188 Bet - Online
Sbo Hoki Online
Senior Bola - Agen Bola
Live Score Online
MPO Sport Online
Toto Alpha - Agen Bola   Togel Matrix
Fass Bet Online
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Tahun QQ, Agen Bola   Premier 189 online
FifaQQ online   Bandar 855 online
Sport 855 online   Bandar 855 online
Sport 855 online   MSN Poker online
Gubuk Bola 88 online   Agen Togel Online (indoDingDong)
Asus Togel online   Sarana Cash online
Kartu Demen online   Happistar online
99 Cash online   Bandar 808 online
Jaya Gaming online   Bisa Buka online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us, bukan lewat WA / BBM / Line / Wechat / dll.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG - TAMAT Aku, Kamu, Dia dan Mereka Bagian Pertama - Pengalaman Pertama

Lanjut atau tidak?


  • Total voters
    45
  • Poll closed .

zissycaem

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
23 Dec 2015
Post
189
Like diterima
773
Lokasi
Anti PK Club
Halo semuanya..
Nubi mau berbagi cerita buat kalian semua para suhu di forum tercinta kita ini.
Nubi gak mau bilang ini cerita asli atau fiksi, jadi nikmatilah dengan imajinasi liar kalian.
Karena ini pertama kalinya nubi menulis cerpan, mohon maaf dan kasih saran jika banyak kesalahan ya.

Kalau respon komen dan likenya bagus, nubi janji bakal lanjut kok hu.
;):Peace::p

Happy Reading !

Ane selaku TS dari Thread : Aku, Kamu, Dia dan Mereka menyatakan bahwa,
Semua nama karakter, setting lokasi, waktu serta gambar-gambar yang ada dalam thread adalah 100% fake. Hanya untuk kepentingan cerita saja. Jika terdapat kesamaan dengan situasi atau kondisi suhu-suhu semua, anggaplah itu bonus untuk menambah sensasi dan imajinasi liar suhu semuanya.

Perhatian buat para suhu semuanya...
Disini para suhu semuanya wajib sepakat sebelum melihat mulustrasi bahwa TS tidak akan bertanggung jawab atas penyebarluasan gambar mulustrasi jika keluar dari forum tercinta kita ini dan merupakan tanggung jawab dari pelaku penyebaran itu sendiri.
Nubi ingin menegaskan bahwa seluruh gambar mulustrasi hanyalah keperluan imajinasi dan fantasi saja.

Kenal atau tau objek mulustrasi?
PM saja ke TS. Jangan komen apapun yang dapat memancing suhu lain mengorek informasi soal identitas objek,
Dilarang keras menyebut nama asli, inisial apalagi sampai memberikan informasi kontak dari objek.
Jika dikemudian hari pemilik gambar/kerabat dari yang bersangkutan ada yang keberatan,
Jangan sungkan juga untuk langsung PM nubi selaku TS dan nubi akan segera dihapus/diganti.


Prolog

"Teiiingg"

Terdengar suara pesan notifikasi pesan baru pada smartphoneku.
"Anda menerima pesan dari : Penyelenggara SNMPTN Tahun 201X ..... with Attachment"
Begitulah notifikasi pesan elektronik yang tertulis pada layar smartphone ini.
Segera kunyalakan komputerku untuk membaca lampiran pada pesan elektronik yang baru saja kuterima.
"Selamat, Anda telah di terima di Universitas BraX Kota berplat N pada jurusan Teknik Kimia."
"....."
"....."
"Silahkan melakukan registrasi ulang sebelum tanggal DD-MM-YYYY"

Diterima pada Jurusan Teknik Kimia pada salah satu Universitas ternama di Kota Plat N tidak membuatku begitu senang.
"Gua maunya Jurusan Matemarika, Teknik mesin atau paling nggak ya teknik informatika/komputer" pikirku
Yasudahlah kuliah disini aja (tempat asalku) kalau nanti test masuk gak diterima juga.
Keputusanku ini cukup aneh, diterima di kampus bergengsi malah memilih kampus lokal yang secara akreditasi saja dibawah A
Namun keputusan ini membawaku pada pengalaman yang akan mengubahku menjadi seseorang yang baru. Aku seperti terlahir kembali.
.....
Perkenalkan namaku Andre (tentu saja bukan nama sebenarnya). Aku berasal dari sebuah kota metropolitan mini sebut saja Kota Bpx
Tahun ini usiaku genap 18 Tahun. Aku adalah seorang calon mahasiswa baru yang belum menentukan universitas mana tempatku melanjutkan studi,
Hal ini aku tidak mendapatkan undangan pada Jurusan Matematika Terapan di salah satu universitas papan atas di Indonesia.
Sebenarnya aku diundang oleh universitas lain yang tidak kalah bagusnya namun sayangnya tidak pada jurusan yang aku inginkan.
Akupun memutuskan untuk mendaftar melalui jalur test tertulis dan jika tetap tidak lolos maka aku akan kuliah pada universitas lokal saja di Pulau Borneo, tempat kelahiranku dan tempatku dibesarkan.

Secara fisik, Aku memiliki tinggi 172cm dengan berat badan 75kg, badanku tidak gemuk, tidak kurus dan tidak berotot. Standar saja.
Aku adalah seorang anak keturunan Tionghoa-Dayak yang memiliki rupa bak seorang aktor film laga taiwan yang terkenal.
Untuk masalah otak, Aku dikaruniai otak yang cerdas, mampu berpikir cepat dan dapat mencari solusi untuk berbagai permasalahan.
Aku sangat pandai dalam mata pelajaran matematika, nilai Ujian Nasional Matematikaku selalu 10 alias sempurna.
Akupun selalu mewakili sekolahku, kotaku dan provinsiku untuk mengikuti Olimpiade Matematika. Dan tentu saja aku mendapat banyak juara 1.
Hal ini yang menyebabkan aku tidak kesulitan sama sekali untuk masuk ke sekolah-sekolah favorit di kotaku.
Aku menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA hanya dalam waktu 4 tahun yang normalnya akan ditempuh selama 6 tahun.
Namun sebenarnya, hal ini tidak mengubah apapun karena aku terlambat 2 tahun saat masuk SD. Ya karena aku sangat buruk dalam hal menulis sehingga orang tuaku memutuskan aku tetap belajar pada tingkat TK selama 2 tahun.

Untuk masalah sosial, sebenarnya aku sama sekali tidak bermasalah. Aku anak yang cukup ngetop karena aku memiliki prestasi olahraga voli dan basket.
Ya.. anak-anak perempuan saat itu sangat tergila-gila dengan 'atlet basket sekolahan' sehingga temanku sangat banyak, selain itu aku juga merupakan pemain warnet yang jarang absen mengisi bilik komputer mereka untuk bermain game online. Dulu anak basket + anak warnet adalah perpaduan sempurna untuk mendapatkan banyak teman.

Namun dalam catatanku pada masalah percintaan, seluruhnya penuh dengan tinta merah. Ya.. aku sangat bodoh dan tidak berbakat dalam hal ini.
Aku memiliki 2 mantan, 1 saat SMP dan 1 lagi saat SMA. Kedua-duanya memutuskan hubungan denganku karena alasan yang tidak jelas. Namun aku bukannya memperbaiki diri, malah aku semakin cuek dengan para wanita. Tak jarang aku memperlakukan perempuan-perempuan yang mencoba mendekatiku sebagai bahan lelucon. Mungkin aku hanya kesal karena ditinggalkan oleh (mantan) pacarku sebelumnya.
"Buat apa pacaran kalau ujung-ujungnya putus" begitulah yang aku pikirkan saat aku duduk di bangku sekolah.

Tinta emas pada kebanyakan catatan lain dalam hidupku membuat aku tidak mementingkan masalah percintaanku.
"Bayangkan seorang pria tampan, berkulit putih khas keturunan tionghoa, mata besar indah khas pria-pria pribumi, rambut lurus bagai duta shampoo. Badan standar lelaki Asia, hanya butuh sedikit polesan di Gym, maka akan menjadi idola seluruh kaum hawa"
"Ditambah dengan berbagai piala dan piagam juara 1 dalam berbagai olimpiade matematika dan sains yang menghiasi lemari piala di rumah dan sekolah, terlahir dalam keluarga yang cukup berada, tidak merokok, tidak narkoba, tidak bertatto dan tidak pernah mabuk-mabukan"
Bayangkan jika pria seperti ini datang ke depan pintu rumah seorang gadis dan melamarnya.
Hanya gadis bodoh yang tidak mau.
Itulah yang selalu ada di pikiranku.
Ya.. Aku memiliki satu sifat yang sangat buruk diantara keburukan yang tidak disebutkan. Aku sangat sombong dan over confidence (Terlalu percaya diri).
Karena mungkin sejak lahir aku tidak merasakan apa yang disebut 'kekalahan' bahkan ketika aku kalah dalam hal apapun, aku selalu memiliki alasan yang membuat aku tetap menang dalam pikiranku sendiri dan pikiran orang lain.

Aku tinggal pada sebuah rumah yang berlokasi pada komplek perumahan elit sebut saja Perumahan BB.
Aku merupakan seseorang yang pandai bersosialisasi, seluruh tetangga mengenalku sebagai anak teladan.
Bahkan tidak jarang mereka memarahi anaknya dan kemudian membandingkannya denganku. Hal ini yang menambah kuat kesombongan dalam diriku.
Rumahku berukuran 30m x 15m berlantai 2,5 dengan 1 teras rooftop pada bagian yang menghadap belakang. 3 kamar kecil pada setengah lantai yang mengelilingi rooftop.
Pada lantai 2 terdapat 3 ruang kamar (kamarku dan kedua adik laki-lakiku), ruang belajar, ruang entertaiment, ruang keluarga.
Pada lantai 1 terdapat 2 kamar utama (untuk kamar orang tuaku dan kamar nenekku) serta 1 kamar tamu yang ukurannya sedikit lebih kecil dari kamarku.
Selain itu terdapat juga 2 ruang tamu, ruang makan, mini kitchen (dapur bersih), mini bar dan kamar mandi tamu.
Dapur kotor terletak pada bagian belakang rumah yang terpisah dengan bangunan utama, terdapat juga 2 kamar kecil untuk PRT.
Pada bagian basement terdapat ruangan gudang dan garasi (1/4 luas tanah pada basement adalah gudang dan sisanya adalah garasi)
Untuk masuk dalam rumahku, dapat melalui pintu utama yang terletak di depan rumah atau melalui garasi/basement yang tembus melalui samping tangga ke lantai 2, dapur bersih dan ruang makan.
Rumah ini cukup nyaman buatku.

Kurasa cukup untuk ilustrasi mengenai diriku dan bagaimana karakterku..
Selanjutnya akan kuceritakan perjalanan panjangku yang buta akan cinta menjadi seseorang yang berbeda
Like old man say : Pengalaman dapat mengubah segalanya.
Penasaran? Ikuti ceritaku..

--------------------------------------------------------------------------------

List Cerita :
Awal kisahku dimulai saat kelulusan tiba dan kegalauanku yang tidak mendapat undangan pada universitas impianku.
Aku mulai mencari alternatif Perguruan Tinggi lain agar tidak menjadi 'Pengangguran'
Setidaknya aku berprofesi sebagai 'Mahasiswa' walaupun pada dasarnya sama saja.

Saat ini aku hanya tinggal seorang diri dirumahku.
6 bulan yang lalu, kedua orang tuaku baru saja melebarkan bisnisnya ke kota sebelah sebut saja Kota Btx dan memutuskan untuk pindah sementara kesana (mungkin untuk beberapa tahun)
Karena aku pada saat itu masih dalam masa Ujian Nasional, maka aku tidak ikut pindah dan terpaksa tinggal seorang diri di rumahku ini sedangkan kedua adik ku ikut pindah bersama orang tuaku.
Aku tidak perlu cemas untuk mengurus rumah karena setiap 2 hari sekali, akan datang orang yang membersihkan rumahku, mulai dari menyapu, mengepel, mengurus tanaman, hingga cuci-gosok. Mereka tidak tinggal dirumahku, mereka akan datang pagi hari dan pulang sebelum sore.
Jadi jika malam hari, aku benar-benar sendirian dirumah ini.
Awalnya aku merasa sepi, karena biasanya rumahku sangat ramai dan penuh kehangatan.
Namun aku merasa bebas, tidak ada lagi yang akan memarahiku jika bermain game seharian, tidak ada lagi yang akan mengadu pada orang tuaku jika aku pulang terlambat.
------
Pagi hari bertepatan dengan hari Jumat yang sangat cerah, ketika aku memanaskan mesin Honda Accord keluaran terbaru saat itu.
Mobil ini diberikan kepadaku oleh mamaku sebagai hadiah agar aku tidak kecewa karena tidak ikut pindah ke Kota Btx.
Selain mobil ini, sebenarnya aku sudah memiliki satu unit Honda CR-Z dan sebuah sepeda motor Satria-Fu ditambah dengan satu unit SUV keluaran BMW yang tidak ikut dibawa karena tidak cukup tempat parkir di rumahku yang baru di Kota Btx.
Tentu saja semuanya dibelikan oleh orang tuaku, statusku saja masih calon mahasiswa.
Pagi itu para pekerja yang bekerja untuk mengurus rumahku sudah datang karena sabtu dan minggu biasanya mereka tidak datang.
Akupun bergegas pergi ke sebuah perguruan tinggi lokal di kotaku sebut saja Px untuk mengambil formulir pendaftaran.
"Pak Adi, saya pergi dulu ya. Nanti kalau semua sudah selesai. Bapak sama semuanya yang lain langsung pulang aja pak. Jangan lupa di kunci semuanya ya pak" kataku kepada Pak Adi, tukang kebun.
"Siap" jawab Pak Adi.
Akupun pergi menuju ke perguruan tinggi Px.

