tersebut.


Dahi Meru berkedut. Sulit sekali membuat topik menarik bagi Kyo, tapi ia masih belum menyerah. "Aku sangat berterima kasih karena perusahaanmu telah menciptakan produk luar biasa ini."


"Berterima kasihlah pada ayahku."
Lagi-lagi Kyoshiro membuatnya bungkam. Tidak masalah Meru akan terus berbicara selama masih bernapas, tapi baru saja akan membuka mulut suara seseorang menginterupsinya.


"Meru, kau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana."


Degh


Jantung Meru berhenti sesaat mendengar suara yang tak asing baginya. Suara dari seseorang yang paling tak ingin dia temui di dunia ini.


Gadis itu menunduk seketika, tatapannya jatuh pada lantai bermotif segi lima. Meru melirik sedikit, di sana melihat sepasang air jordan dior yang sudah pasti ia kenal siapa pemiliknya.


Meski begitu matanya tetap membulat melihat sosok tuan mudanya yang berbadan tinggi tegap itu sudah berdiri di sana. Padahal dua tahun yang lalu dia pindah ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan, tapi entah kenapa sekarang dia pulang.


"T-tuan muda?" Lirihnya terdengar gelisah.
Kedatangan pemuda yang dipanggil tuan muda oleh Meru itu juga mengusik perhatian Kyoshiro, pemuda dengan tatapan lembut itu kini menajam melihat siapa yang datang.


Taro Motoyama, rival lamanya telah kembali. Mereka adalah ujung tombak tim basket masing-masing di sekolahnya dulu. Bahkan Orang menyebut pertandingan antar tim keduanya adalah el clasico. Masa lalu tim mereka masih terbawa sampai sekarang.


Suasana mendadak canggung.
"Hei kenapa kalian menatapku begitu?" Tanya Taro sinis sekaligus memecah keheningan. "Kyoshiro, kau tidak menyapaku?" Ejeknya sambil meletakkan telapak tangannya di pundak Kyo.
Kyoshiro tampak muak dan menepis tangan Taro di pundaknya hingga terlepas tanpa keluar sepatah kata pun dari mulutnya.


Taro berpura-pura memasang wajah sedih. "Waaah...kasar sekali, sejak kapan si culun ini menjadi seperti ini?"


"Jika sudah selesai pergilah." Suara tegas yang disukai Meru itu membuat Taro mengendikan bahu tak peduli.


"Baiklah lagipula aku tidak ada urusan dengan pecundang sepertimu. Aku hanya ingin bertemu kelinci kecilku." Sambil mengatakannya Taro merendahkan tubuh, merangkul bahu Meru dan menatapnya.


Otomatis hidung Taro hampir menempel di pipi Meru. Bahkan gadis itu bisa mencium aroma leather yang berkelas dari kulit Taro.


Aksi tersebut disaksikan Kyoshiro melalui lembaran-lembaran ujung buku yang dibacanya, dia boleh bilang tidak peduli. Tapi Meru tampak tak nyaman membuatnya memperhatikan diam-diam. Itu terlihat dari si gadis yang berkali-kali menggigiti bibir sensualnya.


Berada di posisi itu memang membuat Meru risih, lantas dia berdiri. Mau tidak mau Taro mengikutinya juga. "Maaf aku harus pergi tuan." Mengabaikan keberadaan Kyoshiro yang tadi membuatnya datang ke tempat ini, Meru melangkah pergi untuk menghindari Taro.


Tapi sebelum terlalu jauh melangkah lengan Meru lebih dulu ditahan. "Hei buru-buru sekali? Kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan." Mengabaikan ringisan Meru yang merasakan sakit di bagian lengan, Taro menarik gadis itu agar mendekat padanya.


"T-tuan muda sakit." Meru berontak, ia menolak tapi tenaganya tak cukup kuat untuk beranjak. Malah detik berikutnya Taro menariknya dengan kasar agar mengikuti ke mana pemuda kaya raya itu melangkah.


"Kyoshirooo...." Rengek Meru saat ia dibawa.


Kyoshiro sedikit tersentak melihat Meru diperlakukan kasar, apalagi saat gadis itu memanggil namanya dengan tatapan memohon untuk diselamatkan. Tapi ia sendiri kesal dengan gadis yang setiap hari mengganggunya tersebut, lagipula itu bukan urusannya kan? Taro adalah majikan Meru yang merupakan anak dari kepala asisten rumah tangga keluarga Motoyama. Jadi Kyoshiro berpikir biarkan saja kedua orang itu mengurus urusan mereka.


Taro sudah cukup jauh menarik paksa Meru bersamanya. Setelah beberapa saat berjalan kini dia menemukan kelas kosong. Taro berpikir itu adalah tempat yang cocok untuk melepas rindunya pada Meru. Lebih tepatnya melecehkan Meru.


Brukh!


Permukaan tembok yang keras langsung mengenai tubuh bagian belakang Meru saat Taro mendorongnya ke sana. Belum habis mengaduh, masing-masing tangannya sudah diletakkan ke dinding samping kepalanya. Mengunci agar Meru tak leluasa bergerak.



Taro menarik salah satu sudut bibirnya menatap Meru dari ujung kaki bersneaker putihnya, celana pendek berwarna sage green yang memamerkan paha mulus itu, hingga atasan tank top ketat yang menonjolkan betapa besarnya payudara Meru. Luarannya jas berwarna senada dengan celana yang ia kenakan.

245961766_1015825679199736_7308715999175156204_n.jpg

Meru menggigit bibir, memalingkan wajah karena tidak nyaman dipandang majikannya dengan pandangan liar. Tapi usahanya itu malah menjadikan lehernya sebagai sasaran empuk dari Taro Motoyama yang langsung menciumi dan menjilatinya.


Tak ingin menyia-nyiakan dua buah dada yang menggantung Taro menggunakan kedua tangannya untuk meremasnya meski resikonya adalah tangan Meru yang terbebas.


Benar saja, Meru berusaha mendorong pundak Taro. Tapi tenaganya yang tak sebanding itu sama sekali tak membuat tubuh Taro bergeser. Malahan Taro semakin menekan tubuhnya, menghimpit mempersempit gerakannya.


Tak hanya itu, Taro juga sempat melolosi pakaian Meru. Dia buang outer Meru ke lantai menyisakan tanktop putih berpotongan rendah yang membuatnya menelan ludah, karena sebagian daging kenyal itu terekspose bebas.


"Ugh! Hentikan!" Menjerit dan berusaha memukul saat Taro menyingkap tanktopnya, tapi tak berarti apa-apa bagi si pemuda.


Detik berikutnya malah Taro menenggelamkan kepala di belahan dadanya, menghirup dalam-dalam aroma lavender bercampur keringat yang menguar dari kulit Meru. Aroma yang menantang kelelakian Taro seolah mengundangnya untuk melakukan lebih dari ini.


Entah dengan gerakan profesional yang seperti apa, dada besarnya sudah lolos begitu saja dari bra yang Meru pakai. Dan itu memudahkan Taro untuk segera mencicipi rasanya.


"Kau tau aku sangat merindukan ini?" Bisik Taro dengan napas hangat memburu. Meru hanya menggeleng, memejam, menahan segala rasa yang akan dia terima seperti yang sudah-sudah.
"Eeemmmmhh...." Dia melenguh dan seluruh rambut di permukaan kulitnya meregang saat lidah basah si tuan menyentuh puncak dadanya. Seolah sengaja, Taro meruncingkan lidah dan membuat gerakan menggelitik puting Meru hingga membuat si pemilik mendesis tertahan.


Ini bukan yang pertama, anak dari majikannya ini sudah melecehkannya dari mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan Meru tidak pernah memberi tahu siapapun atau ibunya akan kehilangan pekerjaan.


Meru sudah tidak punya Ayah lagi, dia hanya mengandalkan ibu. Oleh karena itu dia memilih untuk menyimpanya agar kehidupan mereka tetap baik-baik saja di pinggiran istana Motoyama.


Tangan Taro semakin nakal, dia membelai kasar paha Meru, menelusupkan salah satu tangannya ke celah celana dan menyentuh pangkal pahanya. Reflek paha Meru mengatup, hal itu malah membuat jemari liar Taro semakin jauh menyentuh lipatan yang kini sudah basah karena terus menerima serangan darinya.


"Uuuughh su-dah..." Pintanya, tak sanggup menerima dua serangan sekaligus. Putingnya dihisap Taro bergantian, kewanitaannya dimainkan hingga cairan bening terus merembes keluar.


Meru menggigit bibir menahan desahannya agar tidak lolo dan membuat Taro senang. "S-sudah, lepaskan."
"Hm? Lepaskan? kau yakin? " Tanya Taro dengan nada mengejek, sementara tangan di kewanitaan Meru ditarik mundur. "Baiklah akan aku lepaskan."


Mendengarnya Meru sedikit lega, ternyata tidak terlalu sulit membujuk Taro Motoyama.


Namun sepertinya pemuda itu sengaja menggoda, sekarang dia malah membuka kancing celanan Meru, menurunkan resletingnya dan menariknya ke bawah.
"Tuan muda hentikan!" Nadanya terdengar panik saat celana pendeknya sudah turun di lutut.


Tapi Taro sudah tidak bisa berhenti, gairah untuk menyetubuhi anak pembantunya ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Setelah sekian lama tidak bertemu ia dapati tubuh Meru semakin molek berisi, wajahnya jauh lebih cantik dan muda.


Tidak, tidak Taro Motoyama mengibarkan bendera putih. Lupakan hotel mewah, lupakan hari istimewanya untuk menyatukan tubuhnya dengan Meru. Sekarang juga akan dia renggut keperawanan Meru.


Ia pijat lagi kewanitaan Meru dari balik celananya yang sudah basah, mulutnya sibuk melumati bibir sensual Meru, menjilati telinga, menggelitik serta menghisapnya gemas. Hingga tak terasa tangan Taro kembali menelusup dibalik lipatan panas berlendir.


"Uuuhhhh...tuan muda, cukup." Pinta Meru dengan wajah memohon. Tapi tak mungkin. Dengan satu tarikan celana dalam itu sudah menyusul celana satunya, menyangkut di lutut.


Menggunakan lututmya Taro melebarkan paha Meru yang kini semakin panik saat mendengarTaro juga menurunkan resletingnya.


"Mmnnhhnn...tidak tuan! Tuan muda berhenti! Sssh!" Desahan Meru tertahan merasakan benda tumpul asing yang menyentuh lubang kawinnya.


Dia terkejut, berusaha melepaskan diri. Tapi kali ini Taro menjambak rambut pendek Meru hingga tak punya pilihan selain mendongak dengan minim gerak. "Aaakkh!" Sementara Taro sibuk menjilati lehernya sambil mengambil posisi untuk menyetubuhi Meru.


Namun sebelum kejadian buruk itu terjadi, mereka dikejutkan oleh mahasiswa yang berbondong-bondong berlarian, sambil berteriak.


"Selamatkan diri kalian!"


"Bahaya...cepat pergi!"


Taro yang tidak tahu apa yg sebenarnya terjadi menghentikan semua aktifitasnya. Mata tajamnya melihat sana sini banyak mahasiswa yang berlari dengan mulut dan pakaian yang dipenuhi darah. Dia berdecih sambil menutup kembali resletingnya, lalu ikut berlari panik meninggalkan Meru yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi.


Tak lama dia melihat ratusan serangga yang serupa dengan nyamuk namun berukuran besar tengah terbang mengejar para mahasiswa.


Gadis itu terlihat panik kebingungan, jika lari semua bisa melihat bagian-bagian sensitivnya. Ia duduk jongkok, menutup kepalanya dengan kedua telapak tangan. Meru menangis tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Di tengah keadaan yang membingungkan dia mendengar suara Nami berteriak memanggil namanya. "Meruuuu...Meru cepat pergi!"


Saat dia mengangkat kepala Meru melihat Nami yang sedang dikerubuti sekelompok nyamuk berukuran besar. Gadis itu semakin putus asa melihat sahabat satu-satunya tampak kuwalahan melawan nyamuk yang sudah berkali-kali menusukinya dengan jarum yang tajam dan beracun.


"Meru lari!!"


"Namiii...Namiii..." Tidak bisa bergerak dari tempatnya Meru hanya berteriak memanggil nami yang kini memuntahkan darah dengan mata melotot. "Kyaaaaaa!!! Namiiiii!!!" Meru histeris menyaksikan Nami yang perlahan tubuhnya melemas jatuh ke lantai.


Meru menjerit-jerit, kakinya benar-benar terasa lumpuh. Kejadian yang baru saja menimpanya kini tengah merusak mentalnya.


Tak ayal dia pun menjadi sasaran empuk beberapa ekor nyamuk yang sepertinya telah berevolusi menjadi 10x lebih besar dari ukuran biasanya. Namun seseorang lebih dahulu menyemprotkan racun nyamuk dari kaleng kecil untuk menghalau kawanan serangga tersebut untuk sementara.


Orang itu menepuk pundaknya "Apa kau ingin mati?" Suara yang sangat ia kenal itu menyadarkan Meru.


"Kyoshiro! Kyoshiroooo! Nami.... aku takut sekali." Tangisnya.


Kyoshiro melihat jasad Nami, lalu melihat keadaan Meru. Pemuda itu sungguh merasa prihatin, apalagi Meru tampak mengenaskan. Lantas Kyoshiro memungut blazer yang tergeletak untuk menutupi tubuh seksi Meru.


"Berdirilah, ayo cepat. Kita harus segera pergi." Sedikit susah payah Kyoshiro merangkul Meru, membantu gadis itu berdiri.


Setelahnya mereka bergegas pergi dengan Kyoshiro yang mengibaskan tangan di udara melindungi diri dari kejaran nyamuk.


BLAM!


Pintu Range Rover Kyoshiro ditutup dengan keras saat keduanya berhasil berlomba memasuki mobil mewah itu dengan para nyamuk. Di luar jendela nyamuk-nyamuk seukuran belalang menabraki kaca memaksa masuk.


Kyoshiro menghela napas mulai menjalankan mobilnya pelan, keadaan di luar pun sudah sangat kacau. Orang-orang berteriak sambil berlarian menghindari nyamuk yang berterbangan seperti hujan serangga.


Beberapa dari mereka mulai terinjak satu sama lain, sebagian lagi ada yang tergigit dan langsung muntah-muntah. Tak lama tubuh mereka muncul benjolan yang terus membesar kemudian pecah mengeluarkan cairan serupa nanah.
Suasana kota pun tampak sangat kacau, jeritan dan tangisan di mana-mana, kecelakaan terjadi di sana-sini.


Sirine polisi dan ambulance bersahutan memenuhi langit. Asap-asap melambung dari dashboard mobil yang terbakar. Sepertinya nyamuk lebih dulu menginvansi kota sebelum menyerang area kampus sekitar.


Di dalam mobil Kyoshiro menajamkan tatapan matanya, dengan lincah memutar setir mobil menghindari bangkai-bangkai mobil, tubuh-tubuh manusia yang sudah berserakan. Dalam benaknya ia bertanya apa yang sedang terjadi. Sementara Meru hanya terdiam dengan wajah tegang, menggenggam erat sabuk pengaman tanpa sepatah kata yang dia ucapkan.


Semuanya membuat Meru bagai di dalam mimpi buruk dan dia ingin segera bangun.
Di tengah ketegangan keduanya tiba-tiba sesuatu yang menyeramkan mengejutkan mereka.


BRAK!


"Kyaaaaaah!" Meru menjerit menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan, sedangkan Kyoshiro mendadak menghentikan laju mobilnya dengan dada berdebar.


Ternyata kaca depan mobilnya tertimpa sesuatu. Itu adalah sesosok manusia dengan ratusan nyamuk yang menghisap darahnya hingga mengering, orang itu seperti sedang berjubah ratusan nyamuk di sekujur tubuhnya.


Meru menangis ketakutan, Kyoshiro meliriknya sebentar, dibanding gadis itu Kyoshiro terlihat lebih tenang meski dia tetap berdebar-debar.


Setelah berkutat dengan keteganggan yang hampir membunuh mentalnya selama dua jam, Kyoshiro menginjak gas sekencang-kencangnya pergi menjauhi kekacauan kota.


MOSQUITO


Sementara itu seorang pria separuh baya perpenampilan rapi berjalan tergesa-gesa di sebuah gedung yang setiap sisi di temboknya terdapat ukiran-ukiran mewah bertema nyamuk di sepanjang lorong. Wajahnya tampak tegang dan serius menandakan bahwa ada masalah besar yang mereka hadapi.


Diikuti dua bodyguardnya orang itu masuk ke dalam ruangan dengan pintu berbahan baja berukir nyamuk aedes berukuran besar, di bawahnya terdapat nama perusahaan dengan huruf arial tegas bertuliskan 'MYG COMMPANY.'


Di dalam ruangan sudah ada pria paruh baya lain berpenampilan tak kalah rapi dengannya, rambutnya tersisir rapi ke belakang. Bedanya pria itu tampak lebih muda sekitar dua tahun.


"Pak Harada?" Sapa pria tersebut saat melihat rekannya masuk. Dia adalah Sato Harada, generasi kedua dari perusahaan YAMAHARA.CO. Seorang pengusaha produk rumah tangga yang menjual beberapa merk terkenal. Perusahaannya sudah berdiri dari puluhan tahun yang lalu, dan sudah membuka cabang produksi di beberapa negara besar.


Semua produknya tidak ada yang bisa diragukan, mulai dari pengharum ruangan, pembersih kaca, pembersih lantai, tak lupa lotion nyamuk dan obat serangga semprot sudah menjadi andalan masyarakat di berbagai belahan dunia.


"Apa yang terjadi? Kenapa keadaan di luar menjadi sangat kacau sekali?" Malas berbasa-basi ia memberondong pertanyaan pada rekannya, Koji Motoyama.


"Aku hanya melakukannya sesuai perintahmu, sejak satu bulan yang lalu kami sudah menyebarkannya di berbagai belahan dunia. Aku rasa ini telah sesuai rencana." Jawab pria itu lugas.