(Tiba di kampus Px)

Setelah parkir, aku langsung menuju gedung utama dan mencari bagian informasi.
"Pak, kalau mau ambil formulir pendaftaran di sebelah mana ya?" Tanyaku kepada petugas disana.
"Oh di sebelah situ pak. nanti bilang aja mau ambil formulir" jawab petugas itu
"Oke. Makasih ya pak" akupun menuju tempat yang ditunjukkan oleh petugas tadi.

(Selesai mengambil formulir dan berencana untuk pulang)

"Woi Andre..." teriak seseorang bersuara wanita yang tidak asing di telingaku.
Aku menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namaku tadi dan ternyata dia adalah Merlin.
Merlin adalah seorang gadis keturunan tionghoa. Merlin ini adalah salah satu perempuan yang pernah ada di dalam hidupku, meski belum berstatus sebagai pacar namun Merlin sudah kenal dengan kedua orang tuaku dan cukup sering main ke rumahku.
Aku dan Merlin sangat sering jalan bersama, nonton film di bioskop bersama. Bahkan ada satu momen aku mencuri kesempatan untuk mencium bibirnya, bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Ketika itu, Merlin memintaku mengantarnya ke salon untuk persiapan acara sweet 17th nya yang akan berlangsung malam hari. Aku mencium bibirnya beberapa saat setelah dia selesai di dandani. Akupun bingung mengapa Merlin menjauhiku setelah kami berada di kelas 3.
Untuk postur tubuhnya, Merlin memiliki kulit oriental dengan tinggi badan 155cm dan berat dibawah 50kg. Payudaranya kencang dengan ukuran sekitar 32C.
Andre : "Eh lu lin. Gimana kabar lu?"
Merlin : "Biasa aja kok aku. Kamu ngapain disini?"
Andre : "Ah ini, gua mau ambil formulir pendaftaran untuk jurusan TMAB (Teknik Mesin Alat Berat)"
Merlin : "Loh kamu kan udah dapat undangan di Univ BrwX, ngapain lagi ambil formulir disini?"
Andre : "Ah males lah gua di jurusan kimia, gak ada minat gua. Ntar malah kacau kuliah gua"
Merlin : "Oh gitu, kalo gitu kita bisa sering ketemu lagi dong. Aku juga gak kuliah keluar"
Andre : "Oh lu kuliah di sini juga?"
Merlin : "Bukan di Px sini, gua rencana daftar di MadaX”
Andre : "Terus ngapain lu kesini?"
Merlin : "Mau cari jodoh kali"
Andre : "Idihh"
Merlin : "Aku nemenin si Mitha ambil formulir, dia mau ke jurusan tata boga"
Andre : "Mana dia?"
Merlin : "Lagi ke toilet"
Mitha ini adalah teman Merlin di tempat ibadah. Mitha pernah satu sekolah denganku di SMP. Namun saat itu aku jarang berbincang dengan Mitha, kuakui pada saat SMP, banyak anak laki-laki yang suka pada Mitha. Aku dan Mitha mulai dekat saat menjelang Ujian Akhir, dimana pada saat itu kami mendapat Ujian Praktek untuk nilai Ujian Sekolah. Aku membantu Mitha menyelesaikan tugas proyek TI. Namun sejak aku dan Mitha berbeda sekolah saat SMA, aku hanya melihat Mitha pada saat mengantar Merlin ke tempat ibadah. Setelah Merlin menjauhiku, aku pun mulai jarang bertemu Mitha.
Mitha ini adalah seorang wanita keturunan Tionghoa-Manado dengan kulit putih mulus dan bersih, tingginya 160cm dengan berat badan 50kg. Badannya terbilang cukup kurus namun tidak kurus kering.
Ukuran payudaranya mungkin sekitar 34C tapi Mitha memiliki bokong yang indah serta kaki yang jenjang.
Terlihat Mitha sudah berjalan kembali menuju kami dan aku juga sedang buru-buru mau pulang.
Andre : "Hai Mit, bakal sekampus nih kita"
Mitha : "Serius?"
Andre : "Iya nih"
Andre : "Yaudah gua cabut duluan ya lin, mit. See You"
Mitha : "Okey dre, See you"
Merlin : "Hati-hati dre"

(Sampai di rumah)

Yang kulakukan di rumah hanyalah bermain game online di kamarku.
Kemudian sekitar jam 15.00 saat aku masih bermain game online, aku dikejutkan dengan sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Namun ketika aku jawab, orang seberang sana mematikan teleponnya.
"Ah sialan, ganggu aja nih orang" kataku
Ternyata banyak sekali pesan BBM yang masuk di HPku. Ternyata itu dari Merlin.
"Oi Dre.."
"Ping!"
"Ping!"
"Ping!"
"Andree Jawab laaa.. katanya masih temen"
Dalam hati aku berkata "Gila ini anak ganggu orang aja, mau ngapain lg sih"
Kemudian aku jawab :
"Ya lin, knp? Gua lg main game tadi"

"Kamu itu ya gak berubah, masih aja main game terus kerjaannya" jawab Merlin secepat kilat
"Kalo aku gak missed call tadi, sampai besok pagi kali baru dibales” lanjutnya
"Berisik amat sih lu, buruan kenapa lu chat gua tiba-tiba. Pacar gua nunggu nih mau dimainin"
(Maksudku karakter cewek dalam game sudah nunggu buat di gerakkan)
"Halah main sama yang gituan. Ntar jogging gak kamu?" jawab Merlin
"Iya ntar sore jogging gua kalo gak hujan mah"
"Aku sama Mitha mau ikut. Bareng ya.. Jemputin"
"Ogah lah kalau jemputin lu, jauh banget gila. Mana sempet. Kalo jemputin di rumah Mitha masih okelah"
"Yaudah ntar aku tunggu di rumah Mitha aja"
"Oke. Jam 4"
"Oke"

Aku hampir lupa kalau ini hari jumat dan biasanya kalau weekend antara jumat-minggu aku ada jadwal jogging bareng teman-temanku.
Aku pun segera mematikan laptop dan komputerku kemudian menyalakan mesin mobil sembari bersiap-siap.
Selama aku dalam perjalanan ke rumah Mitha, Merlin tidak berhenti mengirim pesan via BBM.
Ternyata Merlin sudah ada di rumah Mitha sejak pulang dari ambil formulir di kampus Px.
"Oi dah pada siap?" tanyaku sambil menurunkan jendela mobilku.
"Udah nih, yuk" jawab Merlin
"Bentar ya. Bilang ke Mama dulu" kata Mitha
Tadinya aku malas turun dari mobil namun aku melihat mama Mitha keluar dari dalam rumah sehingga spontan aja aku turun dan menyapa.
"Sore Tante.. kami bertiga mau jogging di Lapangan nih tante"
"Iya.. Gapapa Andre. Mama sehat?" jawab mama mitha
"Sehat kok tante. Ohiya, aku ijin pergi dulu ya tante. Takut kesorean nanti malah jadi malem pulangnya"
"Oke hati-hati ya Andre. Jangan ngebut" nasehat mama mitha
"Oke tante. Kalau anaknya gores kan turun nilai mahar"
"Hah kamu ini ada-ada aja. Yaudah sana"
"Bye tante.."

(Sampai di lapangan track jogging)

Kutelusuri seluruh kawasan lapangan, namun sejauh mata memandang tidak satupun batang hidung dari teman-temanku yang biasanya jogging ada di lapangan ini. Mungkin mereka besok baru jogging. Jadi aku pun terpaksa jogging bertiga dengan Merlin dan Mitha karena mau pulang lagi juga udah nanggung.
Pada saat jogging, aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi karena Merlin dan Mitha kebanyakan berhenti untuk istirahat sehingga akupun terpaksa ikut berhenti karena mereka perginya bareng aku dan kalau satu aja pingsan, aku juga yang repot.

(Selesai jogging)
Aku pun mengantarkan mereka kembali ke rumah Mitha.

Sesampainya di depan rumah Mitha, aku berniat langsung pulang karena mau melanjutkan game ku tadi.
Namun mamanya Mitha memanggil dan mengajak aku untuk makan malam dulu sebelum pulang.
Walaupun sudah menolak namun Merlin dan Mitha masih memaksa dan mereka berdua gak mau turun dari mobilku,
Yasudahlah apa boleh buat daripada makin lama lagi nanti pikirku. Aku pun memarkirkan mobilku dan mengikuti mereka berdua masuk ke rumah Mitha.


(Di dalam rumah Mitha)

Aku ijin ke kamar mandi karena gerah dan kebetulan aku selalu bawa baju ganti kalau jogging. Jadi aku mau mandi dulu biar begitu pulang bisa langsung main game.
"Tante.. aku boleh pinjem kamar mandi gak? Bau badan nih gak enak" tanyaku
"Pakai aja kamar mandi di lantai dua dre" sahut mama Mitha
"Sabun sama handuk ada gak?" lanjut si tante
"Ada kok tante, aku bawa di mobil" aku kemudian bergegas mengambil peralatan mandi dan baju gantiku

"Ijin ya tante"
"Iya.. udah sana cepet" jawab tante

(Setelah menaiki tangga dan berjalan menuju ke kamar mandi di lantai dua)

Saat sedang asik berjalan. aku melihat suatu pemandangan yang membuat aku terdiam beberapa saat.
Aku berpapasan dengan ci Dewi, kakak perempuan Mitha yang kutebak baru selesai mandi karena dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan lilitan handuk di badannya. Spontan aku syok dan tidak bisa berkata-kata. Ci Dewi pun langsung berlari kecil ke kamarnya karena malu. Namun pemandangan tersebut semakin membuatku terpesona. Sesuatu di balik celanaku mulai mengeras.
Ci Dewi dapat dikatakan benar-benar bagai seorang Dewi, banyak teman-teman di tempat ibadah yang selalu membicarakan parasnya yang cantik.
Meskipun kakak dari Mitha, Umur ci Dewi hanya berbeda 2 tahun denganku. Badannya cukup mungil dan imut seperti salah satu member JKT69.
Tidak banyak yang dapat kujabarkan tentang tubuh ci Dewi karena ia sesungguhnya sangat sempurna sebagai seorang perempuan.
Karena kejadian aku berpapasan dengan ci Dewi ada di lantai 2 dan semua penghuni rumah lain sedang sibuk mempersiapkan makan di dapur yang berada di lantai 1. Maka aku pun diam saja dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Mulus banget coy, mimpi apa gua semalam" kataku dalam hati

(Di dalam kamar mandi)
Saat ingin menggantungkan pakaian kotorku, aku melihat BH dan CD ci Dewi masih di gantung di belakang pintu kamar mandi.
"Mungkin dia lupa" pikirku
Awalnya aku merasa jijik karena aku belum pernah melihat pakaian dalam kotor dari seorang perempuan secara langsung seperti ini
Maklum aku 3 bersaudara dan semua laki-laki, jadi paling liat CD emak-emak anak tiga doang yg gak ada menarik-menariknya. Hehe
Rasa penasaran membuatku berani menyentuh pakaian dalam kotor Ci Dewi itu, aku merasakan wangi tubuh Ci Dewi yang sangat kuat dari BHnya.
Akupun tidak tahan dan melakukan masturbasi di dalam kamar mandi sambil membayangkan Ci Dewi.

(Setelah selesai mandi)
Aku pun turun untuk makan malam.

"Lama amat sih kamu mandi dre, luluran apa kayak cewek aja kamu" kata Merlin.
"Mau tau aja lu urusan cowok, Mitha sama tante mana?"
"Mitha lagi nangis tuh di kamar"
"Lah ngapa?"
"Papanya dia dikeroyok preman barusan, jadi Mamanya sama Ci Dewi langsung pergi, si Mitha disuruh jaga rumah" jelas Merlin
"Pantas aja kok rumahnya keliatan sepi, rasanya tadi rame" kataku dalam hati
"Di bawa ke Rumah Sakit mana?" lanjutku
"RS Pert***a"
"Ayo liat si om yok"
"Makan dulu, udah disiapin juga"

Aku dapat mendengar isak-isak tangis dari dalam kamar Mitha
Sebelum makan aku pergi ke kamar Mitha
(Sambil mengetuk pintu)
"Mit..Mit.. Ayo makan dulu mit"
Tidak ada jawaban tapi samar-samar aku dapat mendengar semakin jelas isak tangis Mitha
"Mit.. gua boleh masuk ya"
Masih tidak ada jawaban, tapi aku meyakinkan diri dan membuka pintu kamar untuk mengintip sedikit.
Kulihat Mitha sedang menangis di tepi ranjang sampai dia tidak bisa berkata-kata.
Aku pun tidak tega dan mengambil posisi duduk disebelahnya
Sambil mencoba menenangkan Mitha dan entah kenapa si Mitha malah langsung memelukku dan menangis di bahuku.
"Udah mit, makan dulu. Habis ini kita ke RS liat papa lu"
"Taa..Ta.. Tadi katanya papa gawat.." kata Mitha sambil terus menangis
"Iya, sabar ya. Lu berdoa aja gak kenapa-kenapa. Sekarang makan dulu dikit nanti lu sakit loh"

Tanganku tanpa sadar sejak kapan mulai mengusap air mata di pipi Mitha dan mengelus-elus rambutnya, mungkin reflek aja liat cewek nangis.
Kemudian entah dirasuki oleh setan mana. Aku mencium kening Mitha, namun Mitha hanya diam saja yang mungkin entah karena dia tidak sadar karena terbawa suasana haru atau karena merasa nyaman dan welcome. Akupun memeluk badannya dengan erat sambil mencium pipinya.
Kemudian ciumanku mulai berani turun sampai ke daerah tengkuk lehernya, dia pun berhenti terisak dan aku sadar perbuatanku yang kelewatan tapi tak berapa lama Mitha kembali terisak.
Aku pun memegang kedua pipi Mitha sambil menghapus air matanya, lalu aku mencium lembut bibirnya. Awalnya dia kaget namun lama-kelamaan dia membalas ciumanku dan bibir kami menempel selama hampir beberapa menit. Posisi kamipun sudah bukan duduk di tepi ranjang melainkan aku berada diatas Mitha yang terlentang dan menutup matanya. Ciuman kami pun terhenti ketika terdengar suara kursi bergeser.
"Ah sial ada Merlin" kataku dalam hati
Setelah itu aku dan Mitha pun pergi ke meja makan dan kami bertiga menghabiskan makanan sebelum menuju ke Rumah Sakit.

(Sesampainya di rumah sakit)
Mitha pun segera berlari, aku mengikutinya dengan berjalan cepat meninggalkan Merlin di belakang.
Mama Mitha dan ci Dewi masih tampak menangis di Loby saat kami tiba dan aku baru tau kalau papa Mitha belum sadarkan diri dan masih dirawat intensif.
Kami semua menunggu kabar dari tim medis dan kulihat jam di dinding rumah sakit pada saat itu menunjukkan pukul 1.00

Aku pun mengingatkan Merlin untuk pulang, namun dia kelihatan sangat bingung waktu itu.
"Udah jam 1 loh ini lin, lu kagak pulang? Gak baik anak gadis keluyuran jam segini" kataku
"Gimana mau pulang, aku kan tadi di jemput Mitha" jawab Merlin
"Oh gitu, bilang lah. Kan gua bisa anterin lu" jawabku
"Kamu bilang jauh tadi, jemput aja gak mau" jawabnya ketus
"Yaelah, kasusnya kan beda lin. Kalo baper liat sikon juga kali. Yaudah ayo buru pamitan dulu lu sana, mau pulang kaga?"
"Yaudah iya, tunggu bentar"
Merlin pun berpamitan kepada Mitha, Ci Dewi dan mamanya Mitha.
"Pulang sama siapa lin?" tanya mamahnya Mitha
"Di anterin Andre tante" jawab Merlin
"Tante, Ci Dewi, Mitha. Aku anterin Merlin pulang dulu ya, ntar aku kesini lagi kok" kataku
"Iya dre makasih ya, kamu pulang juga aja gapapa kok, tante sama anak-anak aja disini nungguin kabar papanya Mitha, bantu doa ya"
"Iya tante semoga si om cepat sadar dan kembali sehat lagi ya" jawabku
"Nanti habis anter Merlin gapapa tante aku kesini lagi, dirumah juga gak ada kegiatan. kali aja ada yang bisa aku bantu-bantu" lanjutku
"Yasudah hati-hati ya" tutup mamahnya Mitha

(Aku dan Merlin berjalan melalui lorong Rumah Sakit dan tibalah kami di dalam mobilku)
Segera kami beranjak meninggalkan parkiran rumah sakit.
Sejak awal masuk ke mobilku sampai sekarang. Merlin hanya diam saja. Gak biasanya dia bersikap begini.
"Kenapa lu lin? Diam aja, ngantuk nih gua ntar"
"Lu ngapain ama Mitha tadi di kamarnya?"
Jlebb.. akupun kaget setengah mati namun masih berusaha tenang.
"Ya dia nangis, apa salahnya sih gua pinjemin bahu gua bentar"
"Iya.. Enak kan habis itu modusin dia, ambil kesempatan?"
"Wah mampus, ketahuan kah gua tadi" pikirku

Sambil terus berusaha mengelak, jawabanku mulai kacau.
"Aku liat kamu cium dia, kamu bener-bener keterlaluan ya"
Di tembak seperti ini, rasanya aku ingin mati di tempat saja.
"Ah itu tadi spontan lin, udahlah ngapain kamu marah gitu sih"
Sepanjang perjalanan pun menjadi sunyi senyap. Musik sengaja aku matikan karena malah akan tambah merusak suasana.
Kulihat sepertinya Merlin terlelap.
"Udah sampai lin" kataku sembari membangunkannya

Merlin pun turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Hei.. Lin"
Merlin menoleh
"Ini pertanda kalau dia masih berharap untuk di panggil" pikirku
Aku pun turun dari mobil dan langsung saja ku pegang kedua pipinya Dan Cupp... Kukecup bibir Merlin dengan mesra.
Aku menciumnya beberapa kali sebelum mengakhirinya karena bahaya kalau orang tua merlin melihat dari dalam rumah. Bisa-bisa aku jadi sate hari ini.
"Lu masuk deh buruan lin, gua tungguin sini sampai lu masuk"
"Oke dre, see you"
"Jangan jengkel lagi yaa"

Setelah kutunggu beberapa menit, tidak ada yang membukakan pagar dan Merlin sepertinya mulai panik. Akupun turun lagi dari mobil dan menghampiri dia.
"Kenapa lin?" tanyaku
"Kayanya udah pada tidur semua deh, ini aku juga baru liat HP katanya aku disuruh nginap aja di rumah Mitha. Duh gimana ya?" katanya panik
"Yaudah lu nginap di rumah gua aja, banyak kamar kosong kok" tawarku
Aku menawarkan Merlin menginap di rumahku bukan tanpa alasan, bukankah sudah jelas kalau Merlin ikut balik ke Rumah Sakit akan menjadi masalah baru karena aku mau sekalian pdkt ke si Mitha.
"Boleh emang?" tanya Merlin
"Ya boleh lah. Yuk"

Aku pun membawa Merlin ke rumahku, ini pertama kalinya aku membawa perempuan ke rumah semenjak aku tinggal sendiri di rumah ini.

(Sesampainya di dalam rumah)

Merlin melihat beberapa photobox saat acara-acara pernikahan rekan-rekanku.
"Wah lu masih pajang foto kita berdua pas di kawinan ci Stella ya"
"Ah iya, belum sempat beresin aja"
"Bagusan jgn di beresin deh dre"
Sambil berkata begitu, Merlin mendorongku ke sofa dan entah bagaimana gerakannya. Yang jelas saat ini dia sudah duduk diatas pahaku dan dengan posisi ini aku benar-benar tidak bisa bergerak. Ah bukan, aku bukannya tidak bisa bergerak karena dia berat atau karena pergerakanku terkunci namun seluruh badanku sudah tidak singkron dengan otak karena syok, kaget, takut dan senang. Merlin kemudian menciumi bibirku dan berbisik.
"Do it.." (kata Merlin dengan sedikit mendesah)
"What???" aku panik
"Do it dre.." lanjutnya
"What do you mean?" kataku
Tanpa berkata lagi, tangan Merlin meraih tanganku dan meletakkannya diatas dadanya
"Oh My God" kataku dalam hati

Percumbuan itu berlangsung cukup lama dan kami menikmatinya sampai akupun tidak sadar sejak kapan tanganku sudah berada di dalam baju Merlin.
Akupun semakin berani dengan memainkan puting Merlin yang terasa sudah mengeras.
Kemudian aku buka bajunya beserta BHnya sekalian.
"Ohhhh... dre" desah Merlin
"Are you okay?"
"Yessss"
"Jangan cuma di mainin pakai tangan dree... isapin"

Akupun melanjutkan permainan dengan adegan yang biasanya aku tonton di film panas. Aku mulai menelusuri dada Merlin dengan tanganku kemudian puting payudara sebelah kanannya kumainkan dengan lidahku. Merlin pun mendesah tak karuan.
"Mmmhhhh..." desah Merlin
"Gimana rasanya lin?" godaku
"Mmmmmmhhhhhhhh...." Merlin hanya mendesah dan tidak

Tak berapa lama kurasakan ada sesuatu yang menyentuh batang penisku dan ternyata benar, tangan Merlin sudah mulai memainkan batangku dari luar celana.
Setelah beberapa saat, Merlin turun dari pangkuanku.
Dia mulai meraba disekitar pahaku kemudian sampai ke batangku. Dia membuka celanaku kemudian aku yang masih dalam posisi duduk melihat dia melirik ke arahku dengan mata khas perempuan tionghoa yang benar-benar menggoda. Dibukanya celana dalamku sekalian dan seketika batangku dengan gagahnya berdiri tegak didepan muka Merlin.
(Bentuk batangku ini cukup aneh. Kira-kira jika di genggam. Ukuran batangnya sebesar botol b*n cabe dan kepalanya lebih besar dari batangnya. Untuk panjangnya mungkin sekitar 17-19 cm, aku tidak pernah mengukurnya)
Merlin pun mengocok batangku itu dengan tangan nya dan ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, ada seorang wanita memainkan batangku. Sensasinya benar-benar nikmat. Lebih nikmat daripada melakukannya sendiri (Masturbasi).
Tidak berhenti sampai disitu, Merlin mulai memasukkan kepala penisku kedalam mulutnya hingga penuh sesak. Dan beberapa kali kurasakan sakit karena terkena giginya, mungkin ini juga pertama kalinya Merlin mengoral penis.
"Oh lin... enak banget lin..."
"Mmmmmhhhmhhhhhh..." Merlin terus mendesah tak kauran
Aku menikmati permainan mulut Merlin kurang lebih 5 menit sebelum aku merasakan akan keluar.
"Oh lin... Gua mau keluar lin.."
"Mmmhhhmhhhhh"
"Gua gak tahan lagi lin..."

Merlin mempercepat kocokannya dan memperkuat hisapannya pada kepala penisku dan hali ini menyebabkan aku benar-benar tidak sanggup menahan lagi.
"Crooott... Crooot.. Croottt"
Entah berapa kali tembakan dari penisku kedalam rongga mulut Merlin, terlihat Merlin memejamkan matanya menahan rasa mual namun dia sama sekali tidak mengeluarkan lagi spermaku dari mulutnya.
"Gila... ditelan semua. Benar-benar perempuan binal" kataku dalam hati
Bahkan setelah aku ejakulasi, Merlin masih mengisap kepala penisku beserta batangnya sampai bersih.
Setelah itu dia menyandarkan kepalanya di dadaku yang dari awal masih duduk di sofa dengan posisi yang sama.
"Gimana dre? Kalau aku gak bisa jadi yang terbaik buat kamu, aku tetap bisa kan jadi yang terenak buat kamu?" godanya
"Of course, you can. Thank You lin.. but I'm sorry because this is my first time”
“Me too dre”
“Tapi lu jago banget lin”
“Aku cuma lakuin sama seperti yang aku liat di film yg aku copy dari laptopmu dulu”
Setelah itu aku menunjukkan kamar untuk Merlin menginap, bersih-bersih badan dan bersiap untuk kembali ke Rumah Sakit karena memang sudah janji dengan mamanya Mitha. Bagiku janji tetaplah janji


Bersambung

Episode :

Jika menurut suhu semuanya cerita ini menarik dan patut untuk dilanjutkan, jangan sungkan untuk meninggalkan like dan komentarnya ya hu
Note : Ohiya, jika ada kesalahan dan melanggar peraturan, silahkan om momod untuk melakukan penindakan dengan menghapus thread nubi.
Tapi jangan banned nubi yang masih baru memasuki dunia per"cerpan"an ini.