"Tapi bukan ini keinginananku." Sato Harada membela diri. "Merenggut jiwa? Aku kira tidak akan sejauh itu!" Dari nadanya jelas sekali pemilik YAMAHARA.CO itu sangat marah. "Kau yakin sudah meneliti dengan benar makhluk kecilmu itu sebelum merilisnya?"
"Pak Harada apa sekarang anda sedang meragukan kemampuan timku?" Tanya Koji Motoyama dengan wajah tak percaya.
"Bukankah anda mengatakan jika nyamuk ini hanya kebal anti nyamuk semprot biasa?!"


"Pak Harada mohon redakan amarah." Pinta Koji Motoyama melihat rekannya meledak-ledak.


Koji motoyama, pria ini adalah pemilik pabrik nyamuk Myg company. Di mana awalnya perusahaan itu telah bekerja sama dengan pemerintah. Bekerja sama untuk menghasilkan mutan nyamuk jantan yang digunakan untuk menekan angka kelahiran nyamuk betina, di mana betina adalah pelaku utama penyebar penyakit.


Myg company hanya mengembangbiakan nyamuk pejantan. Karena pada dasarnya nyamuk hanya menghisap nectar, tapi untuk memenuhi kebutuhan protein nyamuk betina harus menghisap darah.


Di Myg company para penjantan ini akan disterilkan sehingga nyamuk betina tidak akan bisa bertelur dan akhirnya akan mati begitu saja tanpa berkembang biak.


Tapi atas dasar keserakahan manusia Myg company telah bekerja sama dengan perusahaan Yamahara.co menciptakan konspirasi dengan memproduksi nyamuk mutan yang kebal racun biasa. Lalu nyamuk-nyamuk itu dilepaskan di seluruh dunia untuk meningkatkan penjualan produk. Dan konspirasi yang lebih besar lagi, Yamahara.co menciptakan vaksin untuk virus baru yang dibawa oleh nyamuk-nyamuk ciptaan mereka.


Awalnya itu adalah skenario bagus, di mana saat nyamuk-nyamuk super yang tercipta mulai menginvansi dunia, Sato Harada akan merilis vaksin pertamanya.
Sesuai perencanaan di awal semua berjalan dengan lancar. Produknya laku keras di pasaran. Nyamuk mutan mati dengan sekali semprot, hanya 3 detik untuk membuat mereka berjatuhan.


Tapi beberapa minggu terakhir mulai banyak kasus kematian dan penyakit menular disebabkan oleh nyamuk yang mereka lepaskan. Tidak ada satu orangpun yang tau bahwa pandemi itu adalah kesengajaan, kecuali mereka yang merencanakan.


Kini racun aerosolnya tidak mempan lagi. Nyamuk-nyamuk itu tidak mati, hanya pingsan lalu bangun lagi. Atau pergi kemudian kembali lagi.


"Aku hanya ingin tahu, apa anda meneliti serangga itu dengan serius?" Sato Harada tak puas dengan jawaban rekan bisnisnya.
Tapi sebelum Ayah dari Taro Motoyama menjawab, seseorang lebih dulu mengetuk pintu.


Setelah dipersilahkan masuk oleh atasannya, seseorang berpenampilan serba putih dengan pelindung wajah dari mika plastik membungkuk memberi salam. Sepertinya dia staff laboratorium atau semacamnya.



"Katakan apa yang kau dapatkan?" Koji Motoyama bertanya tak sabar pada pria yang baru saja masuk tersebut.


"Tuan Motoyama, kami menemukan jenis baru yang berbeda dari spesies yang kita lepaskan."


"Apa? Katakan aku salah dengar." Koji motoyama menautkan alis berharap yang didengarkannya salah. Sementara Sato Harada tak kalah terkejut. Namun si peneliti meyakinkan bahwa ia tidak salah.


Mereka pun bergegas ke ruang laboratorium, menuju kotak kaca berukuran 3x2 meter berisikan satu bangkai nyamuk berjenis aedes. Yang membuat mereka terkejut adalah nyamuk pembawa virus demam berdarah itu berukuran 10x lipat dibanding nyamuk pada umumnya.


"Kemungkinan nyamuk ini telah berevolusi di alam bebas pak, masa hidupnya juga diduga bertambah, berkembang biak dengan cepat karena betina yang seharusnya tidak bisa bertelur, malah bertelur dan menghasilkan jenis super ini sebanyak 2x lipat. Selain itu ia kebal racun dan perilakunya menjadi sangat agresif."


Mendengar penjelasan tersebut, kedua petinggi perusahaan itu memasang wajah seolah tak percaya.


"Tidak mungkin..." Sato Harada menggumam,menggeretakan rahangnya.
Sementara Koji Motoyama seperti menemukan ide. "Pak Harada, bukankah ini kesempatan bagus untuk mengembangkan penawarnya? Kita bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar."


Sato Harada tampak terkejut mendengar perkataan Koji Motoyama."Apa anda benar-benar gila?! Membiarkan orang lain mati hanya untuk uang?!" Jawabnya, benar-benar tak habis pikir.


Koji tersenyum sinis, mirip sekali dengan putra semata wayangnya. "Sudahlah pak Harada, anda tidak usah bicara seolah anda perduli dengan orang lain." Tak disangka kalimat itu terucap dari mulut seseorang yang terlihat sangat menghormati Sato Harada.


"Dari awal kita sudah mentargetkan akan pandemi ini. Itu artinya anda sudah membuang nurani sejak dahulu hanya untuk keuntungan sendiri. Jika sekarang anda peduli, bukankah sudah terlambat?" Perkataan dari Koji Motoyama sejujurnya sangat menusuk dadanya, dia merasa bersalah karena yang pria itu katakan adalah kenyataan.


"Menurutku akan jauh lebih baik jika anda menebus rasa bersalah itu dengan membuat penawarnya. Bukankah itu bentuk kepedulian yang lebih berguna?"
"Kau ini benar-benar...." Hampir saja Sato Harada memberi bogem mentah kepada Koji Motoyama. Namun yang ditargetkan tidak menunjukan perlawanan ataupun pertahanan, hanya tersenyum sinis membuat sato Harada membiarkan tangannya mengepal di udara.


"Pak Harada, anda harus berhati-hati. Aku tidak menjamin dalang dibalik pandemi ini akan terus aman dari masyarakat. Lagipula Pemerintah akan membayar berapapun untuk penawar pandemi. Anda hanya perlu menyiapkan perusahaan bayangan untuk menjual vaksinnya bukan?"


"Apa yang sebenarnya anda rencanakan?" Sato Harada mengepal emosi.
"Aku hanya membantu anda agar semakin kaya raya."
"Tsk!"


MOSQUITO


Kyoshiro memarkir mobil di depan rumah besarnya, saat ia bersiap keluar sepasang tangan lentik menarik jaket yang ia kenakan.


"Kyo?" Suara lembut pemilik tangan itu membuat Kyoshiro menoleh.


Kyoshiro agak terkejut, ia hampir saja lupa bahwa Meru bersamanya. Si gadis yang saat ini tampak kacau, make up dan rambutnya berantakan, pakaian yang ia kenakan hanya tersisa bra berenda yang tak cukup menampung kedua dadanya yang gemuk berisi. Masih ada blazernya tapi itu hanya bisa menutupi bagian perut, tidak dapat mengcover dadanya karena kain itu berpotongan V.


Kyoshiro yang tak sengaja melihat gundukan menggemaskan itu langsung mengalihkan atensi. "Astaga, kenapa aku membawamu ke sini dengan pakaian seperti itu?" Ia bergumam, pipinya samar- samar bersemu merah muda.


Padahal Meru yang sudah terlanjur menggilai Kyo setengah mati sama sekali tidak keberatan jika pemuda itu menatap bagian pribadinya sebanyak yang Kyo mau. Tapi karena menghargai pemuda itu, dia mengatupkan blazer menutupi dadanya.


"K-kau bisa antar aku pulang?" Tanya Meru berhati-hati, takut Kyoshiro marah. Dia tau malam sudah menjelang, apalagi pasti Kyo masih shock dengan kejadian barusan dan butuh istirahat. "A-atau pinjami aku telepon, aku akan menghubungi Ibu dan segera pulang"
Kyo sedikit berpikir, mengingat kejadian barusan tidak memungkinkan mengantar Meru pulang. Semakin malam, pasti nyamuk-nyamuk itu semakin aktif. Ia juga tidak bisa membiarkan seorang gadis pulang sendirian di tengah gawatnya keadaan di luar.


"Masuklah, aku akan meminjamimu pakaian." Kata Kyoshiro tanpa menatap wajah Meru. Lalu ia keluar dari mobil.
Meru ragu, dari dalam mobil ia mengamati rumah Kyoshiro yang amat mewah.


Lampu bersinar keemasan menerangi teras rumah bak istana kenegaraan. Rumah itu bahkan lebih mewah dari rumah Koji Motoyama yang ia tempati. Para penjaga berdiri rapi di tempat masing-masing, tiga pelayan wanita menunduk menyambut kepulangan Kyoshiro.


Lama tak kunjung keluar dari dalam mobil sport itu, Kyoshiro berbalik. "Apa kau sangat menyukai mobilku?"


Meru tersentak, berteriak kecil meminta Kyo untuk menunggunya, lalu keluar mobil sambil menyilangkan blazer untuk menutupi dadanya dan berlari kecil mengekori Kyo.


"Beri dia pakaian dan biarkan beristirahat. Aku akan mandi sebentar." Kyo memerintah pelayan yang menunggunya, dan balas dengan bungkukan hormat. Lalu pemuda itu terus berjalan menuju kamarnya.


Melihat penampilan Meru yang seperti itu, pelayan saling melirik dan tersenyum, berpikir tuan mudanya baru saja melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama meru.


"Mari ikut saya Nona." Ajak salah satu pelayan menunjukan jalan. Meru yang merasa setara dengan mereka menjadi canggung diperlakukan dengan sopan seperti itu. Namun ia hanya mengikuti alur saja. Yang penting ia ingin segera mandi dan berganti pakaian.


Di dalam kamar mandi Kyoshiro berdiri di bawah guyuran shower yang hangat, air membasahi rambutnya yang langsung mengalir membasahi punggung tegapnya, dadanya yang bidang, dan perutnya yang ramping dengan enam kotak seksi.


Beberapa kali ia mengusap wajah hingga ke rambutnya dengan pikiran yang terus melayang ke kejadian sore tadi. Seumur hidup ia baru melihat dan mengalami kejadian yang biasanya hanya dia lihat di dalam film. Nyamuk sebesar itu, jumlah yang begitu banyak, dan tubuh manusia yang seolah tak ada harganya.


Sekarang bisakah perusahaannya membuat racun yang lebih baik dari sebelumnya?


Puas melamun sambil membersihkan tubuh, Kyoshiro mematikan shower, menyambar handuk dan melilitkannya di pinggang. Tak lupa dia sambar handuk kecil untuk mengeringkan rambut kelamnya.


Kyoshiro berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap rambut dengan handuk, tapi alangkah kagetnya ketika Kyo melihat sesosok gadis sedang berada di kamarnya memunggunginya.


Betis wanita itu begitu bersih dan mulus, bahkan paha yang terekspose pun tak nampak setitik noda atau sekedar tahi lalat.


Mendengar ada suara dari belakang, si gadis yang sedang memilih-milih chanel televisi itu menoleh.


Tak kalah terkejut saat tatapan keduanya bertemu. Sama-sama terbelalak. Terlebih Kyo yang melihat gadis itu mengenakan kaos miliknya, kaos berwarna putih yang kini terlihat seperti daster di tubuh mungil itu. Tanpa celana, membiarkan pahanya telanjang menggoda.


"Meru? Kenapa di sini?" Tanya Kyoshiro menautkan alis heran.


Meru tidak menjawab, rasanya ia sangat susah bernapas. Bahkan dia hanya mematung menatap tubuh Kyoshiro yang setengah telanjang.


"Kau mengintipku?"
Baru saat suara menuduh itu terdengar, ia langsung menunduk mengalihkan tatapan dari pahatan sempurna di depannya.


Kyoshiro yang tak nyaman juga segera mengambil pakaian dan mengenakannya.
"Pe-pelayanmu mengantarku ke sini." Suara Meru terdengar bahwa dia salah tingkah.


"Astaga, apa mereka bodoh?" Kyoshiro langsung mengambil telepon paralel di meja samping tempat tidur, berniat memanggil pelayannya. "Istirahatlah di kamar tam-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya ia menangkap pemandangan yang membuat matanya hampir meloncat keluar.


Dari pantulan kaca hiasan sandaran tempat tidurnya, ia melihat celana dalam dan bra wanita terjemur rapi di gantungan jaketnya. Ia meletakan kembali teleponnya dan menatap Meru yang sudah meringis karena malu telah tertangkap basah.
Cepat-cepat ia berlari dan mengambil pakaiannya dari sana dan menyembunyikan di balik punggung. "Ma-maaf Kyo aku pikir tadinya aku sendirian di kamar ini."


Kyo membuka mulutnya namun tak berkata menyadari kenyataan bahwa di balik kaos itu Meru tak lagi memakai pakaian dalamnya. Ia akan menyalahkan semesta jika sesuatu terjadi pada Meru. Tapi Kyo masih sehat, ia tidak akan menyentuh gadis dari kalangan remeh itu.
"Mereka hanya memberimu kaos ini?" Tanya Kyoshiro masih heran.


Meru menggeleng, "I-itu." Menunjuk kasur, di sana ada celana piyama milik Kyoshiro. "Tapi terlalu besar, aku tidak bisa memakainya."


Kyoshiro hanya melirik sebentar, menghela napas dan berkata. "Baik istirahatlah di sini, biar aku yang ke kamar tamu." Lalu ia berbalik berniat mengambil celana di lemari, tapi Meru menghentikannya.


"Kyo, aku pikir kita bisa tidur berdua. Eh!" Mati! Bukan itu yang ingin dikatakan Meru. Gadis itu membeku menyesali kalimat yang keluar dari mulutnya. Dia seharusnya mengatakan dia saja yang pindah ke kamar lain.


Mendengarnya Kyo merinding, menatap Meru dengan tatapan 'jangan bermimpi'. Ia pun tidak menanggapi, memilih pergi menuju lemari pakaiannya.


"Baiklah kalau kau tidak mau! A-aku boleh meminjam telepon untuk menghubungi rumah Tuan Motoyama? Aku ingin ibu menjemputku."


Kyo hanya mengangguk lalu mengambil ponselnya dari nakas dan memberikannya pada Meru.


Sementara Meru menelpon, Kyo memilih pakaian, dan memakainya di toilet. Ia mendengar Meru memberi kabar pada ibunya yang terdengar menangis panik. Lalu ia merengek agar dijemput dan dibawakan pakaian.


Tak lama setelah Kyo keluar dari kamar mandi, Meru memberikan ponsel itu pada Kyo dan mengucapkan terima kasih.


"Kau akan dijemput?"


"Iya." Meru mengangguk pasti, "Kenapa? Apa Kyo kecewa aku akan pulang?" Godanya mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa canggung.


Kyo mendecih remeh. "Daripada sibuk menggodaku lebih baik kau keringkan pakaian dalammu dengan pengering rambut sebelum ibumu datang."


Meru yang tidak terima dipermalukan berniat angkat bicara, tapi atensi Kyo beralih ke tayangan televisi yang menyiarkan berita terkini. Ia memberi isyarat 'stop' pada Meru, gadis itu pun mengerti. Dan keduanya fokus pada layar tivi yang menampilkan ratusan orang yang terinfeksi demam berdarah telah memenuhi kapasitas rumah sakit.


Banyak masyarakat yang dinyatakan meninggal karena tak tertangani dengan baik. Narasi berita mengatakan bahwa virus demam berdarah ini berbeda tipe dengan demam berdarah biasanya.


Digolongkan ke dalam virus varian baru.
Pasien biasanya akan meninggal dalam waktu 6 jam dari waktu terinfeksi jika tidak cepat-cepat diberi penanganan medis. Sementara itu obat untuk demam berdarah biasa saja belum ditemukan, dipastikan akan sulit menemukan vaksin untuk jenis baru ini.


Dan mereka tidak ada harapan hidup jika bertemu sekelompok nyamuk yang bergerombol menghisap darah korbannya hingga kering seperti zombie.


Keadaan menjadi semakin gawat saat stok darah dinyatakan menipis, dan di kondisi seperti itu tidak banyak orang yang mau mendonorkan darah mereka.
Untuk mencegah semakin banyaknya pasien, pemerintah memutuskan untuk melumpuhkan semua kegiatan masyarakat. Menutup akses ke luar kota, dan mewajibkan mereka untuk terus berada di rumah dengan menutup semua ventilasi yang bisa dimasuki oleh nyamuk mutan tersebut.


Jika ingin keluar rumah, pemerintah menyarankan untuk memakai pelindung badan berbahan besi atau plastik yang mengcover semua anggota tubuh mereka.
Melihat betapa kacaunya keadaan di luar, Meru menggigiti kuku jempolnya gelisah.


Dia ingin pulang dan bertemu ibunya. Sementara Kyo tengah sibuk membuat spam panggilan kepada Ayahnya yang tak kunjung menjawab teleponnya.


Sekitar 20 menit terdengar suara mobil dan klakson mulai memasuki halaman kediaman Harada. Kyo pikir itu ayahnya, tapi setelah pelayannya mengetuk pintu dan masuk memberi tahu ternyata bukan.
"Tuan muda, perwakilan dari keluarga Motoyama datang ingin menjemput nona Meru."


Meru langsung berdiri, "Ah benarkah?" Melihat pelayan yang mengangguk hormat, lantas Meru bergegas membereskan tas dan segala isinya. Lalu ia segera berterima kasih pada Kyoshiro.


"Kyoshiro aku pulang dulu,terima kasih."
Kyo yang belum sempat menjawab hanya melongo melihat Meru segera pergi tergesa-gesa dari kamarnya.