----------------------------------------------------------

Bagian Kedua :
Aku, Kamu, Dia dan Mereka Bagian Kedua - Pertualangan Cinta
 
Terakhir diubah:

kkaze30

Pendekar Semprot
Daftar
17 Jun 2018
Post
1.580
Like diterima
8.134
Lokasi
Bandung
sepertinya sudah tidak underage hu Sma

Kalo bagus alurnya pasti rame hu

Meskipun terpatok sama komen tapi komen ngak nentuin kualitas
Tetapi isinya ato ceritanya yang membuat ramai suatu tred...;)

Semoga betah di. Mari suhu :)
 

zissycaem

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
23 Dec 2015
Post
189
Like diterima
773
Lokasi
Anti PK Club
sepertinya sudah tidak underage hu Sma

Kalo bagus alurnya pasti rame hu

Meskipun terpatok sama komen tapi komen ngak nentuin kualitas
Tetapi isinya ato ceritanya yang membuat ramai suatu tred...;)

Semoga betah di. Mari suhu :)
Underage sih kayaknya nggak hu, karena latar cerita setelah lulus SMA. Dan semua karakter memang sudah berusia 18+

Plat KT ijin memantau hu. Lanjut..
Silahkan di pantau hu...

agak terburu2 tapi layak dinanti kelanjutannya
Maklum nubi banget nih hu, semoga kedepan, ceritanya lebih berpengalaman lagi ya
 

zissycaem

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
23 Dec 2015
Post
189
Like diterima
773
Lokasi
Anti PK Club
Kita lanjutkan sedikit para suhu...
Semoga Rumah kita semakin ramai, masih banyak kamar kosong.

Terima Kasih untuk para suhu semua yang sudah memberikan support kepada rumah kita ini.
:ampun::beer::ampun::beer:

Setelah aku mengantar Merlin ke kamarnya. Kuberikan kunci pintu depan rumahku kepadanya.
Segera aku pun bersiap untuk kembali ke Rumah Sakit karena sudah janji dengan mamanya Mitha.
"Aku ikut lah dre" teriak Merlin.
"Jangan lah, kalo lu ikut ntar mau bilang apa kalo di tanya kemana aja kok lama" tolakku
"Bakal ribet lin. Otak gua udah gak singkron ini buat bikin alesan. Ntar blunder" lanjutku
"Terus aku sendirian aja dirumahmu gitu?"
"Ya iyalah, lu jangan bawa cowo ya ke rumah gua. Gua tampol kepala lu"
"Pake itu? Mau dong lagi" sambil menunjuk ke arah batangku
"Pake ini lah" aku kepalkan tanganku di depan nya

Kemudian aku pergi ke kamarku di lantai 2 karena aku berinisiatif membawakan beberapa lembar selimut untuk Mitha. Aku sudah siap untuk tempur jika harus menginap.

Sebenarnya hubunganku dengan keluarga Mitha tergolong cukup dekat, bahkan sebelum Mitha dan aku sekolah di SMP yang sama. Aku sudah mengenal orang tua Mitha waktu aku masih duduk di bangku SD karena kebetulan papanya Mitha ini adalah kepala sekolah di salah satu SD swasta di kotaku dan aku sering bertemu beliau saat mewakili SD ku untuk olimpiade matematika, dan ya.. pertandingan klasik antara SD ku dengan SD papanya Mitha selalu dimenangkan oleh SD ku.

Waktu menunjukkan pukul 2.30 malam saat aku akan keluar dari pagar rumahku.
Sebelum pergi, Merlin sempat mencium bibirku di depan pagar rumah.
Cupp.. dikecupnya bibirku dengan tatapan penuh makna.
"Udah lin, apa kata tetangga ntar kalo ketahuan" kataku
"Hehehe.. yaudah hati-hati ya beb"
"Kunci pintu, kalau ada yang bel gausah di buka. Pura-pura mati aja lu. Okey?"
"Okee" sahutnya dengan manis.
Aku merasa seperti sedang berpamitan dengan istriku di depan rumah.

Akupun segera mengendarai mobilku dan dalam perjalanan aku sempatkan mampir ke sebuah minimarket 24 jam untuk membeli beberapa makanan ringan untuk berjaga-jaga dan tambahan amunisi tempur. Jarak antara rumahku yang terletak di sebuah komplek perumahan ternama di kotaku dengan Rumah Sakit terbilang jauh. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan apa yang baru saja kualami dengan Merlin dan sedikit cemas jika ada orang lain mengetahui kalau Merlin menginap di rumahku. Jujur saja selama ini aku selalu cuek jika ada teman wanita yang menginap dirumahku karena aku tidak melakukan hal-hal aneh dan reputasiku cukup baik diantara tetangga. Tapi berbeda dengan kejadian yang barusan kualami. Aku yang baru saja tamat dari bangku sekolah menengah atas ini sudah melakukan hal-hal aneh di rumahku.

Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, sampailah aku di parkiran belakang Rumah Sakit, aku langsung menuju ke kamar ICU RS ini yang ada di lantai 2 dengan membawa makanan ringanku. Sementara selimut kubiarkan ada di mobil. Siapa tau mereka sudah punya selimut. Kan boros tenaga pikirku.

Setelah menaiki anak tangga, kulihat Mitha masih duduk lemas di sebuah sofa panjang yang terletak di Loby lantai 2 RS ini. Kutanyakan kabar papanya dan aku mengetahui bahwa papanya mengalami puluhan luka tusuk disekujur tubuh dan masih dalam kondisi tidak sadar. Bahkan papanya sudah mendapatkan tranfusi darah sebanyak 3 kantong.

"Kok bisa sih mit? Gimana kejadiannya? Emang papa lu punya musuh apa?"
"Kemaren sih cek-cok sama orang tua murid Mr. B*(salah seorang mafia kelas wahid)"
"Kok bisa?" tanyaku
"Iya.. jadi itu anaknya mereka nilainya merah semua. Orang tuanya mau bayar (sogok) tapi emang anak itu udah berkali-kali di bantu dan anaknya gak ada perkembangan, jadi papa putusin buat pindahin anak itu ke sekolah lain (alias di keluarkan dari sekolah)"
"Terus?"
"Ya anak itu gamau sekolah lagi, orang tuanya marah dan mungkin bayar preman buat mukulin papa. Orang tuanya itu kan orang berada. Kamu juga pasti kenal lah"
"Bahaya juga ya kalau jadi orang bener, masih aja banyak musuhnya. Terus emang kenapa sih gak papa lu naikin aja itu anak. Toh satu doang gak masalah kan?"
"Kasian anaknya kata papa, ntar udah Ujian tapi gabisa hitung-hitungan, gabisa apa-apa"
"Kacau juga sih ya. Ohiya, lu gak laper? Gua bawa snack nih"
"Aku gak nafsu makan dre. Tapi thanks ya kamu udah perhatian banget"
"Lah kita kan sahabat sejak lahir" candaku
"Sahabat tapi ciuman ya"
"Sssttt, ntar kedengeran orang loh mit. Inget dinding ini mendengar"
"Terus lu ngapain di luar? Ci Dewi sama Mama mana?" lanjutku mengalihkan pembicaraan.
"Ci Dewi pulang tadi katanya mau ambil baju ganti. Besok dia ada kelas pagi. Kalo Mama ada di dalem. Dingin banget di dalem. Aku tunggu Ci Dewi balik sekalian bawa jaket"
"Oh gua bawa selimut kok, Ayo ambil buat mama lu"
"Kok pinter sih kamu"
"Kok lu baru tau sih gua pinter. Kemana aja lu?"
"Tersesat kali, ayo udah jadi ambil gak?"
"Let’s go.."

Selama perjalanan ke parkiran, aku diam saja karena pikiranku sedang lari ke rumah. Ya ke tempat Merlin. Aku terus memikirkan bagaimana mau bersikap di depan orang tua Merlin besok kalau harus anterin dia balik. Tiba-tiba Mitha mengagetkanku.
"Woi.. bengong aja kamu. Dimana parkirnya?"
"Ah dimana ya tadi, kayaknya di belakang deh. Sorry..Sorry.."
"Halah bilang aja mau modus... kamu mau bawa aku ke tempat sepi aja kan. Awas ya kamu macem-macem di tempat umum gini. Kuhajar kamu"
"Kalau gak di tempat umum berarti boleh macem-macem dong?"
(Mitha hanya diam dan langsung berjalan ke arah parkiran belakang)

Sesampainya di mobil, aku segera membuka bagasi belakang dan ku keluarkan selimut dari tasku.
"Buset.. Mau kemping bos?" ejek Mitha
"Persiapan tempur lah bego. Sedia payung sebelum hujan"
"Emang mau perang sama siapa?"
"Sama angin ini. Kencang anginnya"
"Terus kalo menang dapat apa?"
"Dapat lu kan?"
(Mitha terdiam sejenak)
Keluar deh jurus sepik maut kataku dalam hati.
"** ah kamu. Ntar Merlin marah loh" lanjut Mitha
"Lah siapa dia mau marah, pacar juga udah bukan"
"Mantan kesayanganmu lah"
"Cie jangan emosi gitu dong bos"
(Dengan spontan aku merangkul kepalanya dan kudekap di dadaku)
Mitha hanya diam dan aku mulai berani menciumi rambut dan kepalanya.
"Dre.. aku sebenernya sayang sama kamu. Tapi Merlin juga sayang sama kamu waktu itu, aku gak bisa kalau harus deket sama kamu"
"Ohiya? Kalau sekarang? Kan aku udah putus lama sama Merlin"
"Gabisa"
"Kenapa? Kalau kamu ragu, kita coba jalan bareng aja dulu"
"Gabisa dre.. Merlin itu masih sayang sama kamu"
"Lu gausah alesan gitu. Kalau dia sayang gamungkin dia putusin gua"
"Kamu emang bego sih, gak sadar apa kamu di putusin gara-gara apa?"
"Gatau gua, pas gua tanya aja dia bilang PIKIR AJA SENDIRI"
"Iya karna kamu emang bego"
"Tapi nilai gua gak ada yg merah"
"Tapi kamu ini bego sampe ke tulang. Tau gak sih? Semua cewek ya pasti bakal sama lah kalau kamu pas di telpon main game, pas diajak jalan main hape, pas nonton main hape"
"Ebuset kok lu tau sih?"
"Ya kan Merlin curhat ke aku semuanya. Dari A-Z. Aku tau semuanya yang kamu dan dia lakuin. SEMUANYA"

Aku terdiam. Selama ini Mitha suka sama aku dan aku pacaran sama sahabatnya, mereka bisa dibilang sahabat sedekat nadi. Dan Merlin cerita semua ke Mitha. Aku benar-benar terdiam, membeku, rasanya tidak ada lagi darah yang mengalir ke otakku.
(Aku tersadar dari lamunan setelah Mitha mencubit perutku)
"Woi.. ayo buruan. Dingin woi"
"Ah... yuk. Sini biar gak dingin"
Kugandeng tangan Mitha dan berharap lorong ini adalah lorong tanpa ujung. Ya namun itu hanya ada dalam imajinasi liarku saja. Kamipun sampai di depan pintu kamar papanya Mitha.

Setelah membuka pintu, Hawa AC yang begitu dingin menari-nari diatas kulitku. Segera saja aku suruh Mitha masuk.
"Loh Andre kenapa balik lagi?" kata mamanya Mitha
"Gapapa tante, oh iya ini aku bawa selimut juga"
"Wah kebetulan, dingin betul AC nya ini"
"Yasudah tante, aku tunggu diluar aja ya. Aku ini berisik nanti malah ganggu si om"
"Yasudah Mit, kamu temenin si Andre ya"

(Aku dan Mitha pun kembali dan duduk di sofa Loby lantai 2 RS)
"Mit.. maafin gua ya"
"Lah kok aneh sih kamu ini. Tiba-tiba minta maaf. Sakit kamu ya" kata Mitha sambil memegang keningku.
Kuraih tangan Mitha dan kukatakan bahwa aku lagi gak bercanda. Kemudian suasana kembali membeku.
Cukup lama aku memegang erat tangan Mitha sampai terdengar suara yang tak asing lagi di telingaku.
"Ngapain kalian?"
Deerr.. Jantungku benar-benar mau copot rasanya. Kulihat Ci Dewi sudah ada di dekat kami berdua dan menangkap basah aku sedang memegang erat tangan Mitha.
"Ini tangan Mitha kedinginan ci, gua cuma pengen buktiin doang beneran dingin atau kagak"
"Hmmm" sahut Ci Dewi sembari meninggalkan kami berdua.

Mampus deh gua, bego banget sih. Ntar malah dikira modus doang lagi mau ke RS. Padahal gua emang deket aja sama keluarga Mitha, pikirku dalam hati.

"Mampus kan kamu. Sudah kubilang jangan macam-macam kalo di tempat umum" kata Mitha ketus.
"Bodo amat dah, gua tambah pusing ini"
"Eh si Merlin ngechat nih. Dia tanyain kamu loh"
"Bilang aja gua udah tidur"
"Tidur sebelah aku gitu?" sahut Mitha mulai usil.
"Iya.. sekalian bilang gak pake baju terus selimutan bareng. Kasih PAPnya sekalian kalau perlu" kataku mulai jengkel.
"Yeee... kasih PAP berarti di praktekin dong. Menang banyak kamu"
"Yaiyalah praktekin, kalau mau di edit dulu kapan balasnya. Udah bilang aja gua udah tidur"
"Udah kujawab, kubilang kamu udah pulang dre"
"Yah si bego"

Tambah lagi masalah baru, si Mitha jawab aku sudah pulang sementara Merlin ada di rumahku sekarang dan aku gak mau bilang kalau Merlin ada di rumahku tapi aku juga gak mau pulang sekarang.
"Dre.. kok Merlin tau kamu belum pulang?"
"Mana gua tau, Lu tanya ke gua terus gua tanya siapa?"
"Feeling dia bener-bener kuat ya ke lu"

Ya iyalah si bego, Merlin ada di rumah gua. Rasanya ingin ku berteriak seperti itu di telinga Mitha.
"Bilang aja gua gajadi balik Mit, takut di begal gitu"
"Oke pak bos"

Waktu menunjukkan pukul 4.00. Setelah mengobrol segala macam hal, Mitha tertidur di bahuku. Tentu saja setelah itu aku rebahkan dia di sofa panjang dan aku selimuti.
Ternyata Mitha jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat.
Akupun tidak bisa tidur karena takut ada yang isengin Mitha, aku benar-benar ada dalam masalah besar sekarang. Saat sedang asik melamun, tiba-tiba Ci Dewi kembali membuatku kaget.

"Dre.."
"Ah iya ci, sorry ci tadi beneran gak kayak gitu kejadiannya" aku mencoba mengelak sebelum kena semprot
"Bukan itu yang mau cici tanya ke kamu sekarang"
"Terus apaan dong ci?"
"Cici mau tanya kamu tadi waktu mandi di rumah cici. Kamu ngapain aja di kamar mandi?"
Mampus.. masalah baru lagi ini. Dan otakku sudah terlalu lelah untuk membuat alasan. Lagipula kalau sampai Ci Dewi tanya hal itu, berarti dia sudah tau apa yang kulakukan terhadap pakaian dalamnya di kamar mandi tadi sore.
"Ci... sorry banget ci, gua gak ada maksud kurang ajar gitu kok sebenarnya"
"Ah bener kan, kamu emang mesum ya ternyata"
Oh shit man.. Ternyata aku bisa kena jebakan batman murahan kayak gini. Malu banget rasanya.
"Cici juga sengaja kok dre mau godain kamu, habisnya kamu itu suka salting kalo di gangguin hahaha" kata Ci Dewi dengan santainya.
"Maksudnya ci?"
"Cici sengaja tinggalin pakaian dalam bekas cici pakai tadi, terus cici foto. Eh tadi pas pulang cici cek, bener aja posisinya kebalik"

Aku hanya terdiam dan menahan malu. Aku benar-benar harus hati-hati lain kali. Aku juga sudah siap kalau dipermalukan Ci Dewi dikemudian hari.
"Ohiya.. satu lagi Dre, waktu cici pulang ke rumah tadi. Cici liat kamu di depan pagar pas mau pergi kesini loh"
Sekedar info, Rumah Mitha ini kebetulan satu komplek dengan rumahku, hanya berbeda beberapa blok saja dan memang kalau dari rumah sakit ke rumah mitha akan melalui jalanan depan rumahku.
Saat di depan pagar yang mana? Sewaktu Merlin menciumku kah? Ah ini benar-benar hari yang indah sekaligus hari yang buruk buatku.
Akupun semakin menunduk dan benar-benar hancur saat itu. Seolah-olah aku ingin menghapus identitasku saat ini dan pergi sejauh-jauhnya.

"Cici liat apa emangnya?" tanyaku memastikan, tentu saja aku tak ingin terjebak dua kali.
"Cici liat mantan kesayangan kamu dong"
"Ah ci, aku bisa ceritain semuanya"
"Gausah.. cici aja yang ceritain semuanya ke orang-orang nanti"
"Jangan gitu ci, plis lah"
"Oke.. tapi ada syaratnya"
"Cici mau apa? Baju? Tas? Sepatu? Besok kita ke mall"
"Kamu pikir cici ini cewek cantik apaan dikasih barang gituan"
"Cici mau kamu temenin cici jalan nanti pagi" lanjutnya
"Kan cici ada kelas pagi" jawabku cepat
"Iya kamu tungguin cici di kampus cici"
"You’re the boss ci"

Ci Dewi kemudian mendekatiku.
"Makanya jangan nakal kalo gak siap tanggung akibatnya" bisik Ci Dewi
"Cup" Ci Dewi melanjutkan dengan ciuman di pipiku dan telunjuknya menyentil batangku, entah sengaja atau tidak. Ci Dewi pun kembali ke ruangan.

Pagi itu sekitar jam 6.00, aku dibangunkan oleh petugas kebersihan RS yang memintaku untuk tidak tidur di Loby karena tidak enak dilihat oleh pengunjung lain. Aku melihat Mitha masih tertidur dan kemudian aku membangunkan Mitha. Kami berdua segera ke ruangan dan bergantian ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menggosok gigi.
"Dre.. kok kamu gak bangunin aku sih semalem?" kata Mitha
"Kayaknya lu kecapekan semalem"
"Tapi kamu gak macem-macemin aku kan. Inget ada CCTV"
"Justru aku yang di macem-macemin"

Obrolan kami kemudian terpotong oleh Ci Dewi.
"Mit.. cici mau pergi kuliah. Ini kunci mobil kamu pegang ya"
"Lah cici naik apa?"
"Kan cici ada supir baru hari ini" kata Ci Dewi sambil memeluk perutku
"Siap bu bos" sahutku

Setengah jam kemudian, aku dan ci Dewi pun langsung berjalan ke mobil tanpa banyak berbicara. Sebisa mungkin aku menghindari percakapan dengan ci Dewi.

"Oi Dre... bawain tas cici dong. Masa cowo jalan sendiri"
"Oke ci"
....
"Oi Dre... buruan dong nyetirnya ntar cici gak sempat sarapan loh"
"Oke ci siap"

Dan begitulah jawaban ku setiap perintah yang diberikan oleh ci Dewi. Dalam hati ingin sekali ku sekap wanita yang duduk disebelahku sekarang ini, kemudian kutelanjangi dan ku foto sebelum kunikmati tubuhnya. Jika di pikir-pikir, Ci Dewi ini memiliki badan yang cukup sempurna. Ukuran dada 34B, Tinggi 165 cm dan lekuk tubuh dan wajah khas wanita Manado.

Setelah beberapa menit, kamipun sampai di Kampus ci Dewi.
"Oke ayo kita sarapan dulu, kamu yang bayar"
"Siap ci"
"Jangan jawab singkat gitu mulu, apa bibir kamu perlu di cium dulu biar bisa ngomong yang banyak"
"Iya ci, eh maksudnya jangan ci"
"Yaudah ngomong yang santai dong"
"Oke ci, lagian hari sabtu ngapain kuliah dah?"
"Iya ini kan kelas pengganti, Kemaren waktu tanggal merah kan libur, jadi kelas di ganti sabtu"
"Oh gitu. Semangat ya cici sayang"
"Hahaha.. bagus banget aktingmu"

Setelah menunggu selama 2 jam, akhirnya kelas ci Dewi selesai juga. Akhirnya satu penderitaanku akan segera berakhir.

"Dre.. sekarang kita ke rumah cici, habis itu jemput Merlin"
"Hah? Ngapain jemput Merlin ci?"
"Kamu gak mau kasih pulang anak orang? Kalo gitu cepet nikahin bego"
"Ah iya, aku sampai lupa kalau HPku ketinggalan di kamar papanya cici"
"Yaudah kerumah cici buruan. HP gak penting"
.....
"Ngapain balik ke rumah ci?"
"Jangan banyak tanya. Cepat parkir, masuk. Bantuin cici"
"Oke bentar ci"

Setelah parkir, aku bergegas masuk ke dalam rumah Mitha. Namun aku sangat kaget ketika melihat Ci Dewi melepaskan semua pakaiannya dan memberikannya ke aku. Semuanya termasuk pakaian dalamnya.
"Ini upah dari cici buat kamu. Sekarang kamu gausah sembunyi-sembunyi lagi"
Seketika penisku perlahan tapi pasti mulai mengeras, aku sudah menahan diri sebisa mungkin untuk tidak terangsang. Namu gagal.
"Maksudnya ci?"
"Iya kamu gak perlu modus pinjem kamar mandi lagi"

Ah sepertinya Ci Dewi mulai salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud modus kemaren sore, hanya kebetulan saja timingnya pas.
"Tapi ci..."
"Sssttt diem.." ci Dewi menempelkan telunjuknya ke bibirku
"Kamu liat ini.. Cici sebenernya juga sudah gak perawan lagi" kata ci Dewi sambil melebarkan bibir kemaluannya.
"Sini kamu..." Ci Dewi menarik tanganku ke dalam kamarnya di lantai 2
"Sekarang cici tau rahasia kamu dan kamu tau rahasia cici. Ini cukup kan buat jaminan?"
"Kok diem aja sih kamu dari tadi? Bisu?"

Jujur saja, selama ini aku belum pernah sekalipun melihat tubuh wanita polos seperti ini, dari atas sampai bawah. Jika hanya sebagian saja mungkin sering saat mengintip teman waktu sekolah dulu.
"Ayo buruan buka bajumu, lama-lama cici kan juga jadi malu kalau telanjang sendirian" kata Ci Dewi sambil menutupi dadanya dengan tangan
"Gua belum pernah liat cewe telanjang ci"
"Hah? Kamu yang berengsek begini belum pernah liat cewek telanjang?"
"Kalau gitu cici harus banyak ajarkan kamu dong? Padahal cici pikir kamu jago" lanjutnya
Tanpa basa-basi lagi, Ci Dewi menghampiri aku dan mulai membuka bajuku satu-persatu sampai tuntas.
"Wah. Bener-bener pemain baru, belum apa-apa udah tegang. Gede banget ya kepalanya" goda ci Dewi

Akupun langsung memeluk erat tubuh ci Dewi, dapat kurasakan dada ci Dewi yang menempel dengan tubuhku. Tanpa banyak komando, ku cium bibir ci Dewi.
"You’re a good kisser dre"

Tangan ci Dewi mulai mengelus setiap sudut tubuhku sampai dia melepaskan bibirnya dari bibirku.
"Cici kasih kamu bonus deh dre hari ini, karna cici lagi galau berat"
"Siap bu bos"

Ci Dewi mulai menurunkan badannya dan berjongkok di depan ku.
"Idih ini kegores apaan dre, kok kayak bekas gigi"
Ah sial. Bekas gigi Merlin masih meninggalkan bekas merah dan lecet-lecet pada batang penisku
"Ini bukan kerjaan si Mitha kan dre?" lanjut ci Dewi
"Bukan lah ci" sahutku agak gugup
"Awas kamu berani sama ade kesayangan cici"

Ci Dewi melanjutkan permainannya dengan mulai menjilati kepala penisku
"Cup.. Slurp.. Cup.. Slurp" begitulah bunyi dari gesekan mulut ci Dewi dengan kepala penisku
"Gede banget ya kepalanya, panjang lagi"
"Terusin dong ci. Jangan stopp"
"Oke sayang, Cici punya kamu sekarang"
"Gimana sayang? Mulut cici enak gak sayang?"
Ci Dewi melanjutkan menjilati dan mengulum kepala penisku sementara tangannya terus mengocok batang penisku. Ini lebih nikmat daripada yang Merlin lakuin semalem.

Setelah beberapa menit, Ci Dewi menghentikan kocokannya dan mulai memasukkan penisku lebih dalam ke mulutnya
"Slurp... Slurp... Slurp.."
Ah sial. Ini benar-benar nikmat. Namun saat aku hampir mencapai klimaks. Ci Dewi berhenti mengisap penisku.
"Dre gantian, jilatin punya cici" kata ci dewi sambil berjalan ke sofa kemudian membuka kedua pahanya lebar-lebar.

Sial... padahal sedikit lagi pikirku.
"Baby.. come to me baby" kata ci dewi sambil mengelus-elus vagina nya.
Tanpa dikomando kedua kali, aku pun menghampiri ci Dewi bagaikan seorang predator yang melihat mangsanya. Kuturunkan kepalaku sampai di depan vagina nya. Benar-benar pemandangan yang indah dan pertama kali kulihat seumur hidupku.