Sementara itu di luar, Meru yang semula bersemangat untuk pulang hanya berdiri di depan mobil yang menjemputnya.


Mendadak dia malas untuk pulang, karena melihat Taro sudah bersandar di pintu Porsche miliknya.



Dia berniat kembali ke dalam dan menginap saja, tidak apa-apa jika di dapur atau halaman belakang sekalipun daripada satu mobil dengan serigala yang hampir selalu memangsanya ini.


Tapi saat Meru akan berbalik lengannya sudah lebih dulu ditarik kasar, membuatnya menabrak dada bidang Taro yang seharusnya bisa membuatnya nyaman.


"Ugh! Tuan muda lepaskan."
Taro tersenyum sinis, "Masuklah lebih dulu aku akan melepaskannya di dalam.


Memangnya kau ingin jadi tontonan?"


Meru sangat kesal mendengar respon Taro yang selalu tak jauh dari hal-hal mesum."Tuan muda aku tidak bercanda!"


"Aku juga tidak bercanda." Ia menatapi penampilan Meru yang hanya memakai kaos kebesaran milik Kyoshiro. "kau berpakaian seperti ini di rumah si brengsek Kyo? Tidak aku sangka kau benar-benar nakal."


"Tuan muda, lebih baik aku jalan kaki dan digigit nyamuk saja daripada pulang bersamamu!" Ia kibaskan cengkraman Taro agar terlepas, tapi pemuda itu lebih siaga, mencengkramnya lebih kuat.


Dia pun menarik tangan Meru, memaksanya masuk ke dalam mobil tanpa perlawanan yang berarti. Setelah Meru berhasil ia kurung di dalam Porsche mewahnya, kemudian Taro menyusul dan segera mengunci pintu, menstarter mobilnya buru-buru. Tidak memberi kesempatan Meru untuk kabur.


Segera mobil itu pun melesat meninggalkan kediaman Harada yang laksana kerajaan modern tersebut.


Di tengah perjalanan Meru hanya menatap jalanan yang gelap dengan tatapan tajam dan bibir yang mengerucut. Ia benar-benar tidak suka berada di mobil mewah ini dengan lelaki semacam Taro.


Sementara Taro sedikit menoleh ke arah gadis di sampingnya, ia tatapi paha mulus Meru. Ia pun tak tahan untuk tidak menyentuhnya, ia ulurkan tangannya dan mengelus dengan gerakan menggoda.
Meru memutar bola matanya kemudian memberi tatapan membunuh pada pria disampingnya ini serta menepis dengan kasar tangan itu dari pahanya.


"Wow sangat agresif." Decih Taro mengejek. "Itulah kenapa aku sangat menyukaimu." Setelah menerima penolakan kasar dari Meru, bukannya sadar diri dan menghentikan aksinya, Taro Motoyama malah menelusupkan tangannya lebih dalam.


"Nnhh!" Meru memekik menahannya dengan mengapit, dia gunakan dua tangannya untuk menarik tangan Taro dari sana. Tapi jemari Taro sudah mendarat di tempat paling pribadinya.


Taro pun terkejut oleh penemuannya yang menarik. Gundukan dengan rambut halus favoritnya itu tak berpenghalang sama sekali. Sambil menyetir dengan satu tangan ia menyeringai liar, menggerakan tangannya semakin ke dalam meraih kehangatan yang sedikit basah.


Meru meringis, dia tetap berusaha sekuat tenaga menahan pergelangan tangan Taro,membatasi gerak jemari nakal Taro.


"Apa yang kau lakukan dengan pecundang itu sampai melepas celana dalammu?" Tanyanya sembari terus menggosok pelan permukaan dalam kewanitaan Meru. "Kau tidur dengannya? Cih! Aku sangat iri!"


Meru menggeleng. "Ti-tidak tuan." Suaranya serak menahan desahan. Ia terus menggeliat antara menolak dan tubuhnya yang malah berhianat merasakan nikmat. Wajahnya pun memanas, dikening mulai muncul titik-titik keringat.


"kau pikir aku percaya?" Salah satu sudut bibir Kyo tersungging. "Aku akan memeriksanya sendiri. Jika terbukti, aku benar-benar akan menghancurkan hidupmu." Setelah mengatakannya Taro menepikan mobil dan berhenti tanpa melepaskan tangannya dari kewanitaan Meru. Ia pun langsung berusaha menindih gadis itu agar tidak banyak bergerak.


"Uh.Tuan muda!"


Taro meremas payudaranya, mencium paksa bibir yang sedikit pucat tanpa lipgloss itu. Dan dengan cekatan ia tarik ke atas ujung bawah kaos Meru melewati kepalanya. Satu-satunya penghalang tubuh Meru dibuang begitu saja. Kini dia telanjang bulat bersama pria yang dibencinya.


Mata Taro terbelalak melihat kemolekan tubuh Meru tanpa busana. Tatapannya otomatis menuju pada kedua payudara besar yang tengah naik-turun karena si empunya bernapas dengan keras. Tidak ada tanda kemerahan bekas kecupan orang lain, lantas Taro tersenyum sedikit bangga, Meru sepertinya tidak berbohong.
Lalu atensinya beralih turun ke perut Meru yang tidak terlalu langsing, sedikit turun ia bisa melihat pada bagian favoritnya.


Gundukan tembam dengan rambut pubic tipis membuatnya semakin menarik untuk disentuh dan dia mainkan hingga puas.
"Kita bisa melakukannya sekarang?" Bisik Taro berniat merenggut keperawanan Meru saat itu juga. Karena semakin dewasa, ia tidak mau orang lain lebih dulu merebutnya.


Gadis itu berteriak, berontak, ia bergerak seliar-liarnya agar terlepas dari cengkeraman Taro yang mulai menciumi lehernya sembari menelusupkan salah satu tangannya ke kewanitaan Meru, bermain sesukanya di sana. Menggosok pusat rangsangnya yang membesar, menusukan salah satu jarinya ke lubang kawin gadis itu.


Tapi tak peduli seberapa kuatnya ia berontak, lelaki itu tetap bisa menjamah tubuhnya dengan mudah. Memagut paksa bibirnya, menghisapi leher wangi sabunnya, hingga meninggalkan bekas membiru yang membuat Taro bangga akan karyanya.


"Ahhh...Tuan muda, berhenti..." Desahnya payah.


Meru pikir itu cukup untuk menghentikan singa yang kejantanannya mulai mengeras itu? Tidak mungkin, Taro bukan orang yang mudah puas. Ciumannya bergerak menurun ke dada, bahkan ia belum menyesap manisnya puncak dada kecoklatan yang sudah meneggang itu, tidak mungkin Taro berhenti.


Oleh karena itu, Taro melepaskan mainannya yang sudah basah kuyup di bawah sana, berganti meremas padatnya kedua dada Meru sambil menyesapnya kuat sampai keluar darah jika perlu.


"Ammhh..." Salah satu puncak dada sebesar biji bago dilahap bergantian, pemiliknya mendesis tidak suka. Tapi reaksi lain dari tubuhnya membuat si pemangsa mengulum senyum sinis.


Karena saat Taro menggunakan lututnya untuk membuat Meru membuka paha, Taro merasakan lututnya basah oleh cairan yang dihasilkan serviks si dara.


"Kau menyukainya?" Bisik Taro terdengar seksi. Meru yang sedari tadi memejamkan mata sambil menangis hanya menggeleng.


"Kenapa berbohong? Dia ingin-" Bisik Taro memasukan kedua jarinya ke lubang basah Meru.


"Ugh! Tuanh..." Meru berjingkat saat kedua jari tuannya memasukinya tanpa aba-aba.


".... Segera dimasuki." Lanjutnya sambil menggerakan kedua jari di dalam kewanitaan Meru.


Gadis itu mengatupkan pahanya agar tangan Taro berhenti, tapi malah Taro kembali menyergap payudaranya. Mengulum putingnya, menjilat, sesekali ia gigiti tak peduli Meru merintih. Entah sakit atau nikmat, yang jelas suara itu membuat Taro makin bersemangat.


Kejantanannya kian menegang, sakit jika tidak segera dilepaskan. Ia mengangkat sedikit pinggulnya melepas resluiting celana pendek yang ia kenakan dan mengeluarkan jagoannya.


Taro kembali menggunakan pahanya untuk melebarkan paha Meru. Dengan usaha yang sedikit ekstra, dia segera menempelkan kepala kejantanannya ke dalam liang hangat yang terus merembeskan cairan pelumas alami itu.


Meru menggeleng ketakutan merasakan benda tumpul asing menggosok-gosok permukaan kewanitaannya. Hingga saat itu Taro mulai menyodok-nyodok tepat di lubang kawinnya memaksa masuk.


Masih sedikit sulit, Taro berdecak kesal. Kemudian dia sedikit mundur, sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menaikan kedua kaki Meru ke atas bangku. Lalu Taro membuka paha Meru selebar-lebarnya, hingga gadis itu merasa sangat malu. Apalagi saat mata Taro menatap miliknya yang basah mengkilat-kilat terkena sinar lampu jalan.


Meru menggigit bibir ngeri saat melihat bahasa tubuh Taro yang seperti ingin melahap kewanitaannya sampai habis.
Ketakutannya menjadi nyata ketika Taro sudah puas melihat miliknya yang berwarna merah daging dengan begitu jelas, pemuda itu segera menjilati kewanitaannya dengab rakus dan tanpa ragu-ragu.


Meru menjerit kecil, menggoyangkan pinggulnya agar Taro tak bisa menyesap bulatan kecil paling terasa geli itu. Tapi usahanya malah membuatnya menggelinjang sendiri, karena saat pinggulnya bergerak pusat dari segala titik rangsangnya itu otomatis mengenai lidah Taro yang sedang bergerilya.


"Aaah... Tuan muda cukup!" Ia menjambak rambut tebal Taro Motoyama hingga beberapa akarnya tercabut.


Puas menyesap segala sumber kemanisan di muka bumi ini, Taro mengangkat kepalanya untuk menatap Meru yang sudah lemas tak berdaya. Badan dan rambutnya basah kuyup meski sedang berada di dalam mobil yang ber AC.


Di sela-sela Meru mengumpulkan pasokan oksigen ke dalam paru-parunya, Taro tidak mau menunggu terlalu lama lagi. Dia mengulang adegan yang sempat tertunda barusan. Membuka lebar-lebar paha Meru dan menggesekan kepala kejantanannya di lubang surga duniawinya.


"T-tuan muda, cukup. Hentikan!" Kali ini tak ada lagi harapan untuknya selamat, usaha Meru sia-sia. Kini dia amat kelelahan, tidak punya tenaga lagi untuk melawan. Dengan penuh sesal dan perasaan membenci diri sendiri ia memilih pasrah.


"Berhenti merengek eh?" Hina Taro, "Padahal aku lebih suka jika kau berpura-pura menolak seperti tadi?" Setelah mengatakannya ia mendorong kuat-kuat pinggulnya hingga setengah kepala penisnya masuk. "Aku akan menujukan padamu apa itu surga." Bisiknya, sembari mengulum telinga Meru. Gadis itu meringis kegelian, pasrah dan berharap Taro akan melakukannya dengan cepat.


'Ggrrttt...grrtt...grrttt.'


Terdengar suara ponsel yang berdering. Taro berdecak kesal karena deringnya mengganggu proses penyatuannya dengan Meru. Awalnya ia ingin mengabaikan, tapi ponsel itu terus berdering dan membuyarkan konsentrasinya untuk bersenang-senang.


Dengan emosi Taro mencabut kejantanan yang belum sempat masuk seluruhnya dan meraih ponsel dari dashboard.


"Halo?" Terlihat nama 'Ayah' di layar sebelum Taro menjawabnya.
Untuk sementara Meru merasa lega, ia memungut kaosnya di kolong bangku dan memakainya buru-buru.


Tidak mau menyia-nyiakan waktu, Meru juga mengambil kesempatan untuk kabur sementara Taro berbicara pada ayahnya. Saat itu wajah Taro menegang, ia tampak menghawatirkan sesuatu.


Tapi Meru yang mencoba membuka pintu mobil merasakan sakit di lengan karena Taro lebih dulu menahannya. Bisa dilihat lengan Meru mungkin sekarang sudah membiru karena semenjak pagi hari terus diperlakukan kasar oleh Taro Motoyama majikannya.


"Jangan di buka! Bahaya!" Serunya, sesaat setelah menutup telepon dari Ayahnya Koji Motoyama. Wajah mesum yang tadi membuat Meru jijik, kini berganti raut panik.


"Ganti pakaianmu, kita tidak akan pulang ke rumah." Perintah Taro selanjutnya sambil melemparkan paperbag berisi pakaian Meru yang ia bawa dari rumah. Tapi Meru menghiraukan perkataan tuannya.


Yang benar saja, tidak pulang ke rumah? Dia mau menculik Maru? Pikir gadis itu sinis? "Aku tidak mau pergi denganmu!"
Taro menatap tajam gadis di sampingnya. "Turuti perintahku selama aku masih baik padamu." Perintahnya tegas. Lalu kembali fokus pada jalan di depan, Taro sama sekali tidak terlihat santai seperti biasanya.


Dia pun mulai menstarter mobil, tapi hal yang tak pernah dia duga terjadi. Meru berhasil membuka pintu dan langsung melompat keluar, gadis itu sempat terguling tapi masih bisa bangun dan pergi berlari melawan arah berniat kembali ke rumah Kyoshiro.


"Ck! Brengsek!" Taro murka. Dia keluar dari mobilnya dan mengejar Meru. "Gadis bodoh! Kembalilah!" Teriaknya. Dia tidak mau kehilangan tikus mangasanya semudah itu.


Sementara Meru yang sejak tadi sudah terkuras tenaganya, mulai berlari dengan lebih lambat . Jantungnya berdebum-debum keras, dia sangat kelelahan dan takut menjadi satu. Bahkan kini pengelihatannya mulai mengabur. Meru berlari terseok-seok sambil tanpa alas di permukaan aspal yang masih terasa hangat di kaki.


Taro juga semakin mendekat dengan punggung mungil di depannya, tapi si pemilik tiba-tiba jatuh tersungkur kepayahan.


BRUKH


"Dasar bodoh! Sudah kubilang jangan pergi!" Maki Taro geregetan. Ia tarik lengan Meru dengan kasar seperti biasa agar gadis itu berdiri.


Meru menangis, bukan karena siku-siku kaki dan tangannya yang lecet, perih terluka, tapi karena kebebasannya kembali terenggut manusia bajingan seperti Taro Motoyama.


Dengan kasar pula Taro menarik Meru untuk kembali ke mobil. Mengabaikan meski gadis itu menolak dengan segala bentuk gerak. Tak habis akal Meru pun duduk di jalanan, tapi terus ditarik hingga ia mengaduh kesakitan.


Ditengah adegan pemaksaan itu, Taro mengendurkan cengkramannya ketika mendengar suara sesuatu mulai mendekat.


Auara mendengung seperti ratusan kepakan sayap serangga. Otomatis Taro melepaskan tangan Meru untuk fokus pada apa yang ia dengar.


Meru yang merasa genggaman itu terlepas, lantas dia mencoba melarikan diri lagi. Kali ini Taro tidak mengejarnya membuat Meru lega. Tapi baru beberapa meter Meru berhenti, ia mendengar apa yang Taro dengar tapi kali ini ia melihat wujud dari pemilik suara tersebut.


Meru membuka mulut dan matanya lebar-lebar melihat sekelompok nyamuk sebesar belalang kayu terbang ke arahnya. Kakinya semakin lemas, ia mematung, jangankan berlari untuk berdiri saja ia tak sanggup.


Meru ambruk di aspal, dengan mudah menjadi sasaran ratusan nyamuk yang langsung menyerangnya. Dia hanya bisa menangis histeris mengibaskan tangan ke udara agar nyamuk tidak sempat menggigitnya.


Taro yang melihat hal itu malah panik sendiri, dia kebingungan antara menolong Meru atau pergi meninggalkannya. Tapi beberapa ekor nyamuk terbang mengincarnya. Akhirnya si brengsek penakut itu memilih berlari menuju ke mobilnya meninggalkan Meru yang bergulung-gulung berjuang sendirian.


Taro Motoyama yang kelelahan pun tak berlari begitu kencang, nyamuk telah meraihnya, terbang mengerubuti wajahnya. Sambil berlari Taro juga mengibaskan tangannya ke udara.


Ia beruntung karena telah meraih pintu mobil, melepas kaos dan mengibaskannya agar nyamuk menyingkir. Lalu ia masuk sambil menutup keras-keras pintu.


Terlihat sekelompok serangga itu menabrak-nabrak kaca mobilnya hingga menimbulkan bunyi 'Tak.tak.tak.' keras seperti hantaman kerikil.


Sambil mengatur napas Taro menyalakan mobilnya, menengok ke belakang teringat akan nasib Meru yang menyedihkan. Taro merasa bersalah harus membiarkan gadis itu mati sia-sia, padahal dia belum sempat menidurinya dengan tuntas.


Tak mau lama-lama mengingat Meru, Taro menginjak gas dan pergi meninggalkan sekumpulan nyamuk yang terus mengejarnya.


Sementara Meru masih berguling-guling di aspal, mendendangkan kaki ke udara membiarkan tubuh bagian bawahnya terlihat. Ia tak peduli malu lagi, Meru masih ingin hidup untuk membahagiakan ibunya. Meski begitu ia merasa tidak akan selamat, nyamuk itu terlalu banyak dan agresif sedangkan dia tidak punya apapun untuk mengusirnya.


Disaat mencekam seperti itu dari arah dia berasal terlihat sorot lampu yang sangat terang mengenainya. Meru sempat mengira dia sudah benar-benar mati, dan itu adalah jalan cahaya menuju surga.
Tapi saat lampu itu semakin dekat Meru sadar itu adalah sorot lampu mobil.


Melihat Meru bergulung-gulung diserang nyamuk mutan seperti itu membuat si pengendara berhenti melaju. Orang itu cepat-cepat turun membawa gas torch bermulut besar lalu menyalakannya tanpa ragu.


Seketika api besar menyala-nyala di udara. Seseorang yang ternyata adalah seorang pemuda itu segera menghampiri Meru, mengayunkan torchnya mengusir si serangga mutan itu.


'Swooooosssh. Swoooossh.'


Nyamuk menyingkir pergi menghindari api tapi terus kembali mencari celah untuk kembali.


"Meru berdiri! Cepat bangun! Masuk ke mobil!" Perintah pemuda itu dengan nada memerintah mengandung kepanikan. Meru yang mendengarnya berdiri tertatih, ia ingin berlari tapi kakinya terasa berat.
Meru menangis menggeleng. Bahkan dia sempoyongan dan hampir jatuh kembali, tapi tangan pemuda itu sigap meraih dan menahan pinggangnya.


Di tengah gentingnya keadaan, Meru sedikit mendongak untuk melihat wajah pemuda yang sedang memegang erat pinggangnya sambil terus mengusir serangga. Ia sangat bahagia dan hampir menangis lagi melihat dia adalah Kyoshiro pangeran pujaannya.


Sesampainya di mobil, Kyoshiro membantu Meru masuk ke dalam dan memastikan Meru aman dari kejaran nyamuk. Sambil terus mengayunkan torchnya, Kyoshiro pun bergegas masuk dan langsung membawa mobilnya pergi.
 
Terakhir diubah:

Shibuya

Senpai Semprot
Thread Starter
Daftar
2 Oct 2014
Post
793
Like diterima
321
Lokasi
Ichinomiya Tres Spades Hotel & Casino
MOSQUITO

Menjelang pagi Kyoshiro memarkir mobilnya di dermaga, di sana sudah banyak mobil-mobil mewah yang terparkir.


Orang-orang berpakaian bagus dan mahal berlalu-lalang membawa barang dan dibawa masuk ke sebuah kapal pesiar yang tak terlalu besar. Mungkin kapal itu hanya cukup untuk mengangkut sekitar 1.000 orang.


Di sampingnya Meru masih tidur dengan alis tertaut, pertanda dia sedang tidak nyaman atau kesakitan. Wajar saja, pasti semua lukanya perih. Kaosnya robek-robek di sana sini, badannya kotor penuh debu, rambutnya lepek berminyak.


Kyoshiro iba melihat gadis yang selalu bermimpi menjadi kekasihnya itu.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu, Kyoshiro menghadap jok belakang meraih papper bag. Itu baju Meru yang tertinggal di rumahnya, sudah dikeringkan dengan baik setelah ia memarahi semua pelayannya.


Ia pun membangunkan Meru, mereka harus bergegas pergi untuk menaiki kapal bersama yang lain.


"Meru, bangun." Suaranya yang terlalu pelan tidak mungkin bisa membangunkan gadis itu. Kali ini Kyo mencoba lebih keras lagi. "Meru bangunlah lebih dulu."


Gadis itu merespon, menggerakan badannya. Sedikit meringis menahan perih, tapi perlahan matanya terbuka sambil terus mengedip.


Di hadapannya sudah ada Kyoshiro, pemuda tampan yang ia puja bagaikan dewa. "Emmh Kyo.." Rintihnya tak sengaja.
"Meru dengar, mungkin saat ini kau tidak mengerti. Tapi cepatlah ganti pakaianmu kita harus bergegas pergi dari sini." Kyo tak mau berbasa-basi. Ia sodorkan pakaian Meru yang memasang wajah bingung.


"Kita akan pergi ke mana?"
"Cepatlah." Setelah mengatakannya Kyoshiro keluar dari mobil, membiarkan Meru berganti pakaian.


Tanpa banyak tanya ia hanya menuruti Kyoshiro dan berganti pakaian, memakai bra dan celana dalamnya kembali, setelan blazernya tanpa tanktop. Tak ketinggalan ia menyisir rambut, membersihkan wajah dengan tisu basah hingga dia tampak lebih segar.


Kemudian Meru mengetuk kaca, memberi tanda bahwa ia selesai.


Kyoshiro kembali masuk mobil dan duduk, dia tampak salah tingkah melihat penampilan Meru yang memakai blazer tanpa dalaman lain, yang artinya dada besar itu sungguh terekspose ke mana-mana.


"Ck Meru, lebih baik kau aku pinjami kausku lagi." Kyoshiro meraih tas di belakangnya dan memilihkan pakaian yang sepertinya pas untuk perempuan. Beruntung dia menemukan polo shirt berwarna putih yang ukurannya tidak terlalu besar.


"Pakailah, aku benar-benar tidak bisa pergi dengamu jika pakaianmu seperti itu." Kyo menyodorkan kaus itu kepada Meru.

Dengan senang hati Meru menerimanya, dan tanpa malu melepas blazernya di samping Kyoshiro.


Pemuda itu sempat tersedak saat meminum air dari botolnya karena ulah Meru itu. Kyoshiro membuang muka ke samping agar tidak melihatnya.


Meru hanya melirik tanpa merasa bersalah.


Meru kini sudah berganti pakaian, giliran Kyoshiro mengeluarkan dua roti apel. Satu untuknya satu lagi untuk Meru.


"Makanlah. Lebih cepat lebih baik."
Meru menerima ragu, dia merasa tidak enak telah merepotkan Kyoshiro sejauh ini. "Terima kasih Kyoshiro," Ucapnya tersenyum, lalu memakan roti itu dengan lahap. Begitu juga dengan Kyo. Tapi jujur saja Meru masih penasaran mereka akan pergi ke mana.


Di tengah suasana yang hening, Meru memberanikan diri untuk bertanya. "Kyo, apa yang terjadi? kau bilang kita harus bergegas pergi, kita akan kemana?"
Kyoshiro berhenti mengunyah, ia menyalakan layar monitornya dan memutar sebuah video. "Kau harus menonton ini." Ucapnya, menekan tombol play.


Di layar ditampilkan kondisi terkini tentang pandemi nyamuk mutan. Pembawa berita yang memakai pakaian mirip astronot mengumumkan bahwa kota tidak lagi aman, 50% penduduk sudah terjangkit malaria. Semua jenis nyamuk dinyatakan pembawa virus, karena saat mereka menggigit pasien, otomatis mereka membawa virusnya.


Ia juga berdiri di tempat terbuka, menunjukan bahwa nyamuk-nyamuk besar itu berusaha menyerangnya berkali-kali. Suara patukannya mirip suara jarum yang diketukan di kaca, menandakan betapa kerasnya mulut penghisap mereka.

Dan pembawa berita memberi tahu masyarakat agar tidak menyepelekan nyamuk ini.


Dilatar belakangi suara pembawa berita yang masih menjelaskan keadaan, Kyoshiro berkata, "Kita akan pergi ke pulau pribadi keluargaku. Pulau Siluang."


Meru yang masih belum bisa mencerna perkataan Kyoshiro menatap pemuda itu penuh tanya.


"Tidak ada lagi tempat aman di kota ini, kita harus bersembunyi untuk sementara selama pandemi belum berakhir." Imbuhnya.


"Tap-tapi..."


"Karena pemerintah menutup semua jalur kita tidak dibiarkan meninggalkan kota. Jadi satu-satunya tempat bersembunyi hanya di pulau pribadi keluargaku. Kita akan aman di sana, nyamuk mutan belum berkembang biar di sana."


"Benarkah?" Tanya Meru.


Kyoshiro mengangguk. "Iya, kita akan berangkat ke pulau 10 menit lagi, bersama semua orang yang telah memiliki tiket. Kita memerlukan waktu setidaknya 12 jam untuk sampai ke pulau."


"Ti-tiket? A-apa? Ba-bagaimana dengan Ibuku?" Tanya Meru mulai panik.


"Ini pulau pribadi, tidak cukup untuk menampung semua orang. Hanya kenalan Ayahku saja yang diijinkan ke sana.


Meru kaget, itu berarti Ibunya tidak akan diijinkan masuk? "Kyoshiro, aku tidak akan pergi tanpa Ibu. Lagipula aku juga tidak punya tiketnya. A-aku akan pergi ke Ibu." Meru hampir saja membuka pintu mobil, tapi Kyoshiro menahannya.


"kau akan pergi menemui ibumu dengan keadaan seperti itu? Lihatlah." Kyoshiro memberi isyarat dengan mata agar Meru melihat layar monitor.


Kota sudah tampak mengerikan, minimarket mulai dijarah, karena pengumuman dilarang keluar rumah mereka mengumpulkan banyak stok makanan.


Nyamuk tak kenal siang atau malam mereka berterbangan memenuhi langit. Bahkan nyamuk yang tak punya tempat untuk bersembunyi lagi telah memenuhi dahan-dahan pohon, lampu dan kursi taman. Bergerombol tampak menjijikan.
Mata Meru mulai berkaca-kaca. Tidak mungkin ia bisa menemui Ibunya jika jalan ke sana saja dipenuhi para pembunuh kecil. Ia bisa saja mati tanpa bertemu Ibunya.


"Jika kau ingin tetap menemui Ibumu, pergilah. Aku tidak akan menahanmu untuk yang kedua kalinya." Ucap Kyo dingin.


"Be-berapa harga tiketnya? Aku akan membelinya untuk ibu juga." Meru panik.


"Kau punya tiket untuk masuk ke kapal rombongan pertama." Kyoshiro menunjukan namanya yang sudah tercantum di daftar pemilik tiket. "Aku rasa paman Motoyama mendaftarkan semua orang terdekatnya untuk ke pulau, hanya saja daftar nama rombongan kedua belum muncul. Mungkin Ibumu akan berangkat besok atau lusa. Tenang saja, bahkan Ayahku dan paman Motoyama tidak berangkat hari ini."


"Be-benarkah?" Mendengar pernyataan Kyoshiro, Meru menjadi tenang kembali. Ia tahu Ibunya adalah kepala pelayan yang sangat penting di keluarga Motoyama, pasti tuan besarnya akan membawa serta Ibunya.


"Kita berangkat sekarang." Ajak Kyoshiro lalu membuka pintu, keluar dari mobilnya sambil menggendong ransel. Mereka akan berjalan menuju dermaga, sementara Meru mengikutinya dengan berlari kecil.


Sesampainya di kapal mewah berdesain modern itu tak hentinya Meru berdecak kagum atas kemewahan yang ada. Baru kali ini ia menaiki kapal pesiar seperti orang kaya.


Kapal yang dipenuhi fasilitas mewah dan mahal. Dilengkapi kolam renang, taman, gym dan minibar yang menyediakan minuman atau makanan ringan. Namun sayang dia pergi karena pandemi, tidak bisa menikmati kemewahan yang ada karena pengoperasiannya ditiadakan.


Lalu ia tiba di sebuah ruangan mirip hotel dengan pintu-pintu berjajar. Kyoshiro membuka salah satu pintu dengan nomor 015. "Istirahatlah, ini kamarmu. Jika butuh sesuatu kau bisa memanggilku di kamar 001 lorong VVIP. " Kata Kyoshiro menunjuk dengan matanya salah satu lift yang menghubungkan ke atas.


"Tapi Kyo, aku pikir kita bisa berbagi kamar. Ak-"
"Aku hanya membantumu sebagai sesama manusia, aku harap kau tidak terlalu menganggap perlakuanku padamu istimewa. Aku tidak punya perasaan khusus padamu." Cecar Kyoshiro.


Setelahnya ia berbalik meninggalkan Meru yang menatap punggung Kyo dengan sedih.


Ditolak mentah-mentah tentu saja Meru sedih. Dia sangat tahu jika Kyoshiro tidak menyukainya, tapi bicara terus terang seperti itu apa Kyoshiro tidak memikirkan perasaannya?


Di tengah kesedihan tanpa Meru sangka-sangka seseorang tiba-tiba merangkul pundak sambil meremas sebelah payudaranya. Sontak ia menjerit kesal.


Tapi orang itu hanya tertawa seolah itu hal yang lucu. Siapa lagi kalau bukan si pengecut Taro Motoyama.


"Meruuu... Tidak kusangka kau selamat. Kau tau aku hampir mati karena terus menangisimu hari ini. Tapi syukurlah kau selamat, meski dengan luka-luka yang...ck menyedihkan ini." Seperti biasa Taro berbicara dan menatap seolah Meru adalah manusia paling remeh di dunia.


"Jangan ganggu aku tuan muda. Ini bukan waktu yang tepat untuk bermain-main, pikirkan saja bagaimanana agar kau bisa tetap hidup meski yang lain harus mati."


Balas Meru menyindir, ia kesal dua kali ditinggalkan Taro dan hampir menjadi mangsa nyamuk.


Tanpa menanggapi pemuda itu lebih lama, Meru memutar knop pintu kamarnya berniat istirahat. Tapi Taro tidak membiarkannya. Seperti biasa ia cengkeram lengan Meru kuat-kuat.
"Kenapa sombong sekali? kau pikir dengan uang siapa kau bisa berada di sini?"


Meru menghela napas, "Tuan besar pasti membayarnya untukku. Aku sangat berterima kasih, tapi pada tuan. Bukan denganmu." Ia coba mengkibaskan cengkeraman Taro tapi Taro lebih kuat menahannya.


Taro tersenyum mengejek, "Kau senang?" Meru mengangguk percaya diri. "Meski itu artinya kau harus membiarkan ibumu mati?"


Mendengarnya senyum bangga di wajah Meru menghilang. "Apa maksud tuan muda?" Tanya Meru penasaran.


Taro tak pernah menghilangkan senyum mengejek nan mengesalkan itu dari wajahnya, "Kau pikir ibumu mampu membelikan tiket ini? Bahkan gajinya seumur hidup tidak akan cukup."


Hati Meru panas mendengar Ibunya dihina, matanya berkaca-kaca. Tapi ia mencoba menahan diri. "Tuan muda tidak usah basa-basi, katakan saja apa yang sebenarnya terjadi." Tanyanya hampir menangis.


Taro mendengus remeh. "Baiklah aku akan memberitahumu yang sebenarnya." Kata Taro sinis. "Seperti yang kita tahu, pandemi sudah tidak terkontrol lagi, tidak ada tempat yang aman di kota. Hanya ada satu tempat yang aman. Yaitu di pulau Siluang. Pulau yang akan kita datangi, untuk ke sana semua orang terkaya di kota ini berlomba-lomba membayar dengan harga tertinggi agar mereka bisa pindah. Bahkan menjual semua aset mereka. Meski begitu banyak diantara mereka tetap tidak bisa berangkat, karena pulau hanya bisa dihuni tiga ribu jiwa. Dan kau masih percaya bahwa Ibumu yang miskin itu akan menyusulmu? Sadarlah Meru, ini bukan piknik ke taman hiburan. Tapi Ayahku sangat murah hati, dia membeli satu tiket untuk pembantu favoritnya yaitu Ibumu agar bisa pergi. Tapi Ibumu malah memberikannya padamu. Aku benar-benar tersentuh."


Mendengar penuturan Taro, badan Meru terasa lemas, ia menangis dan panik sambil menarik kedua tangan Taro untuk ia peluk, "Tuan muda aku mohon bawa Ibuku ke pulau, aku mohon padamu Tuan muda! Beri satu slot untuk Ibu, aku akan melakukan semua yang tuan muda perintah. Aku mohon tuan muda!" Meru jatuh berlutut, ia sangat takut ibunya tidak akan selamat. Yang ada di kepalanya hanya keselamatan ibunya saat ini.


Mendengar dan melihat Meru yang kacau seperti itu, Taro tersenyum jahat. "Menuruti semua perintahku? Penawaran yang menarik eh?"


Meru mengangguk tersedu-sedu, "Apapun tuan muda. Aku mohon, biarkan ibuku pergi bersama tuan besar."


"Wow aku suka kesepakatan.Baik...berdiri lah." Dia mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Meru berdiri. Lalu berbisik di telinga Meru. "Aku akan memberi Ibumu tiket, tapi tidurlah denganku dan layani aku sampai aku bosan." Taro menyeringai menang, tak lupa sambil ia remas payudara Meru yang sekal. Gadis itu berjingkat, tak menjawab. Tapi di wajahnya terlukiskan kebimbangan yang teramat sangat.


"Tidak usah terlalu banyak berpikir, menolak atau setuju aku akan tetap memakaimu untuk bersenang-senang. Bedanya jika kau datang sendiri ke kamarku, kau menyelamatkan Ibumu." Lanjut Taro sambil mengecup bibir Meru. Membiarkan gadis itu mematung memikirkan perkataan pemuda yang kini sudah meninggalkannya sendiri.

MOSQUITO
4 jam sebelumnya.

Sementara itu ketegangan melanda para dewan daerah yang tengah mengadakan rapat darurat. Mulut mereka terkunci rapat tatkala melihat monitor seukuran raksasa menampilkan bagan voting yang menunjukan batang berwarna merah mempunyai nilai 70% dibanding bagan berwarna biru tua yang hanya 30%.


Itu adalah voting untuk melumpuhkan seluruh kota beserta isinya.


Walikota mendapatkan opsi untuk menjatuhkan gas beracun tinggi agar kawanan nyamuk lenyap tak bersisa, itu akan berefek pada semua makhluk hidup di dalamnya. Mereka tidak akan selamat jika gas itu sampai terhirup, termasuk manusia.


Miris opsi itu yang para petinggi pilih, karena mereka punya opsi lain untuk pergi ke pulau Siluang, mengorbankan rakyat kecil yang terinfeksi dan tidak mampu membeli tiketnya.


Lagipula menurut mereka tidak ada jalan lain, rakyat yang terinfeksi tidak akan bisa hidup lebih dari 6 jam. Pengobatan mereka menghabiskan dana daerah, namun jika hanya 5% yang selamat pemerintah anggap itu adalah pemborosan tiada guna.


Sementara Negara pun mulai angkat tangan dan membiarkan para wali kota memutuskan apa yang menurut mereka benar.


"Lebih cepat lebih paik Pak." Ucap salah satu pria separuh baya mencoba mempengaruhi wali kota.