Pertama-tama ku jilati daerah diatas klitoris nya yang tidak tertutup bulu, mungkin ci Dewi rajin mencukur bulu vaginanya. Aroma menyengat yang dikemudian hari baru aku tau adalah aroma khas vagina mulai menguasai indra penciumanku. Kumainkan lidahku di sekitar bibir kemaluan ci Dewi. Kulakukan semua seperti yang ada pada film-film porno yang pernah kutonton. Lidahku kemudian mulai menyentuh klitorisnya.
"Oooohh... iya sayang, disitu sayang. Terus disitu... ooohhh" ci Dewi mulai mendesah
"Enak ci?"
"Mmmhhh...mhhhmmm.. ouuhhhh..."
Ku jilati dan ku hisap klitoris ci Dewi. Ini membuat ci Dewi menggelinjang tak karuan serta mulai mengeluarkan kata-kata kotor.
"Ahhh.. Enak banget lidah kamu dreee"
"Terus disitu dre.. cici rela jadi lonte kamu kalo begini dreee.."
"Cici mau keluaaaarrrrrrr..."
"Ouuuuhhh.. enaakk dreeee"

Tangan ci Dewi mulai memegangi kepalaku dan menekan kepalaku sedalam-dalamnya ke selangkangannya.
Dan "Serrrr.." Cairan Vagina ci Dewi membasahi seluruh hidung dan mulutku
"Ouuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh..." desahan panjang ci Dewi mengakhiri seluruh gerakannya.
Setelah beberapa saat. Aku yang merasa jika ini akan berakhir kentang seperti semalam lagi sewaktu dioral oleh Merlin mulai memberanikan diri.
"Aku harus bisa lepas perjaka hari ini juga" kataku dengan semangat 45 dalam hati
"Ci.. gua juga mau dong ci. Bantuin gua keluar" kataku spontan sambil mendekatkan penisku ke depan mulut ci Dewi. Oh shit, sepertinya aku benar-benar mulai berani.
"Jelas dong dre.. cici kan lonte nya kamu mulai sekarang"
Ci Dewi memasukkan penisku kedalam mulutnya lagi dan sekarang hampir semuanya masuk ke dalam mulut dan rongga tenggorokannya
"Klluuukk..Kluuukk..Kluuukkk"
"Sluurrp.."
"mmmmhhhmmm"
"Gede banget sih ini, mulut cici sampai penuh" kata ci Dewi sambil terus melanjutkan oralnya pada penisku
"Memangnya punya pacar cici kecil?" sahutku
"Hmmmmm" "Slurp...."

Blowjob dari ci Dewi memang benar-benar lebih nikmat daripada Blowjob Merlin semalam, tapi sepertinya aku mulai terbiasa dan dapat mengendalikan ejakulasiku.
Terbukti sudah sepuluh menit ci Dewi mengoral penisku namun aku belum juga mencapai kenikmatan.
"Dre... Kamu mau masuk gak?"
"Masuk kamar ci? Disini aja nanggung"
"Ya enggak lah sayang, Maksud cici kontol kamu masukin ke memek cici"

Ah sial, mendengar perkataan kotor ci Dewi, aku semakin bernafsu. Aku tidak pernah membayangkan. Ci Dewi yang aku kenal selama ini, seorang Mahasiswi yang cukup aktif, disegani banyak teman dan juniornya di kampus, Sekarang sedang membuka kedua pahanya lebar-lebar di depanku dan mengemis untuk dimasukkan penisku.
"Emangnya boleh ci?"
"Ya jelas boleh lah dre, masa cici Cuma kasih liat sama kasih jilat doang"
"Udah sini masukin"
"Tapi aku belum pernah ci"
"Yaudah makanya cici mau ambil perjaka kamu sekalian"

Kuberanikan diri mendekatkan kepala penisku dengan bibir vagina ci Dewi. Hangat. Inikah sensasinya? Aku sungguh tidak sabar ingin menekan penisku ke dalam lubang vagina milik ci Dewi.
"Ehhhh... Pelan-pelan. Kamu mau buat memek cici robek?"
"Ah oke ci.."
Perlahan-lahan kutekan pinggulku semakin turun dan semakin turun. Kutatap wajah ci Dewi yang cantik ini dan matanya yang merem-melek merasakan penisku yang semakin masuk kedalam lubang kenikmatannya.
"Ahhmmmmmm.. Aauhhhhhhhhhhhh" desah ci Dewi
Sudah hampir 3/4 penisku berada di dalam lubang vagina ci Dewi, kemudian Ci Dewi dengan cepat menarik pinggulku dan memeluknya dengan erat.
"Ploookkk" Sepertinya kepala penisku menyentuh sesuatu.
Kurasakan hangat dan geli di daerah kepala penisku. Ah ini memang lebih enak daripada coli pikirku dalam hati.
"Diem dulu dre... aaaahhhhhhhh"
"Diem dulu disitu, cici pengen rasain kepala kontol kamu disitu..."
"Okey bitch. How Its feel hah? Enak?"
"Hmmmmm... " ci Dewi hanya mendesah
"Eh lonte... gua tanya enak gak? Gua cabut ya"
"Jangaaaaann... Mhhhhhmmmmm.. Enaaak sayaaangg.. mhhhmmmmm"
Setelah mendengar perkataan dan desahan ci Dewi, Aku benar-benar tidak tahan dan mulai menggoyangkan pinggulku, turun-naik-turun-naik
"plok...plokk...plok...plokkk.."
"aauuuhhhhh,, yeaaaahhh... ohhhh shiittttttt" teriak ci Dewi seolah tidak perduli dengan tetangga
"Dreeeeee... ooouuhhhh Ciii.. ci.. mau jadi lonte kamu kalau kayak gini dre...oouuuhhhh"
"Kentot cici dre.. pleaseeee"
"Cici mau.. cici mau... keee.. luuuaaaarrrrrrr"

Mendengar ucapan-ucapan ci Dewi, aku menggoyangkan pinggulku semakin menjadi-jadi. Ci Dewi sempat melemas sehingga aku mendiamkan penisku di dalam vaginanya namun aku tidak tahan dan melanjutkan goyanganku lagi...
"Ouuuuhhh yeahhh.. Ouuuuhhhh shiiittt" desah ci Dewi lagi
"Kentot cici dree... cici lonte kamu dree.."
Aku benar-benar tidak tahan lagi, sepertinya penisku akan segera meledak.
"Cici lonte banget sihhhhh.. aku mau keluar ci..."
"Di dalem aja sayangggg... kasih cici anak kamu sayaaaanggg"
"Hamilin cici dreeee... Hamilin cici pleasseeeeee"
"Ouuhhh ini enak banget..." teriak ci Dewi
Setelah beberapa menit aku sampai pada ujung kenikmatan ini..
"Gua titip anak gua ya ciiiiii"
"Iya sayaaanngggg... hamilin cici... cici lonte.... pengen dihamilin"
"Croootttt.. Croooottt.... Croootttt" Spermaku tumpah di dalam vagina ci Dewi.

Aku tidak menghitung secara pasti, tapi aku yakin lebih dari 10 kali semprotan spermaku kedalam vagina ci Dewi. Aku terkulai lemas dan menindih tubuh ci Dewi. Ku kecup bibirnya, kami bermain lidah selama beberapa menit sebelum memutuskan untuk bersih-bersih dan mandi bersama. Tentu saja aku memasukkan penisku lagi ke vagina ci Dewi saat mandi.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Gila.. Aku bermain bersama ci Dewi hampir 2 jam.
"Thank you ci Dewi" kataku mesra di telinganya
"Sama-sama sayang, kalau kamu mau lagi cici bisa dateng ke rumah kamu"
"Emangnya cici wanita panggilan apa?"
"Iya.. cici kan lonte nya kamu"

Cuppp.. sebuah ciuman mendarat lagi di bibirku sebelum kami bergegas menjemput Merlin. Akupun mulai berpikir. Kalau ci Dewi yang secantik ini saja mau aku nikmati, bisakah aku melakukan ini dengan wanita lain?


Bersambung...

Semoga cerita ini membangkitkan imajinasi liar para suhu sekalian ya.
Jangan lupa tinggalkan like dan berikan komentar jika suhu berkenan.
Saran dong hu apa yang perlu di tambah atau di perbaiki dari cerita nubi ini.
Tapi nubi tidak mau cerita yang terlalu jauh dari garis utama cerita ini.
 
Terakhir diubah:

deviil

Suka Semprot
Daftar
11 Jun 2011
Post
11
Like diterima
6
Kita lanjutkan sedikit para suhu...
Semoga Rumah kita semakin ramai, masih banyak kamar kosong.

Setelah aku mengantar Merlin ke kamarnya.
Aku pun bersiap untuk kembali ke Rumah Sakit karena sudah janji dengan mamanya Mitha.
“Aku ikut lah dre” teriak Merlin.
“Jangan lah, kalo lu ikut ntar mau bilang apa kalo di tanya kemana aja kok lama”
“Bakal ribet lin. Otak gua udah gak singkron ini buat bikin alesan. Ntar blunder” lanjutku
“Terus aku sendirian aja dirumahmu gitu?”
“Ya iyalah, lu jangan bawa cowo ya ke rumah gua. Gua tampol kepala lu”
“Pake itu? Mau dong lagi” (sambil menunjuk ke arah batangku)
“Pake ini lah” (aku kepalkan tanganku di depan nya)

Kemudian aku pergi ke kamarku di lantai 2 karena aku berinisiatif membawakan beberapa lembar selimut untuk Mitha. Aku sudah siap untuk tempur jika harus menginap.

Sebenarnya hubunganku dengan keluarga Mitha tergolong cukup dekat, bahkan sebelum Mitha dan aku sekolah di sekolah yang sama. Aku sudah mengenal orang tua Mitha waktu aku SD karena kebetulan papanya Mitha ini adalah kepala sekolah salah satu SD swasta di kotaku dan aku sering bertemu beliau saat mewakili SD ku untuk olimpiade matematika, dan ya.. pertandingan klasik antara SD ku dengan SD papanya Mitha selalu dimenangkan oleh SD ku.

Waktu menunjukkan pukul 2.30 malam saat aku akan keluar dari pagar rumahku.
Sebelum pergi, Merlin sempat mencium bibirku di depan pagar rumah.
“Udah lin, apa kata tetangga ntar kalo ketahuan” kataku
“Hehehe.. yaudah hati-hati ya beb”
“Kunci pintu, kalau ada yang bel gausah di buka. Pura-pura mati aja lu”

Akupun segera mengendarai mobilku dan dalam perjalanan aku sempatkan mampir ke sebuah minimarket 24 jam untuk membeli beberapa makanan ringan untuk berjaga-jaga dan tambahan amunisi tempur. Jarak antara rumahku yang terletak di sebuah komplek perumahan ternama di kotaku dengan Rumah Sakit terbilang jauh. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan apa yang baru saja kualami dengan Merlin dan sedikit cemas jika ada orang lain mengetahui kalau Merlin menginap di rumahku. Jujur saja selama ini aku selalu cuek jika ada teman wanita yang menginap dirumahku karena aku tidak melakukan hal-hal aneh dan reputasiku cukup baik diantara tetangga. Tapi berbeda dengan kejadian yang barusan kualami. Aku yang baru saja tamat dari bangku sekolah menengah atas ini sudah melakukan hal-hal aneh di rumahku.

Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, sampailah aku di parkiran belakang Rumah Sakit, aku langsung menuju ke kamar ICU RS ini yang ada di lantai 2 dengan membawa makanan ringanku. Sementara selimut kubiarkan ada di mobil. Siapa tau mereka sudah punya selimut. Kan boros tenaga pikirku.

Setelah menaiki anak tangga, kulihat Mitha masih duduk lemas di sebuah sofa panjang yang terletak di Loby lantai 2 RS ini. Kutanyakan kabar papanya dan aku mengetahui bahwa papanya mengalami puluhan luka tusuk disekujur tubuh dan masih dalam kondisi tidak sadar. Bahkan papanya sudah mendapatkan tranfusi darah sebanyak 3 kantong.

“Kok bisa sih mit? Gimana kejadiannya? Emang papa lu punya musuh apa?”
“Kemaren sih cek-cok sama orang tua murid B*
“Kok bisa?”
“Iya.. jadi itu anaknya mereka nilainya merah semua. Orang tuanya mau bayar (sogok) tapi emang anak itu udah berkali-kali di bantu dan anaknya gak ada perkembangan, jadi papa putusin buat pindahin anak itu ke sekolah lain (alias di keluarkan dari sekolah)”
“Terus?”
“Ya anak itu gamau sekolah lagi, orang tuanya marah dan mungkin bayar preman buat mukulin papa. Orang tuanya itu kan orang berada. Kamu juga pasti kenal lah”
“Bahaya juga ya kalau jadi orang bener, masih aja banyak musuhnya. Terus emang kenapa sih gak papa lu naikin aja itu anak. Toh satu doang gak masalah kan?”
“Kasian anaknya kata papa, ntar udah Ujian tapi gabisa hitung-hitungan, gabisa apa-apa”
“Kacau juga sih ya. Ohiya, lu gak laper? Gua bawa snack nih”
“Aku gak nafsu makan dre. Tapi thanks ya kamu udah perhatian banget”
“Lah kita kan sahabat sejak lahir” candaku
“Sahabat tapi ciuman ya”
“Sssttt, ntar kedengeran orang loh mit. Inget dinding ini mendengar”
“Terus lu ngapain di luar? Ci Dewi sama Mama mana?” lanjutku mengalihkan pembicaraan.
“Ci Dewi pulang tadi katanya mau ambil baju ganti. Besok dia ada kelas pagi. Kalo Mama ada di dalem. Dingin banget di dalem. Aku tunggu Ci Dewi balik sekalian bawa jaket”
“Oh gua bawa selimut kok, Ayo ambil buat mama lu”
“Kok pinter sih kamu”
“Kok lu baru tau sih gua pinter. Kemana aja lu?”
“Tersesat kali, ayo udah jadi ambil gak?”
“Let’s go..”