"Kita harus mempersiapkannya, saya akan menghubungi Pak Harada untuk menanyakan apakah bahan kimianya semua sudah cukup." Jawab pria berkacamata tebal, penasihat kota.


"Baiklah, lakukan dengan rapi. Kita tidak boleh membuat rakyat merasa sakit hati karena ini. Buat semuanya lebih mudah, jangan ada yang tersiksa. Buatlah ini seperti kecelakaan." Ucap walikota dengan wajah yang sedih. Pria tua itu merasa sangat berdosa, merasa gagal tidak bisa melindungi rakyatnya.


MOSQUITO

3 jam sebelumnya


"Aku tidak bisa menahannya lagi. Kita harus mengaku, meminta maaf pada semua orang dan bertanggung jawab." Ucap Sato Harada yang sangat terpukul mendengar kabar bahwa keputusan wali kota adalah meninggalkan rakyat yang terjangkit selama pemusnahan.


Sementara itu lawan bicaranya menautkan alis dengan tatapan tajam. "Aku tidak setuju! Jika anda ingin mendekam di penjara, pergilah sendiri!"


"Kita melakukan ini bersama."


"Hah aku tidak terlibat sama-sekali pak Harada. Sejak satu bulan yang lalu 'MYG COMPANY' bukan lagi milikku."


Sato Harada benar-benar tidak mengerti. Ia hanya memperhatikan rekannya itu membuka berkas dari koper, lalu menunjukan bahwa Myg company telah berganti nama pemilik menjadi Arashi Kojima. Sejak awal kerja sama mereka juga ditandatangani oleh Arashi Kojima, tidak ada satu berkaspun yang menyatakan Koji Motoyama terlibat, padahal Harada benar-benar yakin ia menandatangani berkas yang sah atas nama Koji Motoyama.


Melihatnya raut wajah Sato Harada berubah menjadi geram."Anda benar-benar licik!" Tentu saja, karena Koji Motoyama telah mengganti nama pemilik perusahaan dengan nama supir pribadinya agar ia tidak terlibat.


Koji Motoyama telah menipu Sato Harada untuk keuntungan pribadinya. Entah dengan cara apa pria licik itu membuat namanya benar-benar bersih.Dan untuk sementara ia akan aman dari penyelidikan karena pemerintah hanya fokus pada pandemi.


"Sekarang terserah padamu saja Pak Harada. Silahkan mengaku dan bertanggung jawab jika anda berniat seperti itu." Ucap Koji Motoyama dengan wajah licik, lalu ia pergi meninggalkan Sato Harada yang mematung tak habis pikir.


Tapi meski begitu ia tetap membulatkan tekad untuk mengakui semua perbuatannya.


Tiga jam setelah pertemuan mereka, Sato Harada mendatangi stasiun TV yang masih beroperasi dan mengumumkan perbuatannya.


Permintaan maafnya telah disiarkan ke seluruh penjuru kota, rumah sakit, rumah-rumah yang masih berpenghuni, dan pada monitor-monitor iklan di kota yang telah mati. Dan tentu saja di kapal yang sedang putranya tumpangi.


Kyoshiro berlari ke aula kapal setelah Meru menggedor pintunya dan memberi tahukan bahwa Ayahnya muncul di televisi.


Di sana ia membelah kerumunan orang yang sedang menyaksikan pidato Ayahnya, mereka sudah ramai menghujat Sato Harada dengan kata-kata kotor dan menyakitkan.


"Saya merasa sangat malu dan merasa tidak pantas menyelamatkan hidup saya sendiri. Oleh karena itu saya memilih untuk tetap di sini." Kata Sato Harada yang kemudian membungkuk sangat dalam pertanda dirinya benar-benar menyesal, ia juga menangis tak tertahan.


Kemudian pria separuh baya tersebut kembali berdiri tegak dan membuka suara lagi. "Dan sebagai sedikit rasa bersalah yang saya rasakan, saya meminta kepada kalian semua agar segera menyelamatkan diri. Karena beberapa jam lagi pemerintah akan menjatuhkan gas bera-"


'Dor!'


Sebelum Sato Harada menyelesaikan ucapannya, sebuah peluru sudah terlebih dahulu menembus dadanya, pria itu terjatuh. Siaran tiba-tiba dihentikan.


"Ayah..." Lirih Kyoshiro yang tak percaya. Semua orang di sana menjerit, keadaan menjadi sangat kacau. Kyoshiro shock tak bergerak melihat apa yang terjadi barusan pada Ayahnya.


"Kyoshirooo." Meru memeluk tubuh itu kuat-kuat. Pikirannya bercampur aduk. Di lain sisi ia memikirkan keselamatan Ibunya, di lain sisi ia takut sekali melihat Ayah Kyoshiro yang tertembak barusan. Itu kejadian yang benar-benar mengguncang jiwanya.


MOSQUITO

4 jam kemudian

Tok tok tok


Kamar Meru diketuk dari luar, ia yang berbaring miring sedikit terkejut karena bayangannya menerawang.


Ia buru-buru bangkit dan membuka pintu, Meru dikejutkan oleh layar ponsel yang tiba-tiba berada di depannya. Sempat terkejut kemudian ia hampir menangis sambil tersenyum, "Ibu..." Ia melihat Ibunya tersenyum di layar ponsel yang ternyata dibawa Taro.


"Meru...kau terlihat sangat pucat nak..." Ibu Meru tampak tersenyum di layar ponsel. Sementara Meru sudah tidak bisa lagi berkata-kata, melihat senyuman Ibunya adalah hal yang paling melegakan saat ini baginya. Dia hanya bisa menangis tanpa suara.


"Nak jangan menangis. Selamatkan dirimu, kau harus hidup dengan sehat dan bahagia."


"Ibuuuu...." Tangis Meru.


"Nak ibu minta jangan menangis, jangan pikirkan Ibu, jika kau benar-benar mencintai ibu, hiduplah dan jangan biarkan perjuangan ibu saat melahirkanmu sia-sia."


"Ibuu... Aku merindukan Ibu..."


"Ibu juga merindukan Meru, Ibu sangat mencintai Meru. Tapi sudah dulu ya nak, Ibu harus segera memasak untuk tuan besar. Lagipula, uhuk! semua orang mengantri untuk berbicara pada keluarganya."


"Tidak ibu... Aku masih ingin bicara pada Ib-"


Klik


Taro mematikan ponselnya. Meru menatap Taro dengan pandangan memohon agar mereka dihubungkan kembali.


Tanpa sepengetahuan Meru, Ibunya meraba lengan kirinya yang memerah. Ada bekas gigitan nyamuk terlihat jelas, bahkan luaran kulitnya telah membiru. Sedetik kemudian ia terbatuk dan memuntahkan darah.


Ia tatapi sekeliling, gas beracun yang dijanjikan pemerintah telah disebar luaskan. Semua orang di rumah besar itu telah tergeletak sekarat setelah tergigit sekumpulan nyamuk berhasil melewati celah. Kini mereka bisa pergi dengan mudah setelah menghirup gas beracun.


Sisa Ibu Meru yang kini susah bernapas, susah bergerak, kemudian pandangan menggelap. Ibu Meru pun akhirnya jatuh di lantai yang dingin meninggalkan dunia.


Sementara di tempat Meru ia merebut ponsel itu dari Taro. "Ibu...ibu." Dengan panik ia berusaha menghubungi nomor yang ibunya pakai, tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Berikutnya ia melihat Taro yang sedang menatapnya dengan senyuman licik.
"Tuan muda, tuan muda. kau bilang ingin tidur denganku. Ayo, ayo kita lakukan sekarang. Aku akan menyenangkanmu." Kata Meru dengan napas tersengal, kemudian ia berjinjit mengalungkan tangannya ke leher Taro dan melumat bibir Taro tanpa ragu.


Taro dingin tak membalas, ia yang biasanya selalu berusaha menyentuh Meru sesukanya hanya diam. Sementara Meru menarik tangan Taro untuk menyentuh bagian-bagian sensitivnya.
"Tuan muda ayo, ini dada kesukaanmu kan? Ayo remaslah seperti biasanya. Oh kau suka jika dia tidak berpenghalang?" Meru membuka polo shirt dan membuangnya, bahkan mengeluarkan payudaranya. "Sudah, aku sudah mengeluarkannya. Tuan muda, kau paling suka putingku kan? Lihat dia ingin sekali dihisap olehmu."


"....."


Meru mulai frustasi melihat Taro hanya diam dan menatapnya aneh. "Tuan muda ayolah, tuan muda! Tuan muda ayo kita bercinta, tuan muda cepat sentuh aku! Tuan muda ayo tiduri aku dan selamatkan Ibu..." Ia menangis, tubuhnya merosot ke bawah. Ia menangis bersujud di kaki Taro putus asa.


Di tengah tangisannya, Taro menarik lengan Meru agar gadis itu berdiri lagi. "Bangunlah." Ia mendorong tubuh Meru pelan ke tembok dan mempersempit jarak. Tangannya menyentuh paha Meru, terus berjalan memasuki rok dan berhenti di pangkal paha.


Meru menelan ludah. Taro menyentuh gundukan milik Meru di sana, menurunkan sedikit celana dalam itu lalu menyentuh permukaan kewanitaannya. Menggosok sebentar, meremas kemudian menguak lipatannya dengan jari dan menggosok klitorisnya.


Meru memejam, membiarkan Taro menyentuh area paling pribadinya. Ia berusaha menikmati sentuhan yang sesungguhnya sangat ia benci.


Tapi saat Meru berusaha menikmati, Taro berbisik padanya. "Aku tidak suka kau melakukannya dengan terburu-buru.


Mandi, beristirahatlah, aku lebih suka kita melakukannya nanti jika kau sudah lebih tenang." Setelah mengatakannya Taro mengeluarkan tangannya dari area pribadi Meru, membuat gadis itu bernapas lega. Tak lama pemuda itu kemudian pergi dengan senyuman khasnya. Licik dan menjengkelkan.


Sepeninggalan Taro, Meru masuk ke dalam kamar mencoba menenangkan pikirannya. Ia duduk di tepian ranjang menggigiti kukunya.


Setelah lebih tenang ia berpikir, sebentar lagi Taro akan memilikinya. Padahal selama ini ia hanya bermimpi akan menyerahkan semuanya pada Kyoshiro.


Tapi sampai hari ini pemuda itu tak ada sedikitpun sinyal membuka hatinya untuk Meru.


Tapi Meru tak kehabisan akal, ia bangkit lalu pergi mandi. Ia harus melakukan sesuatu agar Taro gagal merenggut kesuciannya.


MOSQUITO
Tok tok tok

Kyoshiro yang sedang melamun menatap lautan biru melalui kaca tersentak mendengar ketukan pintu. Terakhir setelah ia membuka pintu, Kyo melihat Ayahnya tertembak dan meninggal. Kali ini ia ragu untuk membukanya kembali.


Tapi tidak ada lagi yang lebih buruk dari kehilangan orang tua. Lagipula ketukan pintu itu terdengar lebih tenang, jadi mungkin tidak ada kabar yang buruk lagi.


Setelah meninmbang, dengan malas Kyoahiro berjalan ke pintu dan membukanya. Di depan kamarnya gadis yang sama, yaitu Meru langsung memeluknya tanpa basa-basi.


"Meru." Panggil Kyo sambil berusaha melepaskan pelukan Meru. Tapi ia melihat kedua pundak kecil itu berguncang kecil, dan gadis itu terisak di dadanya.


Kyoshiro membiarkannya sebentar. Ia mengerti keadaan saat ini membuat semua orang menjadi takut, apalagi Meru masih belum mempunyai kejelasan akan nasib ibunya.


Kyoshiro yang baru saja kehilangan orang tua mencoba membiarkan Meru. Yah meskipun ia tidak terlalu akrab dengan ayahnya dan cenderung selalu melawan, Kyo tau perasaan itu.


Tak lama Meru melepaskan pelukan, menghapus air mata dan menatap Kyo dengan mata yang basah, "Jangan bertanya kenapa karena itu hanya akan membuatku bersedih." Ucapnya berkaca-kaca.


Kyoshiro hanya diam. Tak kuat rasanya lama-lama menahan bertatapan dengan mata bulat Meru yang menghipnotos. Kyoshiro membuang atensinya ke lautan lepas.


Tapi saat ia sedang memandang ombak-ombak kecil di permukaan lautan biru, Meru menatapnya. Mata Kyo yang selalu terlihat tajam dengan alis yang hampir selalu tertaut, seolah pemuda di sampingnya ini selalu waspada akan sesuatu, tidak pernah ada senyuman di sana. Rasa benci kah? Atau amarah? Bahkan kesedihan. Meru baru menyadari dibalik tampannya pemuda yang seperti keluar dari manhwa itu, ada beban yang mungkin membuatnya merasa tidak pantas tersenyum.


Dengan perasaan yang bercampur aduk ia mengulurkan tangan berjari lentiknya menyentuh kepala Kyo dan membuatnya berhadapan dengannya
"K-kau?" Ucap Kyo salah tingkah. Ia membulatkan matanya namun tak bergerak terlalu berarti.


Meru hanya menatap wajah Kyo dengan tatapan penuh perasaan, ia belai garis rahang Kyo, pipi yang terasa dingin itu. Dan perlahan bergerak kebelakang kepala Kyo. Tanpa skenario, ia menarik kepala pemuda itu agak merendah agar wajah mereka berdekatan.


Cuph Dan kecupan ringan mendarat di bibir Kyo.


Kyoshiro melebarkan iris gelapnya tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. "Meru apa yangh-" Tidak sempat melanjutkan pertanyaan Meru kembali mencium bibir Kyo, kali ini lebih lama dan semakin dalam.


Rambut di permukaan kulit Kyo berdiri menerima perlakuan Meru, apalagi saat Meru mulai berani menjilati bibirnya pelan seperti seekor kucing yang merawat tubuhnya.


Kyo yang mulai tidak nyaman dengan Meru berusaha melepaskan cengkeraman tangan Meru di kepala belakangnya. Meru, berhenti. Namun Meru tidak menyerah dia tetap menahan tubuh Kyoshiro untuk tetap berada ditempat itu. Bahkan ia mulai berani menghisapi bibir pemuda yang berbeda kasta dengannya ini.


Ia juga nekat menjulurkan lidahnya, mendorong masuk untuk menginvasi seluruh rongga Kyoshiro hingga membuat pemuda itu sedikit tersedak.


"Meru?" Lagi-lagi Kyo tidak bisa berkata-kata setelah ciuman dan lumatan Meru di bibirnya menguras persediaan oksigen dari paru-parunya. Bahkan gadis itu tak kalah terengah.


Kyoshiro kembali mencoba menjaga jarak, namun saat matanya menangkap bulir air mata yang jatuh di mata Meru yang bening Kyoshiro mengurungkan niatnya. Meru, berpikirlah dengan jernih. Aku tau ini berat untukmu, tapi bukan hanya kau yang merasa menderita."


Meru menggeleng sambil menangis, Kyo, mungkin ini satu-satunya kesempatan."
Kening Kyoshiro berkerut mendengar pernyataan Meru, ia mencoba menerka apa yang dimaksud oleh Meru.


Dengan gemetar dan jantung berdebar jemari lentik gadis bernama Meru Takahashi ini membuka kancing polo shirtnya. "Aku menyukaimu Kyoshiro! Aku tau, aku tidak pantas untukmu. Tapi aku mohon terimalah bukti cintaku ini agar aku bisa menjalani hidupku di kemudian hari."


Setelah selesai mengatakannya, ia melepas kaus itu dari tubuhnya. Kini hanya bra berwarna hitam yang tak cukup menampung gundukan seputih salju yang membuat Kyoshiro menelan ludah sambil menggeleng.


Perlahan ia juga meloloskan salah satu tali branya, "Taro akan menyelamatkan ibuku jika aku mau bercinta dengannya. Kyoshiro aku mohon bercintalah denganku sebelum aku melakukannya dengan Taro!" Isak Meru menjadi.


"Apa?! Kau akan tidur dengan Taro?!" Kyoshiro tak habis pikir mendengar pengakuan Meru, jujur saja ia merasa tidak suka dengan cara Taro. Tapi sekarang ia tidak bisa berbuat banyak, Ayahnya dibenci semua orang, keputusannya tak mungkin lagi dihormati.
Ia bukan lagi Kyoshiro yang penuh kekuasaan. Bahkan terakhir ia dengar, urusan kepindahan ke pulau Siluang telah beralih ke tangan Koji Motoyama.
"Kyoshiro, aku mohon terimalah bukti ketulusanku padamu." Lanjut Meru benar-benar melepas penutup dadanya, membiarkan ia terbuka di depan Kyoshiro yang memalingkan wajah.


"Meru terima kasih, aku menghargai perasaanmu. Tapi aku mohon pakai kembali pakaianmu. Atau aku akan benar-benar marah padamu."


"Kyo aku mohon, aku tidak mau menyerahkan sesuatu yang berharga ini untuknya. Aku menjaganya hanya untuk Kyoshiro." Rengek Meru tak berhenti menangis. "Aku berjanji tidak akan mendekatimu setelah ini."


"Lalu jangan lakukan itu! Kau pikir siapa Taro? Dia hanya akan menipumu!" Entah kenapa Kyoshiro menjadi sangat emosi mendengarnya, ia berteriak di depan wajah Meru. Ia benar-benar tidak terima jika sampai gadis di depannya ini menjadi budak seks Taro belaka.


Nyali Meru ciut, "Ke-kenapa kau sangat marah? Kau bahkan tidak peduli saat tuan muda Taro melecehkanku di kampus."
"Aku? Aku tidak pernah tau sebelumnya Meru." Jawab Kyoshiro penuh sesal, "Aku pikir dia hanya sekedar memperbudakmu, tidak lebih dari itu."


Kyoshiro memungut kembali kemeja Meru, ia letakan di depan tubuh Meru menutupi payudaranya yang terbuka bebas. Kemudian memeluk gadis itu penuh perasaan.


"Jangan datang menemui Taro, kita cari cara lain untuk menyelamatkan Ibumu."