Selama perjalanan ke parkiran, aku diam saja karena pikiranku sedang lari ke rumah. Ya ke tempat Merlin. Aku terus memikirkan bagaimana mau bersikap di depan orang tua Merlin besok kalau harus anterin dia balik. Tiba-tiba Mitha mengagetkanku.
“Woi.. bengong aja kamu. Dimana parkirnya?”
“Ah dimana ya tadi, kayaknya di belakang deh. Sorry..Sorry..”
“Halah bilang aja mau modus... kamu mau bawa aku ke tempat sepi aja kan. Awas ya kamu macem-macem di tempat umum gini. Kuhajar kamu”
“Kalau gak di tempat umum berarti boleh macem-macem dong?”
(Mitha hanya diam dan langsung berjalan ke arah parkiran belakang)

Sesampainya di mobil, aku segera membuka bagasi belakang dan ku keluarkan selimut dari tasku.
“Buset.. Mau kemping bos?” ejek Mitha
“Persiapan tempur lah bego. Sedia payung sebelum hujan”
“Emang mau perang sama siapa?”
“Sama angin ini. Kencang anginnya”
“Terus kalo menang dapat apa?”
“Dapat lu kan?”
(Mitha terdiam sejenak)
Keluar deh jurus sepik maut kataku dalam hati.
** ah kamu. Ntar Merlin marah loh” lanjut Mitha
“Lah siapa dia mau marah, pacar juga udah bukan”
“Mantan kesayanganmu lah”
“Cie jangan emosi gitu dong bos”
(Dengan spontan aku merangkul kepalanya dan kudekap di dadaku)
Mitha hanya diam dan aku mulai berani menciumi rambut dan kepalanya.
“Dre.. aku sebenernya sayang sama kamu. Tapi Merlin juga sayang sama kamu waktu itu, aku gak bisa kalau harus deket sama kamu”
“Ohiya? Kalau sekarang? Kan aku udah putus lama sama Merlin”
“Gabisa”
“Kenapa? Kalau kamu ragu, kita coba jalan bareng aja dulu”
“Gabisa dre.. Merlin itu masih sayang sama kamu”
“Lu gausah alesan gitu. Kalau dia sayang gamungkin dia putusin gua”
“Kamu emang bego sih, gak sadar apa kamu di putusin gara-gara apa?”
“Gatau gua, pas gua tanya aja dia bilang PIKIR AJA SENDIRI”
“Iya karna kamu emang bego”
“Tapi nilai gua gak ada yg merah”
“Tapi kamu ini bego sampe ke tulang. Tau gak sih? Semua cewek ya pasti bakal sama lah kalau kamu pas di telpon main game, pas diajak jalan main hape, pas nonton main hape”
“Ebuset kok lu tau sih?”
“Ya kan Merlin curhat ke aku semuanya. Dari A-Z. Aku tau semuanya yang kamu dan dia lakuin. SEMUANYA”

Aku terdiam. Selama ini Mitha suka sama aku dan aku pacaran sama sahabatnya, mereka bisa dibilang sahabat sedekat nadi. Dan Merlin cerita semua ke Mitha. Aku benar-benar terdiam, membeku, rasanya tidak ada lagi darah yang mengalir ke otakku.
(Aku tersadar dari lamunan setelah Mitha mencubit perutku)
“Woi.. ayo buruan. Dingin woi”
“Ah... yuk. Sini biar gak dingin”
Kugandeng tangan Mitha dan berharap lorong ini adalah lorong tanpa ujung. Ya namun itu hanya ada dalam imajinasi liarku saja. Kamipun sampai di depan pintu kamar papanya Mitha.

Setelah membuka pintu, Hawa AC yang begitu dingin menari-nari diatas kulitku. Segera saja aku suruh Mitha masuk.
“Loh Andre kenapa balik lagi?” kata mamanya Mitha
“Gapapa tante, oh iya ini aku bawa selimut juga”
“Wah kebetulan, dingin betul AC nya ini”
“Yasudah tante, aku tunggu diluar aja ya. Aku ini berisik nanti malah ganggu si om”
“Yasudah Mit, kamu temenin si Andre ya”

(Aku dan Mitha pun kembali dan duduk di sofa Loby lantai 2 RS)
“Mit.. maafin gua ya”
“Lah kok aneh sih kamu ini. Tiba-tiba minta maaf. Sakit kamu ya” kata Mitha sambil memegang keningku.
Kuraih tangan Mitha dan kukatakan bahwa aku lagi gak bercanda. Kemudian suasana kembali membeku.
Cukup lama aku memegang erat tangan Mitha sampai terdengar suara yang tak asing lagi di telingaku.
“Ngapain kalian?”
Deerr.. Jantungku benar-benar mau copot rasanya. Kulihat Ci Dewi sudah ada di dekat kami berdua dan menangkap basah aku sedang memegang erat tangan Mitha.
“Ini tangan Mitha kedinginan ci, gua cuma pengen buktiin doang beneran dingin atau kagak”
“Hmmm” sahut Ci Dewi sembari meninggalkan kami berdua.

Mampus deh gua, bego banget sih. Ntar malah dikira modus doang lagi mau ke RS. Padahal gua emang deket aja sama keluarga Mitha, pikirku dalam hati.

“Mampus kan kamu. Sudah kubilang jangan macam-macam kalo di tempat umum” kata Mitha ketus.
“Bodo amat dah, gua tambah pusing ini”
“Eh si Merlin ngechat nih. Dia tanyain kamu loh”
“Bilang aja gua udah tidur”
“Tidur sebelah aku gitu?” sahut Mitha mulai usil.
“Iya.. sekalian bilang gak pake baju terus selimutan bareng. Kasih PAPnya sekalian kalau perlu” kataku mulai jengkel.
“Yeee... kasih PAP berarti di praktekin dong. Menang banyak kamu”
“Yaiyalah praktekin, kalau mau di edit dulu kapan balasnya. Udah bilang aja gua udah tidur”
“Udah kujawab, kubilang kamu udah pulang dre”
“Yah si bego”

Tambah lagi masalah baru, si Mitha jawab aku sudah pulang sementara Merlin ada di rumahku sekarang dan aku gak mau bilang kalau Merlin ada di rumahku tapi aku juga gak mau pulang sekarang.
“Dre.. kok Merlin tau kamu belum pulang?”
“Mana gua tau, Lu tanya ke gua terus gua tanya siapa?”
“Feeling dia bener-bener kuat ya ke lu”

Ya iyalah si bego, Merlin ada di rumah gua. Rasanya ingin ku berteriak seperti itu di telinga Mitha.
“Bilang aja gua gajadi balik Mit, takut di begal gitu”
“Oke pak bos”

Waktu menunjukkan pukul 4.00. Setelah mengobrol segala macam hal, Mitha tertidur di bahuku. Tentu saja setelah itu aku rebahkan dia di sofa panjang dan aku selimuti.
Ternyata Mitha jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat.
Akupun tidak bisa tidur karena takut ada yang isengin Mitha, aku benar-benar ada dalam masalah besar sekarang. Saat sedang asik melamun, tiba-tiba Ci Dewi kembali membuatku kaget.

“Dre..”
“Ah iya ci, sorry ci tadi beneran gak kayak gitu kejadiannya” aku mencoba mengelak sebelum kena semprot
“Bukan itu yang mau cici tanya ke kamu sekarang”
“Terus apaan dong ci?”
“Cici mau tanya kamu tadi waktu mandi di rumah cici. Kamu ngapain aja di kamar mandi?”
Mampus.. masalah baru lagi ini. Dan otakku sudah terlalu lelah untuk membuat alasan. Lagipula kalau sampai Ci Dewi tanya hal itu, berarti dia sudah tau apa yang kulakukan terhadap pakaian dalamnya di kamar mandi tadi sore.
“Ci... sorry banget ci, gua gak ada maksud kurang ajar gitu kok sebenarnya”
“Ah bener kan, kamu emang mesum ya ternyata”
Oh shit man.. Ternyata aku bisa kena jebakan batman murahan kayak gini. Malu banget rasanya.
“Cici juga sengaja kok dre mau godain kamu, habisnya kamu itu suka salting kalo di gangguin hahaha” kata Ci Dewi dengan santainya.
“Maksudnya ci?”
“Cici sengaja tinggalin pakaian dalam bekas cici pakai tadi, terus cici foto. Eh tadi pas pulang cici cek, bener aja posisinya kebalik”

Aku hanya terdiam dan menahan malu. Aku benar-benar harus hati-hati lain kali. Aku juga sudah siap kalau dipermalukan Ci Dewi dikemudian hari.
“Ohiya.. satu lagi Dre, waktu cici pulang ke rumah tadi. Cici liat kamu di depan pagar pas mau pergi kesini loh”
Sekedar info, Rumah Mitha ini kebetulan satu komplek dengan rumahku, hanya berbeda beberapa blok saja dan memang kalau dari rumah sakit ke rumah mitha akan melalui jalanan depan rumahku.
Saat di depan pagar yang mana? Sewaktu Merlin menciumku kah? Ah ini benar-benar hari yang indah sekaligus hari yang buruk buatku.
Akupun semakin menunduk dan benar-benar hancur saat itu. Seolah-olah aku ingin menghapus identitasku saat ini dan pergi sejauh-jauhnya.

“Cici liat apa emangnya?” tanyaku memastikan, tentu saja aku tak ingin terjebak dua kali.
“Cici liat mantan kesayangan kamu dong”
“Ah ci, aku bisa ceritain semuanya”
“Gausah.. cici aja yang ceritain semuanya ke orang-orang nanti”
“Jangan gitu ci, plis lah”
“Oke.. tapi ada syaratnya”
“Cici mau apa? Baju? Tas? Sepatu? Besok kita ke mall”
“Kamu pikir cici ini cewek cantik apaan dikasih barang gituan”
“Cici mau kamu temenin cici jalan nanti pagi” lanjutnya
“Kan cici ada kelas pagi” jawabku cepat
“Iya kamu tungguin cici di kampus cici”
“You’re the boss ci”

Ci Dewi kemudian mendekatiku.
“Makanya jangan nakal kalo gak siap tanggung akibatnya” bisik Ci Dewi
“Cup” Ci Dewi melanjutkan dengan ciuman di pipiku dan telunjuknya menyentil batangku, entah sengaja atau tidak. Ci Dewi pun kembali ke ruangan.

Pagi itu sekitar jam 6.00, aku dibangunkan oleh petugas kebersihan RS yang memintaku untuk tidak tidur di Loby karena tidak enak dilihat oleh pengunjung lain. Aku melihat Mitha masih tertidur dan kemudian aku membangunkan Mitha. Kami berdua segera ke ruangan dan bergantian ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menggosok gigi.
“Dre.. kok kamu gak bangunin aku sih semalem?” kata Mitha
“Kayaknya lu kecapekan semalem”
“Tapi kamu gak macem-macemin aku kan. Inget ada CCTV”
“Justru aku yang di macem-macemin”

Obrolan kami kemudian terpotong oleh Ci Dewi.
“Mit.. cici mau pergi kuliah. Ini kunci mobil kamu pegang ya”
“Lah cici naik apa?”
“Kan cici ada supir baru hari ini” kata Ci Dewi sambil memeluk perutku
“Siap bu bos” sahutku

Setengah jam kemudian, aku dan ci Dewi pun langsung berjalan ke mobil tanpa banyak berbicara. Sebisa mungkin aku menghindari percakapan dengan ci Dewi.

“Oi Dre... bawain tas cici dong. Masa cowo jalan sendiri”
“Oke ci”
....
“Oi Dre... buruan dong nyetirnya ntar cici gak sempat sarapan loh”
“Oke ci siap”

Dan begitulah jawaban ku setiap perintah yang diberikan oleh ci Dewi. Dalam hati ingin sekali ku sekap wanita yang duduk disebelahku sekarang ini, kemudian kutelanjangi dan ku foto sebelum kunikmati tubuhnya. Jika di pikir-pikir, Ci Dewi ini memiliki badan yang cukup sempurna. Ukuran dada 34B, Tinggi 165 cm dan lekuk tubuh dan wajah khas wanita Manado.

Setelah beberapa menit, kamipun sampai di Kampus ci Dewi.
“Oke ayo kita sarapan dulu, kamu yang bayar”
“Siap ci”
“Jangan jawab singkat gitu mulu, apa bibir kamu perlu di cium dulu biar bisa ngomong yang banyak”
“Iya ci, eh maksudnya jangan ci”
“Yaudah ngomong yang santai dong”
“Oke ci, lagian hari sabtu ngapain kuliah dah?”
“Iya ini kan kelas pengganti, Kemaren waktu tanggal merah kan libur, jadi kelas di ganti sabtu”
“Oh gitu. Semangat ya cici sayang”
“Hahaha.. bagus banget aktingmu”

Setelah menunggu selama 2 jam, akhirnya kelas ci Dewi selesai juga. Akhirnya satu penderitaanku akan segera berakhir.