"Tapi Kyoshiro..." Dalam pelukan Kyoshiro, Meru mendongak menatap wajah pria itu. Kali ini Kyoshiro tidak memaling, ia membalas tatapan Meru. Dan entah kenapa ia merasa jatuh ke dalam mata bening yang menghipnotis itu. Hingga keduanya saling berusaha menjangkau bibir masing-masing. Dan memejam ketika kedua bibir dari pemilik yang berlawanan jenis itu menempel lembut.
Perlahan Kyoshiro membuka mulutnya, melumati bibir Meru yang kali ini berganti tak membalas karena ia tak percaya Kyoshiro melakukannya. Tapi Kyo tak berhenti, hingga Meru tersadar dan membalasnya berirama.


Mata mereka memejam, kamar hening, hanya suara kecupan mendominasi. Keduanya saling menyesap rasa manis masing-masing, menikmati ciuman yang emosional. Hingga akhirnya keduanya saling melepaskan untuk mengisi oksigen kembali.


Masih dengan napas terengah, seolah sadar perbuatannya barusan, pipi Kyoshiro memerah. Dan belum habis perasaannya yang campur aduk itu, Meru beringsut kebawah langsung menyentuh resluiting celana Kyo dan menurunkannya.


Kyo terkejut, Meru! Kita tidak perlu melakukan ini." Dia menahan tangan Meru, tapi jemari gadis itu kelihatannya lebih terampil terbukti dengan junior Kyo yang sudah berada digenggamannya dan langsung ia masukan ke mulut.


"Cukup Meru. Aaah! Bibir Kyoshiro dibungkam oleh lengkuhannya sendiri saat merasakan kepunyaannya berada didalam mulut Meru yang hangat dan basah.


"Meru, berhenti." Perintah Kyo berusaha tetap sehat, meski Meru mulai liar menggunakan permukaan lidah kasarnya untuk menggelitik ujung kepala kejantanannya.


"Uufffhh." Kyoshiro terdiam, matanya terpejam sambil mendesis-desis menikmati sensasi geli yang menyenangkan sampai ke ubun-ubun. Sesekali ia menunduk untuk menatap wajah cantik Meru yang sibuk mencecapi setiap senti kepunyaannya.


Meru... Menggigit bibir bawah dengan tatapan menyipit, Kyoshiro membelai kepala Meru dengan lembut, dalam hati sedikit penasaran darimana Meru belajar memanjakan pria dengan cara seperti itu.


Kini Kyoshiro merasa tubuhnya semakin panas saat lidah basah Meru menyapu seluruh permukaan alat vitalnya dan berakhir di bagian ujungnya.


Cairan bening mulai keluar tapi Meru malah menggoda, ia menjulurkan lidah hanya untuk mencicip ujung kepala juniornya, menjulur menempel beberapa kali membuat Kyo gemas ingin menarik kepala Meru agar kepunyaannya tertelan seluruhnya.


"Meru please...berhenti."


Meski Kyo berkata seperti itu, Meru tau Kyoshiro menyukainya. Reaksi tubuhnya tidak bisa berbohong, dan Meru senang karenanya. Ia pun semakin menggila, semakin berani menyentuh kejantanan Kyoshiro lebih. Bahkan ia berani meremas selembut mungkin kedua bola yang menggantung di pangkal dan mengulum lagi batangnya, membuat si pemuda merinding keenakan.


Meru melirik wajah Kyoshiro ke atas tanpa melepaskan kulumannya, pemuda itu tengah menatapnya sayu dengan mulut terbuka menahan serangan yang diberikan olehnya.


Meru mengulum senyum senang karena berhasil menyenangkan pria pujaannya. Mungkin jika nanti bertemu Nami di surga suatu saat, Meru akan mengucapkan terima kasih karena sudah meminjaminya Novel erotis, yang sampai sekarang masih Meru ingat adegan demi adegan panas yang membuat pipinya memerah kala itu. Tapi kini sekarang ia praktekan pada Kyo.


Meru tersenyum, perlahan berdiri membalas tatapan Kyoshiro yang semakin menggelap. Lalu ia raih tangan kanan pria itu dan mendaratkannya di dada kirinya.
"Aku pikir cukup, Meru." Dengan suara berat menahan birahi Kyoshiro menolak, namun penolakkannya tidak bisa di terima Meru.


"Aku mohon...sekali saja. Kyoshiro...aku sangat menyukaimu." Meru berbisik dengan tatapan memohon, menuntun tangan Kyoshiro agar meremas dadanya yang sudah terbuka tanpa penutup.


Kyoshiro menelan ludah lagi, ia bingung sekali. Ini salah, tapi godaan di depannya begitu kuat. "Kyoshiro..." Suara manja Meru membuatnya gila, ia memilih menuruti Meru, menggunakan telapak besarnya untuk meremas salah satu payudara Meru.


"Aaaah..." Meru mendesis saat tangan kekar itu meremas dadanya, tidak hanya satu tangan tapi kini Kyoshiro menggunakan kedua tangannya untuk meremasi kedua payudara Meru.



Ia mendekatkan kepalanya ke leher mulus itu, mengecup hangat, menjilat hingga menghisap gemas.Hingga Kyo bisa merasakan puting-puting Meru mengeras di genggamannya, setelahnya Kyoshiro memijit pelan puncak kecoklatan tersebut membuat Meru mengeluarkan suara yang mulai Kyo sukai.


Tangan Meru tak mau menganggur, gadis itu mulai menarik kaus yang dipakai Kyoshiro membuatnya setengah telanjang, sengaja agar dada bidangnya terekspose di depan matanya.


Tak berhenti di situ, dia menurunkan tangannya untuk menggenggam kejantanan Kyoshiro yang masih keras.


Tak mau kalah Kyoshiro memilin ujung dada Meru dengan lembut penuh perasaan. Sekali lagi itu shock terapi untuk Meru, ia menjerit kecil, menggelinjang, memejamkan mata mendesah keenakan. Kyo yang melihatnya semakin bernapsu, wajah Meru semakin menggoda, sentuhannya membuat dirinya mulai kehilangan akal dan memilih menurunkan ciumannya ke dada Meru.


Jantung keduanya semakin berdegup keras saat sorot mata Kyoshiro bergantian menatap wajah dan dada Meru bergantian. Sebenarnya ini adalah saat yang paling memalukan bagi Meru, tapi ia juga merasa semakin bergairah dan seksi.


Napsu Kyoshiro kian memuncak, ia ingin segera melahap puting Meru yang mengkilap karena lelehan keringat, tapi ia ragu melakukan hal yang lebih jauh. Ia menatap mata Meru seolah meminta ijin, yang dibalas anggukan penuh harap.
Mendapat ijin dari si empunya, tak ragu Kyoshiro melahap puting menggemaskan itu. Menggelitik ujungnya, menghisapnya seperti bayi kelaparan. Meru tak berhenti menggeliat, tak berhenti mendesah pasrah. Ia ikuti apapun yang Kyo inginkan, ini adalah penyerahan seutuhnya.
"Meru???" Lagi, Kyoshiro melirik Meru dari dadanya, ragu untuk memulai gerakan selanjutnya. Padahal Meru sudah benar-benar pasrah.
Kali ini Meru memberi kode melalui pijatan di batang Kyoshiro. Ia menempelkan kejantanan Kyo ke kewanitaannya yang masih tertutup rok mini.
Kyoshiro menerima sinyal itu, ia bangun menegakan badannya, menelusupkan telapak tangannya ke tengkuk Meru dan mencium bibir basah gadis itu. Keduanya kembali berciuman panas, memejamkan mata menikmati aroma mint dan vanila yang bercampur antara keduanya. Pertautan lidah pun terasa semakin panas.
Meru membiarkan lidah Kyoshiro membelit lidahnya, menghisapinya, bertukar saliva dan saling melumat penuh perasaan.
Dalam mabuk dunia yang tengah dikecap, secara naluriah keduanya ingin segera menyelesaikan babak berikutnya. Mereka saling menyingkirkan baju yang masih menempel menjadi pengganggu. Meru membuang celana Kyoshiro, dan Kyoshiro melepaskan rok Meru menyisakan celana dalam hitam tipis.
Karena gerakan yang dibuat mereka semakin panas, tanpa sadar mereka sudah berjalan kesamping ranjang. Meru menundukkan wajahnya saat Kyoshiro memandangi kedua buah dadanya yang dibiarkan menggantung, jantungnya berdebar saat tangan Kyoshiro terulur menggapai dan meremasnya kembali.
Sesaat keduanya saling tatap seolah berbicara tanpa suara. Meru mengangguk pelan diiringi gerak jari-jari Kyoshiro yang menyentuh berusaha meloloskan kain tipis yang menjadi kain penutup terakhir.
Jantung keduanya berdebar cepat.Kyoshiro... lirih suara Meru saat kepunyaannya disentuh, tubuhnya jatuh ke pelukan Kyoshiro. Itu adalah usahanya menyembunyikan rasa malu saat jari-jari pemuda itu membelai belahan basah miliknya.
Dalam posisi itu dapat Meru dengar suara detak jantuk Kyoshiro yang memacu cepat sama sepertinya. Aroma khas yang menguar dari tubuh Kyoshiro membuat Meru semakin dalam jatuh kedalam pesona sang pujaan. Eeemmmpphhh... Kyooshiro... Jangaaan disentuh. Rengek gadis itu ketika jari-jari Kyoshiro menyelusuri lipatan kemaluan yang masih terkatup rapat. Cairan kental buah dari gairah Meru merembes membasahi pahanya.
Kau juga jangan terlalu keras, kau mau membuatnya patah. Bisik Kyoshiro yang ternyata kelelakiannya diremas Meru sedikit lebih keras karena melampiaskan perasaan nikmat yang ia terima.
Keduanya tersenyum, saling menatap dengan kening yang saling bersentuhan. Dan itu adalah kali pertama bagi Meru melihat senyuman Kyoshiro yang membuatnya seperti dilempar ke langit ke tujuh.
Meru milyaran kali jatuh cinta lebih banyak pada pemuda itu. Ia tidak pernah mempunyai perasaan semegah itu sebelumnya.
Kau yakin ingin melakukannya? Tanya Kyoshiro ragu. Wajah Meru memerah, menatap mata Kyoshiro. Keduanya tampak kikuk, memang tadinya Meru yang menggoda Kyoshiro tapi jika melihat betapa indahnya Kyoshiro, sebagai wanita normal ia ingin sedikit saja menjaga image di depan lelaki yang dia sukai.
Tanpa sadar jari-jarinya memijat milik Kyoshiro, digenggam semakin cepat dan kuat membuat bibir Kyoshiro mendesis. Sssh..ohhh... Meru? Kau yakin?" tatapan Kyo menggelap dan penuh harap.
Tanpa menjawab, Meru kembali melumat bibir Kyoshiro, gadis itu tau cukup sulit bagi Kyoshiro untuk meminta menyatukan tubuh mereka, cukuplah lumatan bibir itu sebagai jawaban.
Tubuh keduanya terjatuh diatas kasur, paha sekal Meru dengan cepat bergerak membuka seolah memberi akses 100% pada Kyoshiro untuk menjelajahi sesukanya. Begitu juga dengan Kyoshiro, sigap memposisikan kepunyaannya tepat di tempat paling pribadi milik Meru.
Ooouhh... Kyoo. Lengkuhan itu kembali lolos dari bibir basah Meru, saat dengan susah payah Kyoshiro memulai untuk memasukinya.Eemmpphh..." Meru menggeleng karena Kyo kesulitan menyatukan tubuh mereka.
"Ennmh...turun sedikit... Ucap Meru dengan alis tertaut menahan gairah. Peluh Kyoshiro mulai membasahi keningnya saat tak juga ia temukan lubang surgawi milik Meru, sempit atau memang dia yang amatir.
Aaahhh! Pelan... Bukaaaan disituu. Uh sedikit lagi Kyo...lagii...Aaaah! Seketika suara Meru yang tadi begitu mendominasi hening, namun dalam hitungan detik berikutnya keduanya saling melempar senyum. Meski senyuman Meru sedikit menyiratkan bahwa disana ada rasa menahan sakit.
Kyoshiro menyentuh kening Meru, mengusap bulir keringat di sana dengan lembut. "Sakit?" Tanya Kyoshiro berbisik seksi, ia memandang Meru penuh perasaan. Gadis itu menggeleng menggigit bibir bawahnya.
"Katakan kalau sakit," Tambah Kyoshiro. Lalu ia bangkit dari tubuh Meru, merentang kedua kaki gadis itu keatas membuat nafas Meru seakan terhenti, seluruh ornamen bagian luar tempat paling pribadinya ditatap oleh Kyoshiro.
Huum..., ucap Meru pelan dengan tatapan pasrah, jari-jarinya menguak kedua bibir kepunyaannya, memamerkan celah sempit yang tadi tersebunyi dari mata Kyoshiro.
Sedikitpun Meru tak berani menatap wajah Kyoshiro karena rasa malu yang begitu besar. Jantungnya berdebar kencang seiring dengan kepunyaan Kyoshiro yang perlahan merapat dan menutupi celah sempit itu dengan helm nya yang besar.
Meru... panggilan Kyoshiro memaksa Meru untuk menatap pemuda itu.
Emmpphhhh.. Iyaaaa... Meru mengangguk pelan dengan wajah pucat sayu, merasakan bagaimana kepunyaan Kyoshiro perlahan menyelusup ke tempat pribadinya dan menyembunyikan kepala kejantanan Kyoshiro lebih dalam. Eeemmpphh Kyoshiro... lenguhnya saat Kyoshiro menarik kepunyaannya, namun tanpa diduga kembali masuk dan menusuk lebih dalam.
Ooooohhh....Kyoshiro menjatuhkan tubuhnya kepelukan Meru, mengecup lembut bibir tipis Meru, memandang mata Meru yang memamerkan kepasrahan, Meru... Maaf... ucapnya, setelah itu Kyoshiro tiba-tiba menghentak lebih keras, merobek selaput dara Meru yang menghalang.
"Aaaaakkhhhh.... Meru menjerit tertahan, kedua kakinya menjepit kuat pinggul Kyoshiro berusaha meredam rasa perih yang menyapa bersamaan dengan gairah yang menghantar rasa nikmat diseluruh sarafnya.
Ada perasaan bahagia di dalam dada Meru saat Kyoshiro yang melakukannya untuk yang pertama kali. Ini adalah salah satu impiannya, menyerahkan mahkotanya untuk lelaki yang paling dia cintai, yaitu Kyoshiro.
Keduanya membisu dalam lumatan lidah yang panas, sementara pinggul mereka bekerjasama dengan sangat epik, insting sebagai makhluk biologis menuntun tubuh mereka untuk mencari kenikmatan yang dihadirkan oleh lawannya.
"Uuhhh...Kyoshiro, teruslah seperti itu. Kalau akuuuh...uuh..tidak bisa memiliki cintamu, b-biarkan akuh memiliki tubuhmu..mmnnh," Tatap Meru mengelus lembut pipi Kyoshiro.
Pemuda itu tersenyum tak menjawab, dia benar-benar tak mau merusak suasana hati Meru, ia hanya menurunkan kepalanya mengecup bibir Meru lalu menyusuri lekuk leher Meru dan meninggalkan kissmark disana.
Tak lupa Kyoshiro menuruni bukit indah Meru yang begitu menantang, Ia kulum lagi bulatan kecil diujung dada itu, membuat Meru mendesis dan semakin erat memeluk tubuh Kyoshiro.
Kecipak dua alat reproduksi yang beradu meningkahi deru napas yang memburu. Rintihan penuh kenyamanan dari mulut Meru disambut dengan hangat oleh lenguhan Kyoshiro.
Sesekali Meru merentang lebar kedua pahanya seolah mempercayakan sepenuhnya kepada kepunyaan Kyoshiro yang keras tak henti menghujam kerelung lorong kewanitaannya.
Aaaagghhhh... Kyoshiro... Meru berteriak histeris, napasnya tersengal, merasakan sesuatu yang seolah dipaksa keluar dari tubuhnya. Aaaaaaagghhh...Kyoshiro! tubuh Meru mengejang, menggeliat, memeluk tubuh Kyoshiro dengan erat seolah ingin menghentikan gerakan pinggul Kyoshiro.
Tapi usaha Meru sia-sia, karena pinggul Kyoshiro justru menghentak lebih kuat dan lebih keras, pemuda itu juga tengah mengejar puncaknya yang berada diujung, hujaman kejantanannya semakin kasar dan semakin jauh memasuki Meru, membuat tubuh gadis itu menggeliat semakin liar, merintih dirudung puncak rasa nikmat yang tak berkesudahan."Kau suka??" bisik Kyoshiro menggoda Meru, sedangkan gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedari tadi memerah.
Hingga akhirnya napas Kyoshiro tercekat, menyatukan dirinya dengan Meru tak disangka senikmat itu. Perasaan yang bercampur aduk antara napsu dan sayang membuatnya semakin hilang kendali. Kyoshiro merasakan seluruh darahnya mengalir di lljepalanya, terasa panas. "Oouuhh... Meru!" Dalam hentakan yang kuat menusuk lebih dalam, dan menghambur benih kehidupan di rahim Meru.
Mengejat-ngejat mengantarkan cairan panas kekemaluan Meru yang mengangkat pinggulnya lebih tinggi seolah ingin memanjakan milik Kyoshiro."Aaaahhh..." Pemuda itu terjatuh disamping Meru.
Percintaannya barusan memang menguras seluruh tenaganya, dia tatap gadis berambut lembut itu juga sama seperti dirinya, dadanya yang besar naik turun menandakan dirinya benar-benar kehabisan napas dan tenaga.
Tangan kanannya meraih dahi Meru, menyisir rambut Meru kebelakang dengan tangannya, ada rasa bersalah yang sangat besar di dada Kyoshiro. Tak seharusnya dia melakukan ini pada Meru, seharusnya dia bisa menahan napsunya.
Meru menoleh kearah Kyoshiro, tersenyum puas dan manis. Tak ada sepatah kata-pun yang keluar dari mulut keduanya. Hanya diam seolah sedang bergelut dengan perasaan masing-masing.
Kyoshiro masih memainkan rambut Meru berharap tenaganya segera kembali pulih, tak pernah disangka sebelumnya bercinta sangat melelahkan seperti ini.


MOSQUITO
'Aaaaaaaarrrgh!'
Kyoshiro terkejut dan langsung terduduk dari tidurnya mendengar suara jeritan yang berasal dari luar kamar. Ia menoleh kanan-kiri tidak menemukan Meru, sedangkan tubuhnya masih telanjang bulat tanpa pakaian.
Segera Kyoshiro memakai seluruh pakaiannya dan berlari keluar kamar, karena suara jeritan terdengar semakin ramai menggemparkan.
Di luar kamar orang-orang berlarian, bertabrakan, melarikan diri dari sesuatu yang Kyoshiro tak ketahui.
Saat beberapa orang berjatuhan dan kulitnya berbentol-bentol barulah Kyo sadari itu adalah gigitan nyamuk. Masalahnya di kapal itu sudah dipastikan tidak ada nyamuk, tapi kenapa tiba-tiba para penumpang tergigit nyamuk mutan.
Tanpa berpikir panjang Kyoshiro memutuskan untuk mencari Meru setelah sebelumnya membawa Torch senjata andalannya. Tapi saat Kyo membuka pintu kamar Meru, ia tidak menemukan gadis cantik itu di sana.
Ia pun mulai membuka satu persatu pintu kamar sambil meneriakan nama Meru. Tak ada jawaban, ia tidak menemukan Meru. Kyo berlari ke arah dapur tidak ada, ke area taman juga tidak ada.
Namun ia teringat sesuatu bahwa Taro menginginkan Meru, dan Meru akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan Ibunya. Tanpa berpikir panjang Kyoshiro lari ke lorong kamar VVIP2 di mana Taro tinggal.
Tanpa basa-basi ia buka pintunya tapi kamar itu kosong. Kyoshiro berpaling dan berniat mencari ke kamar lain, tapi ia kembali membuka pintunya setelah sekilas melihat sesuatu yang dia kenal.
Kyoshiro mendekati objek yang ternyata itu adalah pakaian Meru. Seluruh pakaian Meru, bahkan pakaian dalamnya ditinggal di sana. Hati Kyoshiro mendadak panas, ia menggenggam geram pakaian Meru. Rahangnya mengeras membayangkan apa yang akan Meru lakukan bersama Taro. Sungguh ia tidak akan bisa terima jika itu sampai terjadi.
Kyoshiro tak akan berhenti mencari Meru sebelum ia menemukan gadis itu. Ia buka semua kamar VVIP tapi tetap saja Meru tidak di sana. Tapi saat ia membuka pintu terakhir ia terkejut melihat sosok yang ia kenal.
Laki-laki setengah baya, berpakaian rapi dengan setelan jas lengkap.
"Paman Motoyama?" Panggilnya dengan nada tak percaya, pasalnya semua orang tau pria separuh baya itu akan pergi di pemberangkatan selanjutnya. Tapi sekarang pria itu bersembunyi seperti tikus di pemberangkatan pertama.
"Oh? Oh? Kyoshiro Harada, kau berada di sini nak?" Sapa Koji Motoyama berbasa-basi setengah terkejut.
"Paman? Kenapa paman ada di sini?" Tanya Kyo penasaran. "Bukankah paman seharusnya berangkat di pemberangkatan kedua?" Atensinya juga dicuri oleh setumpuk barang yang ditutupi kain hitam di belakang Koji.
"Hmm? Pemberangkatan kedua ya? Aku pikir hanya ada satu pemberangkatan, yaitu hari ini." Jawab Koji Motoyama membuat Kyoshiro tak mengerti.
"Tapi 8 ribu orang menunggu untuk dijemput dan pergi ke pulau siluang."
"Sekali lagi aku tegaskan padamu nak, tidak ada pemberangkatan kedua dan seterusnya. Aku dan para pejabat yang lainnya telah bersama-sama berangkat hari ini."
"Apa?" Kyo mendecih tak percaya.
"Eeh kau tidak tahu? 3 jam yang lalu gas pestisida telah disebarkan oleh pasukan udara. Tidak mungkin kapal ini akan kembali ke sana. Apa mereka mau mati? itu sama sekali tidak masuk akal bukan?" Jawab Koji Motoyama dengan ekspresi pura-pura polos.
"Hari ini?! Paman, jangan bercanda!" Mereka semua telah membayar untuk ke pulau Siluang."
"Ck, pulau Siluang hanya cukup untuk 3 ribu manusia. Sedangkan mereka berjumlah 10.000. Tidak akan cukup untuk menampung mereka."
"Lalu kenapa membiarkan mereka membayar?!" Kyoshiro hampir habis kesabaran.
"Ck, keadaan saat ini sangat sulit. Aku hanya berniat baik menampung semua harta mereka. Berhubung hari ini semua orang di kota sudah mati menghirup gas, mereka seharusnya berterima kasih padaku karena menyelamatkan uang mereka, tidak terkubur sia-sia di kota mati itu." Jawab Koji Motoyama seoalah tanpa beban.
"Tsk!" Rahang Kyoshiro mengeras, dia tidak habis pikir di dunia ini ada manusia berhati binatang seperti Koji Motoyama.
"Lalu di mana ibu Meru? Anda mengajaknya kan?"
"Heh? Aku? Membawa pembantu itu? Tentu saja tidak, aku sudah memberinya satu tiket tapi si bodoh itu memberikannya pada Meru. Kabar terakhir aku terima, nyamuk telah menginvasi komplek kami. Aku pikir dia sudah mati dimakan nyamuk." Koji Motoyama mengedikan kedua bahunya santai.
Kyo semakin geram, kedua telapaknya mengepal. "Seharusnya Ayahku tidak pernah mengenalmu, anda benar-benar iblis tak punya hati!"
"Berhentilah bersikap sok peduli anak kecil. Kau masih terlalu polos seperti Ayahmu yang bodoh itu." Koji Motoyama terkekeh menang.
Kali ini Kyoshiro tak mampu menahan amarah, ia benar-benar berang mendengar Ayahnya dijelekan. "Bisakah anda tidak membawa-bawa Ayahku!" Tangannya sudah menarik kerah Koji Motoyama, membuat milyarder itu sedikit kesusahan bernapas.
Tapi ia tak berhenti bertingkah "Kenapa? Semua orang tau kenyataan itu, Ayahmu yang bodoh itu menggali kuburannya sendiri, dengan merekayasa pandemi ini. Sebagai orang pintar aku hanya mengambil keuntungan."
Kyo sangat geram, ia baru sadar bahwa Koji Motoyama yang membuat Ayahnya menjadi satu-satunya.

tersangka atas pandemi ini, padahal ia tahu betul satu tahun belakangan Ayahnya berbisnis dengan Koji Motoyama.
Mengingatnya Kyoshiro tidak terima. "Tidak ada alasan lagi untuk menghormatimu!" Kyo mencengkeram kerah kaus Koji dan langsung memberinya bogem mentah.

'Buagh!'

'Prang!'


Pria tua itu terjengkang ke belakang, menjatuhkan kotak - kotak yang tadinya tertutup kain hitam yang kini terlihat. Kyoshiro terkejut kotak-kotak itu ternyata berisi ratusan nyamuk mutan.
Kyo menautkan alis tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Apa ini?! Kenapa paman membawa monster ini di kapal?!" Kyoshiro duduk di atas perut pria tua itu dan menarik lagi kerahnya.
Koji Motoyama terkekeh, "Di kapal ini setidaknya masih ada 900an orang yang hanya akan memenuhi pulau Suliang, itu artinya aku harus menyingkirkan mereka semua sebelum sampai ke pulau. Seperti katamu, pulau hanya cukup dihuni 3 juta manusia. Aku tidak ingin pulaunya terlalu ramai manusia. 900 orang terlalu banyak bukan?"
Mata Kyoshiro memerah, bahkan berkaca-kaca saking marahnya. "Anda benar-benar tidak punya hati!" Teriak Kyoshiro, ia berniat menghajar pria tua itu. Tapi sedetik berikutnya tangan Koji meraih salah satu kotak berisi nyamuk yang berada di jangkauannya.
Sambil membuka kotak itu ia berkata, "Matilah bersama 900 orang itu, Kyoshiro Harada." Orang tua itu terkekeh jahat, melepaskan nyamuk mutan yang mematikan itu.
Mata Kyoshiro membulat melihat puluhan nyamuk yang baru saja dilepaskan langsung agresif terbang ke arahnya. Tak menunggu lama ia pun mundur, mengambil torchnya yang terjatuh lalu lari meninggalkan tempat itu.
Koji Harada terkekeh puas, ia pun sibuk membuka seluruh kotak. Anehnya tidak satupun nyamuk yang menyerangnya.
 
Terakhir diubah:

Shibuya

Senpai Semprot
Thread Starter
Daftar
2 Oct 2014
Post
793
Like diterima
321
Lokasi
Ichinomiya Tres Spades Hotel & Casino
Sementara Kyoshiro yang masih berlari menyelamatkan diri berteriak sepanjang jalan menyuruh agar orang-orang menyelamatkan diri.
Sambil menggunakan torchnya Kyoshiro menghalau nyamuk sambil terus berlari. Dia juga tak menyerah mencari Meru di seluruh bagian kapal di tengah gentingnya keadaan, tapi gadis itu tak juga dia temukan.
Hingga Kyo teringat bahwa ada satu tempat yang belum ia kunjungi, lantai teratas kapal di mana taman kolam khusus tamu VVIP berada.
Kyoshiro langsung pergi ke sana, sementara nyamuk tak lagi mengejarnya, karena pintu menuju ke taman VVIP dilengkapi sensor yang akan mengaktifkan listrik jika ada nyamuk melewatinya.
Benar saja Kyoshiro melihat Meru terlentang di atas kursi santai di pinggiran kolam renang, hanya dengan handuk mandi yang tak dikancingkan dengan benar.
Payudaranya terekspose, kakinya mengangkang dan pangkal pahanya tampak sedang dijilati oleh seorang laki-laki yang bertelanjang dada. Jelas sekali itu adalah Taro Motoyama. Dan terlihat Meru sedang menahan tangis dan geli di sana.
Tidak suka melihat pemandangan menjijikan itu, Kyoshiro menghampiri mereka dan langsung menendang kepala Taro hingga pemuda itu ambruk menabrak meja bar mini.
'Praaang.'
"Kyaaaaah!" Meru terkejut melihat siapa yang datang. Ia langsung berdiri dan merapikan kimono handuknya.
"Brengsek!" Tanpa basa-basi Kyoshiro memukuli Taro yang belum sempat berdiri.

'Buagh buagh buagh!'

Mata, hidung, pipi, pelipis. Wajah Taro bergantian menjadi sasaran emosinya.
Meru menjerit-menjerit mencoba melerai, tapi Kyo yang seperti kerasukan tidak bisa dihentikan. "Kyo berhenti! Aku bilang berhenti!!" Ia mulai menangis melihat wajah Taro berlumuran darah. "Kyoshiro! Aku akan membencimu jika ibuku sampai mati!"
Mendengarnya, Kyoshiro berhenti memukul. Ia berdiri dengan napas terengah. Sementara Meru memukuli dadanya. "Kenapa? Kenapa kau ke sini?! Kenapa mengganggu?! Ibuku bisa mati!" Ia menjerit-jerit frustasi.
Kyoshiro menahan kedua lengan gadis itu, menggoyangkan agar gadis itu sadar dan berkata, "Meru sadarlah! Dia menipumu! Ibumu sudah tiada!"
"Bohong! Kyoshiro kau bohong kan?!"
"Sejak awal kita ditipu! Tidak ada pemberangkatan kapal lagi, gas pestisida telah disebarkan sore ini. Tidak ada yang tersisa!"
Meru menatap Taro yang terduduk, masih terengah mengatur napas setelah dipukuli Kyoshiro.
"Lihatlah, tidak ada lagi siaran televisi." Kyoshiro menunjukan saluran televisi yang gelap total, semua chanel kosong, itu artinya Kota telah lumpuh total, tidak ada lagi yang berkegiatan. "Dari awal bajingan itu tidak berniat menyelamatkan Ibumu."
Melihat dan mendengar kenyataannya, Meru merasa sangat kecewa dan sedih. Dunianya terasa gelap, ia tidak mau hidup lagi tanpa Ibunya. Ia menangis histeris di pelukan Kyoshiro.
Mendengar percakapan Kyo dan Meru, Taro yang sudah berdiri berdecih sinis. Ia menjilat darah di sudut bibirnya dan berkata, "Kyoshirooo...kenapa kau selalu menghalangiku?"
Atensi Kyo beralih ke pemilik suara yang ternyata sudah menodongkan pistol ke arahnya. Mata Kyoshiro membulat, Meru yang melirik dari balik lengan Kyoshiro tak kalah terkejut.
"Serahkan Meru atau aku akan menembaknya?" Taro menarik pelatuk pertamanya. Kyoshiro tak menduga-duga hal ini akan terjadi.
Sementara Meru menggeleng, "Tidak! Lebih baik kau menembakku! Aku tidak sudi pergi dengan pembunuh dan penipu sepertimu!"
'Dor!' satu tembakan dilepaskan ke udara. Meru menjerit.
"Kemarilah! Aku sedang tidak bercanda!" Perintah Taro.
"Pergilah Meru, aku akan mencari cara menyelamatkanmu." Bisik Kyoshiro, tapi gadis itu menangis sambil menggeleng lemah. "Aku berjanji. Aku mohon pergilah, sebentar saja."
"Tidak..."
"Meru... Sebentar saja. Aku akan menikahimu jika kamu pergi sebentar ke arahnya." Mendengar perkataan Kyoshiro, Meru mendongak melihat wajah pemuda tampan itu. Meru memastikan bahwa ia tak salah dengar. Dan Meru melihat kesungguhan di mata Kyoshiro. Di sana Kyo juga membisikan sesuatu pada Meru.
Sambil menelan ludah, Meru melepaskan pelukannya dan berjalan pelan ke arah Taro yang tersenyum penuh kemenangan.
Saat kepala Meru mendekati moncong pistol Taro, Meru melirik. Tanpa pemuda itu sangka, Meru memegang tangannya dan menggigitnya kuat-kuat. Reflek Taro berteriak kesakitan, pistol pun dijatuhkan dan tergeser menjauh. Tapi karenanya Meru ditendang hingga terjungkal ke belakang.
"Ugh!"
Melihatnya Kyoshiro sangat khawatir, tapi di lain sisi Taro kembali akan mengambil pistolnya. Meru berteriak memberi sinyal agar Kyo menghentikan Taro. Maka setelah memastikan keadaan Meru, Kyoshiro melompat, menindih Taro yang mencoba meraih pistol dengan jemarinya.
Tidak menyerah, Taro menggulingkan tubuh Kyo. Kini posisi Kyo berada di bawahnya, membuat Taro lebih diuntungkan karena ia bisa memukuli wajah Kyoshiro.

'Buagh! Buagh!'

Mengalahkan Kyoshiro tidak semudah itu, ia menggunakan kedua kakinya untuk menendang perut Taro. Pemuda itu terjengkang, namun tak lama ia berhasil kembali menarik kaos Kyoshiro dan membuat keduanya terlibat dalam perkelahian yang imbang.
Hingga di suatu titik Taro terjatuh di tepian pagar, di mana pistol itu berada. Cepat-cepat ia meraihnya dan berdiri.
Kyoshiro yang terpojok hanya terdiam sambil terengah, wajahnya penuh luka memar. Darah mengalir dari hidung, pelipis dan bibirnya, matanya sayu, rambutnya kotor berantakan, serta bajunya sobek di sana-sini.
Tak beda jauh dengan keadaan Kyoshiro, dengan tremor parah ia todongkan pistol itu ke arah rival abadinya. Dalam benak ia bersorak berhasil mengalahkan Kyoshiro kali ini.
Pelatuk di kokang. Meru sudah menjerit-jerit, ia memohon agar Taro tidak menembak Kyoshiro.
Tapi siapa sangka dipuncak kemenangannya musuh lain berdatangan. Suara kepakan sayap menyebalkan itu mendekat. Tidak hanya satu, tapi ratusan.
Dan ketiga orang itu sangat terkejut melihat ratusan nyamuk mutan berhasil lolos melewati barier listrik, dan kini mengincar mereka.
"Meru lari!" Teriak Kyoshiro.
Tidak bisa! Kaki Meru semakin lemas setelah melihat gerombolan nyamuk itu semakin mendekat.
Dengan akal yang belum habis, Kyoshiro melepas kaos, menunduk dan melemparkannya pada Taro. Seolah terhipnotis oleh bau keringat Kyoshiro nyamuk itu mengikuti arah ke mana kaus itu terbang, yaitu ke arah Taro.
Mata taro melebar saat melihat gerombolan monster itu mulai menyerangnya. Dia pun kehilangan keseimbangan, akibatnya ia terjengkang. Namun sebelum benar-benar terjatuh ke dalam lautan, ia berhasil melepas satu tembakan yang mengenai lengan kanan Kyoshiro.

'DOR!'