“Dre.. sekarang kita ke rumah cici, habis itu jemput Merlin”
“Hah? Ngapain jemput Merlin ci?”
“Kamu gak mau kasih pulang anak orang? Kalo gitu cepet nikahin bego”
“Ah iya, aku sampai lupa kalau HPku ketinggalan di kamar papanya cici”
“Yaudah kerumah cici buruan. HP gak penting”
.....
“Ngapain balik ke rumah ci?”
“Jangan banyak tanya. Cepat parkir, masuk. Bantuin cici”
“Oke bentar ci”

Setelah parkir, aku bergegas masuk ke dalam rumah Mitha. Namun aku sangat kaget ketika melihat Ci Dewi melepaskan semua pakaiannya dan memberikannya ke aku. Semuanya termasuk pakaian dalamnya.
“Ini upah dari cici buat kamu. Sekarang kamu gausah sembunyi-sembunyi lagi”
Seketika penisku perlahan tapi pasti mulai mengeras, aku sudah menahan diri sebisa mungkin untuk tidak terangsang. Namu gagal.
“Maksudnya ci?”
“Iya kamu gak perlu modus pinjem kamar mandi lagi”

Ah sepertinya Ci Dewi mulai salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud modus kemaren sore, hanya kebetulan saja timingnya pas.
“Tapi ci...”
“Sssttt diem..” ci Dewi menempelkan telunjuknya ke bibirku
“Kamu liat ini.. Cici sebenernya juga sudah gak perawan lagi” kata ci Dewi sambil melebarkan bibir kemaluannya.
“Sini kamu...” Ci Dewi menarik tanganku ke dalam kamarnya di lantai 2
“Sekarang cici tau rahasia kamu dan kamu tau rahasia cici. Ini cukup kan buat jaminan?”
“Kok diem aja sih kamu dari tadi? Bisu?”

Jujur saja, selama ini aku belum pernah sekalipun melihat tubuh wanita polos seperti ini, dari atas sampai bawah. Jika hanya sebagian saja mungkin sering saat mengintip teman waktu sekolah dulu.
“Ayo buruan buka bajumu, lama-lama cici kan juga jadi malu kalau telanjang sendirian” kata Ci Dewi sambil menutupi dadanya dengan tangan
“Gua belum pernah liat cewe telanjang ci”
“Hah? Kamu yang berengsek begini belum pernah liat cewek telanjang?”
“Kalau gitu cici harus banyak ajarkan kamu dong? Padahal cici pikir kamu jago” lanjutnya
Tanpa basa-basi lagi, Ci Dewi menghampiri aku dan mulai membuka bajuku satu-persatu sampai tuntas.
“Wah. Bener-bener pemain baru, belum apa-apa udah tegang. Gede banget ya kepalanya” goda ci Dewi

Akupun langsung memeluk erat tubuh ci Dewi, dapat kurasakan dada ci Dewi yang menempel dengan tubuhku. Tanpa banyak komando, ku cium bibir ci Dewi.
“You’re a good kisser dre”

Tangan ci Dewi mulai mengelus setiap sudut tubuhku sampai dia melepaskan bibirnya dari bibirku.
“Cici kasih kamu bonus deh dre hari ini, karna cici lagi galau berat”
“Siap bu bos”

Ci Dewi mulai menurunkan badannya dan berjongkok di depan ku.
“Idih ini kegores apaan dre, kok kayak bekas gigi”
Ah sial. Bekas gigi Merlin masih meninggalkan bekas merah dan lecet-lecet pada batang penisku
“Ini bukan kerjaan si Mitha kan dre?” lanjut ci Dewi
“Bukan lah ci” sahutku agak gugup
“Awas kamu berani sama ade kesayangan cici”

Ci Dewi melanjutkan permainannya dengan mulai menjilati kepala penisku
“Cup.. Slurp.. Cup.. Slurp” begitulah bunyi dari gesekan mulut ci Dewi dengan kepala penisku
“Gede banget ya kepalanya, panjang lagi”
“Terusin dong ci. Jangan stopp”
“Oke sayang, Cici punya kamu sekarang”
“Gimana sayang? Mulut cici enak gak sayang?”
Ci Dewi melanjutkan menjilati dan mengulum kepala penisku sementara tangannya terus mengocok batang penisku. Ini lebih nikmat daripada yang Merlin lakuin semalem.

Setelah beberapa menit, Ci Dewi menghentikan kocokannya dan mulai memasukkan penisku lebih dalam ke mulutnya
“Slurp... Slurp... Slurp..”
Ah sial. Ini benar-benar nikmat. Namun saat aku hampir mencapai klimaks. Ci Dewi berhenti mengisap penisku.
“Dre gantian, jilatin punya cici” kata ci dewi sambil berjalan ke sofa kemudian membuka kedua pahanya lebar-lebar.

Sial... padahal sedikit lagi pikirku.
“Baby.. come to me baby” kata ci dewi sambil mengelus-elus vagina nya.
Tanpa dikomando kedua kali, aku pun menghampiri ci Dewi bagaikan seorang predator yang melihat mangsanya. Kuturunkan kepalaku sampai di depan vagina nya. Benar-benar pemandangan yang indah dan pertama kali kulihat seumur hidupku.

Pertama-tama ku jilati daerah diatas klitoris nya yang tidak tertutup bulu, mungkin ci Dewi rajin mencukur bulu vaginanya. Aroma menyengat yang dikemudian hari baru aku tau adalah aroma khas vagina mulai menguasai indra penciumanku. Kumainkan lidahku di sekitar bibir kemaluan ci Dewi. Kulakukan semua seperti yang ada pada film-film porno yang pernah kutonton. Lidahku kemudian mulai menyentuh klitorisnya.
“Oooohh... iya sayang, disitu sayang. Terus disitu... ooohhh” ci Dewi mulai mendesah
“Enak ci?”
“Mmmhhh...mhhhmmm.. ouuhhhh...”
Ku jilati dan ku hisap klitoris ci Dewi. Ini membuat ci Dewi menggelinjang tak karuan serta mulai mengeluarkan kata-kata kotor.
“Ahhh.. Enak banget lidah kamu dreee”
“Terus disitu dre.. cici rela jadi lonte kamu kalo begini dreee..”
“Cici mau keluaaaarrrrrrr...”
“Ouuuuhhh.. enaakk dreeee”

Tangan ci Dewi mulai memegangi kepalaku dan menekan kepalaku sedalam-dalamnya ke selangkangannya.
Dan “Serrrr..” Cairan Vagina ci Dewi membasahi seluruh hidung dan mulutku
“Ouuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh...” desahan panjang ci Dewi mengakhiri seluruh gerakannya.
Setelah beberapa saat. Aku yang merasa kentang jika ini berakhir seperti semalam lagi waktu dengan Merlin mulai memberanikan diri.
“Ci.. gua juga mau dong ci. Bantuin gua keluar” kataku spontan sambil mendekatkan penisku ke depan mulut ci Dewi. Oh shit, sepertinya aku benar-benar mulai berani.
“Jelas dong dre.. cici kan lonte nya kamu mulai sekarang”
Ci Dewi memasukkan penisku kedalam mulutnya lagi dan sekarang hampir semuanya masuk ke dalam mulut dan rongga tenggorokannya
“Klluuukk..Kluuukk..Kluuukkk”
“Sluurrp..”
“mmmmhhhmmm”
“Gede banget sih ini, mulut cici sampai penuh” kata ci Dewi sambil terus melanjutkan oralnya pada penisku
“Memangnya punya pacar cici kecil?” sahutku
“Hmmmmm” “Slurp....”

Blowjob dari ci Dewi memang benar-benar lebih nikmat daripada Blowjob Merlin semalam, tapi sepertinya aku mulai terbiasa dan dapat mengendalikan ejakulasiku.
Terbukti sudah sepuluh menit ci Dewi mengoral penisku namun aku belum juga mencapai kenikmatan.
“Dre... Kamu mau masuk gak?”
“Masuk kamar ci? Disini aja nanggung”
“Ya enggak lah sayang, Maksud cici kontol kamu masukin ke memek cici”

Ah sial, mendengar perkataan kotor ci Dewi, aku semakin bernafsu. Aku tidak pernah membayangkan. Ci Dewi yang aku kenal selama ini, seorang Mahasiswi yang cukup aktif, disegani banyak teman dan juniornya di kampus, Sekarang sedang membuka kedua pahanya lebar-lebar di depanku dan mengemis untuk dimasukkan penisku.
“Emangnya boleh ci?”
“Ya jelas boleh lah dre, masa cici Cuma kasih liat sama kasih jilat doang”
“Udah sini masukin”
“Tapi aku belum pernah ci”
“Yaudah makanya cici mau ambil perjaka kamu sekalian”

Kuberanikan diri mendekatkan kepala penisku dengan bibir vagina ci Dewi. Hangat. Inikah sensasinya? Aku sungguh tidak sabar ingin menekan penisku ke dalam lubang vagina milik ci Dewi.
“Ehhhh... Pelan-pelan. Kamu mau buat memek cici robek?”
“Ah oke ci..”
Perlahan-lahan kutekan pinggulku semakin turun dan semakin turun. Kutatap wajah ci Dewi yang cantik ini dan matanya yang merem-melek merasakan penisku yang semakin masuk kedalam lubang kenikmatannya.
“Ahhmmmmmm.. Aauhhhhhhhhhhhh” desah ci Dewi
Sudah hampir 3/4 penisku berada di dalam lubang vagina ci Dewi, kemudian Ci Dewi dengan cepat menarik pinggulku dan memeluknya dengan erat.
“Ploookkk” Sepertinya kepala penisku menyentuh sesuatu.
Kurasakan hangat dan geli di daerah kepala penisku. Ah ini memang lebih enak daripada coli pikirku dalam hati.
“Diem dulu dre... aaaahhhhhhhh”
“Diem dulu disitu, cici pengen rasain kepala kontol kamu disitu...”
“Okey bitch. How Its feel hah? Enak?”
“Hmmmmm... “ ci Dewi hanya mendesah
“Eh lonte... gua tanya enak gak? Gua cabut ya”
“Jangaaaaann... Mhhhhhmmmmm.. Enaaak sayaaangg.. mhhhmmmmm”
Setelah mendengar perkataan dan desahan ci Dewi, Aku benar-benar tidak tahan dan mulai menggoyangkan pinggulku, turun-naik-turun-naik
“plok...plokk...plok...plokkk..”
“aauuuhhhhh,, yeaaaahhh... ohhhh shiittttttt” teriak ci Dewi seolah tidak perduli dengan tetangga
“Dreeeeee... ooouuhhhh Ciii.. ci.. mau jadi lonte kamu kalau kayak gini dre...oouuuhhhh”
“Kentot cici dre.. pleaseeee”
“Cici mau.. cici mau... keee.. luuuaaaarrrrrrr”

Mendengar ucapan-ucapan ci Dewi, aku menggoyangkan pinggulku semakin menjadi-jadi. Ci Dewi sempat melemas sehingga aku mendiamkan penisku di dalam vaginanya namun aku tidak tahan dan melanjutkan goyanganku lagi...
“Ouuuuhhh yeahhh.. Ouuuuhhhh shiiittt” desah ci Dewi lagi
“Kentot cici dree... cici lonte kamu dree..”
Aku benar-benar tidak tahan lagi, sepertinya penisku akan segera meledak.
“Cici lonte banget sihhhhh.. aku mau keluar ci...”
“Di dalem aja sayangggg... kasih cici anak kamu sayaaaanggg”
“Hamilin cici dreeee... Hamilin cici pleasseeeeee”
“Ouuhhh ini enak banget...” teriak ci Dewi
Setelah beberapa menit aku sampai pada ujung kenikmatan ini..
“Gua titip anak gua ya ciiiiii”
“Iya sayaaanngggg... hamilin cici... cici lonte.... pengen dihamilin”
“Croootttt.. Croooottt.... Croootttt” Spermaku tumpah di dalam vagina ci Dewi.

Aku tidak menghitung secara pasti, tapi aku yakin lebih dari 10 kali semprotan spermaku kedalam vagina ci Dewi. Aku terkulai lemas dan menindih tubuh ci Dewi. Ku kecup bibirnya, kami bermain lidah selama beberapa menit sebelum memutuskan untuk bersih-bersih dan mandi bersama. Tentu saja aku memasukkan penisku lagi ke vagina ci Dewi saat mandi.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Gila.. Aku bermain bersama ci Dewi hampir 2 jam.
“Thank you ci Dewi” kataku mesra di telinganya
“Sama-sama sayang, kalau kamu mau lagi cici bisa dateng ke rumah kamu”
“Emangnya cici wanita panggilan apa?”
“Iya.. cici kan lonte nya kamu”

Cuppp.. sebuah ciuman mendarat lagi di bibirku sebelum kami bergegas menjemput Merlin. Akupun mulai berpikir. Kalau ci Dewi yang secantik ini saja mau aku nikmati, bisakah aku melakukan ini dengan wanita lain?


Bersambung...

Semoga membangkitkan imajinasi liar para suhu sekalian ya.
Saran dong hu apa yang perlu di tambah atau di perbaiki dari cerita nubi ini. tapi nubi gak mau cerita yang terlalu jauh dari garis khayal
Wuiii mantap huu.
Kasi mulustrasi aja kali hu biar tambah liar imajinya wkwkwk
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys   Asia 303
Domino168 - Agen Bola   Bandar 808 online
Jaya Gaming online
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C

Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Current URL :