'Byuur'


"Kyoshiro!" Meru menjerit, susah payah ia berdiri.
"Ugh!" Kyo kesakitan memegangi lengannya. Darah mengalir deras, perih, sakit dan pegal di sekujur lengannya.
"Meru ayo cepat lari!" Tidak mau berlama-lama ia tarik tangan Meru untuk berlari bersama. Tak lupa ia pungut Torch andalannya yang tadi sempat terjatuh.
Nyamuk mutan masih terus mengejar mereka, sampai ke lorong-lorong gelap. Ternyata listrik padam, itu yang menyebabkan nyamuk-nyamuk itu lolos jaring sengatan listrik.
Di sana mereka melewati tubuh orang-orang yang tergeletak karena sudah terinfeksi. Sebagian pingsan, mungkin sebagian lagi telah mati.
Sementara di tempat lain Koji Motoyama dengan pakaian astronot berjalan tergesa-gesa. Efek lotion anti nyamuk super ciptaan Ayah Kyoshiro sepertinya telah habis, sehingga Orang tua itu menggunakan raket listrik untuk menghalau serangan ratusan nyamuk yang ia bawa sendiri.
Ia berniat pergi ke ruang listrik untuk membetulkan sendiri saluran yang rusak agar alatnya berfungsi kembali.
Di ruang listrik yang gelap Koji Motoyama menyalakan senter dari ujung batang raket. Para penjaga ruangan telah tergeletak dengan muntahan darah, rupanya nyamuk telah menginvansi ruangan ini.
Dengan modal pengetahuan kelistrikan yang minim, serta baju yang mempersulit ruang geraknya. Koji Motoyama sedikit sesulitan menemukan penyebab putusnya saluran listrik.
Tapi dia orang tua yang tidak mudah menyerah. Di depan panel besar penuh dengan kabel berbeda warna, ia menyipitkan mata senjanya mengamati jikalau ada kabel yang terputus.
Benar saja, kabel berwarna hitam dan merah terlepas dari jalurnya. Tapi Koji motoyama masih kebingungan, di mana letak yang sesuai dan tepat.
Akhirnya ia menggunakan insting untuk kembali memasang kabel itu ke server.
Berhasil, satu persatu lampu di ruangan itu menyala. "HA...HA...HAHAAHHAAHAHA" Koji Motoyama tertawa bangga akan kemampuannya. Ia merasa bahwa Tuhanpun tak akan bisa menghalangi keinginannya.

'Crrt.cccrt.crt'

Suara aneh terdengar dari panel yang baru saja ia betulkan. Ternyata itu adalah aliran listrik yang lumayan besar. Tawa Koji Motoyama perlahan menghilang, berganti suasana tegang.
Lampu pun mulai berkedip-kedip, aliran listrik seperti petir mini terus mencuat. Koji Motoyama sedikit panik.
Hingga listrik itu semakin membesar, keluar api. Orang tua itu mundur cepat, api mulai membakar panel. Karena sangat panik Koji Motoyama terjatuh ke belakang. Dan hal yang sangat ia takutkan terjadi.
Panel itu kemudian meledak.
'DHUAAAAR!!'
Api besar menghempas ruangan, membakar segala isi di dalamnya. Termasuk Koji Motoyama si tua rakus yang tidak punya hati.
Ledakan itu sampai ke telinga Kyoshiro dan Meru yang bersembunyi di kotak barang di pinggiran deck kapal. Hidung mereka mencium aroma terbakar, jeritan orang-orang semakin menyesakan, itu membuat keduanya saling melirik dengan perasaan tidak baik.
"Aku akan mengeceknya." Kata Kyoshiro yang saat itu bertelanjang dada.
Meru mengangguk khawatir, "Berhati-hatilah."
Saat kaki Kyoshiro terjulur keluar, ia menginjak bangkai-bangkai nyamuk yang mati oleh api torchnya. Meringis menahan sakitnya luka tembak yang kini hanya dililith kain lusuh Kyoshiro berjalan pelan. Di dinding masih ada beberapa nyamuk yang tenang kekenyangan. Meski begitu, Kyoshiro tetap berhati-hati dalam melangkah agar tidak membangunkan mereka.
Baru berjalan lima langkah dari tempat persembunyiannya, mata Kyoshiro terbelalak melihat orang-orang berlari dikejar api yang dengan ganas membakar lorong.
Dengan panik Kyoshiro kembali di tempat Meru bersembunyi. Buru-buru ia membuka kotaknya. "Meru! Gawat, keluarlah. Kapal sedang terbakar!" Meru yang terus mendengar berita buruk rasanya ingin menyerah saja.
Tapi nelihat Kyoshiro yang mati-matian melindunginya, Meru berjanji akan terus berjuang. Ia menggenggam tangan Kyo dan keluar dari sana, "Ayo cepat."
Bersama sisa-sisa penumpang yang masih selamat, keduanya berlari menuju deck paling ujung terluar kapal. Sialnya nyamuk yang masih bertahan hidup juga berusaha menyelamatkan diri dan menyerang mereka.
Kelelahan, kaki Meru tersandung dan ia terjatuh. Luka di lututnya yang belum mengering terasa semakin perih sekali.
"Kyoshirooo sakiit."
Kyoshiro dengan sabar membantunya berdiri, tapi Meru tidak kuat lagi berjalan. Sekumpulan nyamuk pun mendekat menghinggapi Meru. Sigap Kyoshiro menyalakan torchnya, namun sayang sekali gasnya habis. Ia mendecih kesal dan melempar kalengnya begitu saja.
Kyo panik, dia mencoba melindungi Meru yang menjadi mangsa nyamuk. Ia mengibaskan tangannya berharap itu cukup membuat si nyamuk terusir.
Sayangnya Meru yang tidak bisa bergerak lincah berhasil tergigit salah satu dari mereka.
"Aaaaaaa!!" Jarum sebesar lidi itu berhasil merobek betisnya, Meru menjerit kesakitan. Kyoshiro yang melihatnya menepis nyamuk besar itu yang berusaha menghisap darah Meru.
Setelahnya susah payah Kyoshiro mengangkat tubuh Meru di punggung. Apalagi luka tembaknya membuat Kyoshiro semakin lemah.
Nyamuk masih mengejar, semakin banyak mengerubuti keduanya. Bahkan lengan Kyo menjadi mangsa berikutnya. Ia tergigit, jarumnya menusuk sangat dalam.
Kyo menahan sakit yang luar biasa saat darahnya terhisap. Meru melihatnya dan sudah menangis di punggung Kyo sambil terus menghalau nyamuk.
"Kyo..."
Api di belakang pun semakin besar, ledakan yang berasal dari dalam pun semakin menjadi.
Dhuuuaaar!
Dhuuaaar!

Bagusnya segerombolan nyamuk menjadi mati sebelum mereka sampai di tempat orang-orang berkumpul.
Untuk sementara Kyoshiro merasa semua aman. Dia menurunkan Meru yang mulai melemas, susah bernapas, terbatuk dan mengeluarkan darah. "Meru aku mohon bertahanlah!" Kyoshiro hampir menangis melihatnya, hatinya begitu sakit. Setelah melihat Ayahnya meninggal, tidak lagi jika harus Meru.
Ia pun teringat sesuatu, Kyoshiro mengorek isi tas pinggang yang masih setia menggantung di pinggangnya.
Ia menemukan sesuatu, 1 ampul kecil penawar racun. Semalam, sesaat sebelum berangkat ke sini Ayahnya memberinya penawar racun yang belum di uji lab Negara. Tapi Sato Harada menjamin itu adalah penawar pada pertolongan pertama yang ampuh jika langsung disuntikan sebelum lewat 10 menit.
Tanpa berlama-lama Kyoshiro segera mengambil spuit, mengisinya dengan penawar dan menyuntikannya di lengan Meru. Gadis itu sedikit mengernyit sakit, "Bertahanlah Meru, kita akan segera sampai di pulau."
Kali ini giliran Kyoshiro merasakan efek virusnya, ia merasa pusing. Tidak, dia tidak boleh tumbang sekarang. Sayangnya dia hanya punya satu penawar, terakhir Ayahnya mengatakan Koji Motoyama meminjam beberapa sample untuk dijual lewat jalur ilegal. Lagi-lagi pak tua jahat itu ingin mengambil keuntungannya sendiri.
Untuk memperlambat penyebaran virusnya, Kyoshiro menyobek salah satu baju dari para penumpang yang tergeletak, ia gunakan untuk melilit lengannya yang kekar. Kini kedua lengannya sudah penuh perban kain, satu luka tembak, dan satu lagi luka gigitan nyamuk. Kyoshiro merasa tak punya harapan lagi untuk hidup, tapi setidaknya dia ingin melihat Meru benar-benar selamat.
Kapal telah setengahnya terbakar, beberapa penumpang memilih untuk melompat karena sudah tidak tahan dengan bau asap dan panasnya.
Sambil terus mengeluarkan keringat dingin di wajah dan sekujur tubuhnya, Kyoshiro menggendong Meru di belakangnya. Dia harus tetap hidup untuk menyelamatkan Meru.
Api sudah membakar 90% bagian kapal, setelah mempertimbangkan dengan matang Kyoshiro pun melompat ke laut.

'Byuuurrr.'

'DHUAAARRRRR! DHUAR!'


Bertepatan dengan tubuhnya yang mendarat di laut, kapal mewah itu meledak, terbakar seluruhnya. Seketika Asap hitam membumbung tinggi di langit.
Kyoshiro bernapas lega, jika saja mereka telat sedikit saja pasti mereka sudah mati terbakar.
Hari itu senja telah tiba, langit menjadi jingga, dan entah kenapa menatapnya jadi tampak menyedihkan. Di ujung penglihatan Kyoshiro tampak lampu-lampu di pemukiman menyala.
Kyoshiro hampir menangis, itu adalah pulaunya. Ia tidak tahu berapa lama lagi, tapi ia berjanji akan membawa Meru ke sana. Meru harus selamat, apapun yang terjadi.
Pemuda itu pun berenang sekuat tenaga, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia merasa amat dingin. Beberapa kali Kyo juga terbatuk gumpalan darah yang langsung menghilang di lautan.
"Kyoshiro..." Panggil Meru lirih di balik punggungnya.
"Hei? Kau sudah sadar?"
"Hmm..." Jawab Meru, ia masih belum begitu menyadari apa yang terjadi. "Kenapa kita berenang?"
"Kapalnya terbakar, maaf Meru kapalnya tidak cukup bagus untukkmu."
Setelah mengatakannya, tanpa Kyo sadari Meru melihat satu kain lain yang terikat di lengan Kyoshiro. Ia juga melihat bekas gigitan nyamuk di sana.
Meru menggigit lidahnya agar tidak menangis. Sejujurnya dia putus asa melihatnya, dia tahu Kyoshiro tengah menahan sakit yang tak terkira.
"Mmm...apa yang kau katakan, bukankah aku sedang menaiki kapal terbaik milikku" Kata Meru dengan nada bergetar, namun ia berusaha tetap terdengar ceria. Dia mendaratkan ciuman di pipi Kyoshiro dan mengeratkan pelukannya di tubuh dingin itu.
"Hm. Kau benar."
"Kyoshiro? Sepi sekali."
"Aku rasa begitu."
"Bagaimana kalau kita bernyanyi?"
"Baiklah...mau bernyanyi apa?"
"Bagaimana kalau i wanna grow old with you?" Usul Meru.
"Lagu yang bagus..."
Lalu keduanya menyanyikan lagu itu bersama-sama.


Another day without your smile
Another day just passes by
And now I know
How much it means
For you to stay right here with me
The time we spent apart
Will make our love grow stronger
But it hurts so bad
I can't take it any longer
I wanna grow old with you
I wanna die lying in your arms
I wanna grow old with you
I wanna be looking in your eyes
I wanna be there for you
Sharing in everything you do
I wanna grow old with you



Sepanjang perjalanan menuju tepi pantai mereka terus bernyanyi dengan suara bergetar. Saling menyembunyikan tangisan perih.
Tak terasa tempat tujuan mereka semakin dekat, pantai berpasir putih dengan pohon kelapa yang tumbuh subur di tepian terlihat semakin jelas.
Ketika kaki-kaki mereka sudah menginjak pasir keduanya saling menopang berjalan menuju tepi pantai. Sesampainya di sana keduanya amburuk di permukaan pasir yang lembut.
"Haaaah...." Mereka mengembuskan napas lega, berbaring di tepi pantai membentuk huruf X, menatap langit gelap penuh bintang terang.
Meru dan Kyoshiro saling menatap dengan napas terengah, keduanya tersenyum penuh perasaan lega. "Apa semua sudah berakhir?" Tanya Meru.
Kyoshiro mengangguk, "Iya, tentu saja."
Setelah mengatakannya tak ada lagi suara di antara mereka, keduanya memejam menikmati suasana malam yang begitu damai. Hanya suara ombak, angin yang berembus pelan menenangkan.
Tak lama jemari Kyoshiro bergeser menyentuh jemari Meru, lalu menggenggamnya.
"Meru..." Bisiknya sambil memejam. Sementara si gadis hanya menggumam sebagai pertanda ia mendengarkan.
"Jadilah Ibu dari anak-anakku." Mendengarnya Meru membuka mata, menoleh ke samping dan ia lihat Kyoshiro sedang menatapnya. Wajahnya semakin pucat, pandangan matanya tak lagi cerah.
Sambil menahan tangis, Meru mengangguk pasti. Kyoshiro tersenyum, ia mendekatkan tubuhnya ke Meru dan memeluknya. Lalu keduanya saling berciuman. Mengecup dan mengecap lidah bergantian.
Dengan sisa-sisa tenaga, tangannya bergerak melepas tali handuk kimono Meru yang basah. Menyentuh pelan payudara sekal itu untuk kemudian diremas penuh perasaan.
Malam itu keduanya bercinta di tepian pantai, disaksikan oleh samudera. Ditemani suara malam yang romantis berguling dan saling mengikat meski tubuh penuh pasir putih. Perasaan Meru bahagia dan takut menjadi satu.


THE END


Keesokan harinya Meru terbangun saat sinar mentari pagi menyinari wajahnya, pupil matanya bergerak-gerak kesilauan. Saat ia membuka mata, dunia sudah menjadi terang benderang, langit sudah dipenuhi awan putih bak kapas.

Ia menoleh ke samping, Kyoshiro masih memejamkan mata. Tangan pria itu di genggamannya terasa dingin. "Kyoshiro..." Bisiknya tak bertenaga, suaranya habis, dan ia sangat kehausan.

"Kyoshiro...bangun." Tak ada jawaban dari sang pujaan hati, Meru mulai khawatir. Ia duduk untuk membangunkan pujaannya, "Kyoshiro bangunlah," Tubuh itu tak bergerak sama sekali. Meru mulai panik menjadi-jadi. Dia sangat takut, dadanya mulai berdegub-degub keras.
"Kyoshiro! Kyoshiro aku mohon bangunlah!" Mendengarkan detak jantung Kyoshiro, matanya terbelalak karena tidak mendengar apapun.
"Kyoshiro! Bangun dan ambilkan aku air!" Teriaknya sambil menangis histeris menyadari Kyoshiro telah meninggalkan Meru selamanya.
Meru menjerit-jerit seperti orang gila, histeris sambil mengguncang tubuh tak bernyawa kekasihnya. Dunianya kini terasa amat gelap, sangat gelap. Rasanya Meru tak ingin hidup lagi.
Tak lama penduduk sekitar mulai berdatangan mendengar suara Meru. Berbondong-bondong menyelamatkannya.


Another day without your smile
Another day just passes by
And now I know
How much it means
For you to stay right here with me
The time we spent apart
Will make our love grow stronger
But it hurts so bad
I can't take it any longer
I wanna grow old with you
I wanna die lying in your arms
I wanna grow old with you
I wanna be looking in your eyes
I wanna be there for you
Sharing in everything you do
I wanna grow old with you



Suara nyanyian mereka berdua masih terus terdengar di lautan, terbawa angin yang terbang setinggi-tingginya.

MOSQUITO
BY : SHIBUYA
 
Terakhir diubah:

Shibuya

Senpai Semprot
Thread Starter
Daftar
2 Oct 2014
Post
793
Like diterima
321
Lokasi
Ichinomiya Tres Spades Hotel & Casino
Terima kasih banyak...
gara gara nyamuk
Iya nih gan ehehehe
Semoga beruntung mba'
Terima kasih doanya..
Selalu sukses.
Makasih banyak sudah mampir...
sik asik sik
Thank youuuu
My Vio, berhasil posting nih.
selamat yaaah
Komen dan repiunya nyusul yaah, baca dulu.
Hai haii uciilll...aku kira udh ga pernah mampir sini. Sori baru baca,aku hopeless bgt soalnya gabisa nulis dengan baik lagi wkwkwk
Semoga sukses om @Shibuya
Makasih banyak
Endingnya mirip adegan Jack meninggal di film Titanic.

Meru jadi janda ya kaya nya ?
Kan blm menikah boss...heehehe
Mantap cerita nya om suhu @Shibuya 👍👍👍
Semoga menang nih lomba nya 💪🙏🏼
Thank youu...harapannya terkabul.
Selamat suhu @Shibuya berhasil memenangkan pagelaran LKTCP tahun ini. Semangat, ditunggu karya² suhu lainnya
Terima kasih banyak... Ditunggu ya karya yg lain 😍
 

killertomato

Guru Semprot
Daftar
5 Dec 2017
Post
583
Like diterima
31.264
Selamat suhu @Shibuya. Karyanya berhasil memenangkan LKTCP tahun ini.
Terus semangat, terus berkarya, ditunggu masterpiece-masterpiece suhu selanjutnya.
 

william_gonzales

Guru Semprot
Daftar
11 Jul 2017
Post
540
Like diterima
617
Selamat buat master Shibuya. Semoga bisa lanjut dengan karya2 lainnya.

Oh, iya. Tanggapan mengenai cerita ini belum :bata:

Menurut aye, Konsep cerita sih biasa, sering dijumpai. Tapi karna ini bertema survival, jadi menarik. Masalah disuguhkan dari awal, di prosesnya seakan bisa tertebak akhir ceritanya. Tapi ternyata, sungguh memilukan. :((:(( Kejutan yg luar biasa.


Mungkin 1 yg agak kurang sih. Gak ada epilog, alias masih menggantung. Karna pandemi buatan ini sudah tersebar di seluruh dunia. Mungkin memang maksud cerita, hanya tentang proses awalnya. Seperti pandemi yg masih berlangsung di RL.

Rating 9/10
Bukan karna pemenang, aye kasih 9, tapi emang karna bagus. Detil dan penulisan cerita udeh kayak novel di toko.
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of LS Media Ltd