King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Slutty Wife

hadrianus77

Calon Suhu Semprot
UG-FR
Daftar
20 Mar 2011
Post
2.568
Like diterima
2.571
Lokasi
jakarta
wah binalnya si tante
kok jadi lonte sih
kl lonte kan dibayar, ini kan gak
hehehehehe
 
Indosniper

ryu1997

Semprot Holic
Daftar
23 Jun 2016
Post
388
Like diterima
155
Mantap huu updatenyaa, saran huu tantenya di bkin yg bersih hu mainya sma yg kotor2 biar makin seru
 

lazywriter

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
3 Jun 2020
Post
150
Like diterima
1.029
kisah ini bercerita tentang seorang wanita bersuami yang terpaksa mencari lelaki lain karena suaminya sudah tak mampu memberikannya kenikmantan. Berawal dari keisengan hingga akhirnya ia ingin merasakan kenikmatan yang lebih dari tiap lelaki yang ditemuinya.

kisah ini akan rutin kami update hingga chapter akhir. karya ini adalah karya perdana kami. kami menerima saran dan masukan dari suhu-suhu sekalian hehe. semoga next time kami bisa membuat cerita yang lebih bagus lagi. thank you and we hope you enjoy it.

chapter 1 (awal mula keliaranku)
chapter 2 (bermain kotor)
chapter 3 (gairah kawula muda)
chapter 4 (sang penggoda)
chapter 5 (budak sex tetanggaku)

Chapter 4 (sang penggoda)
Pagi ini seperti sebelumnya, tiap Minggu pagi aku selalu pergi ke tukang sayur langganan. Selain untuk berbelanja, tentu saja untuk berbincang dengan ibu-ibu komplekku. Seperti biasa juga, bahasan ibu-ibu ini selalu saja soal urusan ranjang. Dulu, aku selalu merasa iri dengan mereka. Tapi sekarang rasanya aku lebih beruntung, bisa merasakan kenikmatan dari banyak lelaki. Bahkan mungkin, suatu saat nanti aku juga akan mendapat kenikmatan dari suami-suami mereka.

“Eh, eh, bu Dewi gimana kondisi suami ibu? Masih sakit, ya, Bu?” bu Ratna menyadarkanku dari lamunan.

“Eh, iya gitu deh, Bu.”

“Ibu yang sabar, ya. Ibu pasti tidak pernah mendapat kenikmatan itu lagi, ya. Semoga suami ibu lekas pulih ya. Jadi Ibu bisa merasakan kenikmatan bercinta lagi.”

“Iya, Bu. Makasih.” Aku hanya tersenyum kecut menanggapi omongan bu Ratna.

Sebenarnya, sejak aku mengenal Doni dan teman-temannya, aku sudah tidak lagi merasa kesepian. Mereka selalu memberikan jatah padaku. Tiap hari mereka selalu mampir ke rumah untuk memberikanku kepuasan. Tapi entah kenapa, aku selalu merasa kurang puas. Aku selalu ingin mendapatkan kenikmatan dari lelaki-lelaki lain, terutama suami-suami tetanggaku. Bukan salahku jika aku memfantasikan suami-suami mreka, toh, itu juga karna cerita-cerita mereka sendiri.

“Pagi, ibu-ibu.” Sapa pak Ramlan yang tiba-tiba datang dari arah jalan raya.

“Pagi, Pak. Habis dari mana, nih?” balas bu RT.

“Habis beli makanan buat si Jali, Bu.”

“Pak, ayo, pulang.” Ujar Bu Ratna mengagetkan Pak Ramlan yang tengah memperhatikanku.

“Eh, iya, ayo, Bu. Mari Bu Dewi, ibu-ibu, kami pulang dulu.”

Aku hanya membalas dengan senyuman. “Dasar lelaki, ada istrinya juga masih aja genit.” Entah apa yang terbersit dipikiranku, tiba-tiba aku ingin mencoba batang Pak Ramlan, apakah memang seenak yang selama ini dibicarakan oleh istrinya.

Waktu seharian ini aku habiskan untuk memasak dan beberes rumah. Sementara Minggu sore, selalu ada kesibukan lain yang menunggu. Entah acara di RT tempat tinggalku atau menghabiskan waktu dengan anakku. Seperti sore ini, akan ada acara arisan rutin di rumah Bu RT. Aku sudah mempersiapkan rencana untuk sore ini. Hari Minggu ini, aku akan kembali mendapat jatah kenikmatan dari tetanggaku sendiri.

Waktu menunjukkan pukul 14.30 ketika aku selesai mematut diri di depan cermin. Hari ini seperti biasa, aku memakai seragam arisan RT yang berupa terusan warna hitam. Sengaja didalamnya aku sudah tidak menggunakan bh dan cd untuk memuluskan rencanaku. Jilbab hijau yang aku kenakan juga aku lilitkan ke belakang sehingga jika orang jeli, maka akan terlihat kalau aku tidak menggunakan bra.

“Rini, mama berangkat dulu ya. Makanan buat makan malam sudah mama siapkan di meja.”

“Iya, Ma.” Sahut Rini dari kamarnya.

Selama arisan, pikiranku melayang kemana-mana. Membayangkan bagaimana rasanya batang tetanggaku sendiri.

“Bu Dewi, Ibu ngga pakai bh ya?” bisik Bu Ratna membuyarkan lamunanku.

“Eh, iya, Bu. Keliatan ya? Kemarin-kemarin saking sibuknya, saya lupa nyuci, Bu. Jadi kehabisan deh.”

“Ooohh. Tapi gak papa, Bu. Ibu jadi keliatan seksi.”

“Ah, bu Ratna bisa aja.”

Tampak bu ratna sedikit bingung dengan bentuk putingku yang kupasang tindik, tapi dia tidak menanyakannya.

“Sekarang kita kocok, ya, Ibu-ibu buat menentukan siapa yang dapat.” Suara bu RT otomatis menghentikan perbincangan bisik-bisik kami.

“Yang keluar adalah nama... Bu Ratna. Berarti arisan minggu depan akan diadakan dirumah Bu Ratna ya.”

“Wah, selamat, ya, Bu.”

“Makasih, Bu Dewi. Besok bantu-bantu saya ya, Bu.”

“Siap Bu Ratna.” Ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan waktu pukul 16.00.

“Eh, Ibu-ibu. Mohon maaf sebelumnya, saya pamit pulang dulu. Tadi lupa belum nyiapin makan buat Rini sama Mas Wandi.”

“Yah, sayang sekali Bu Dewi. Padahal hari ini bu Ratna punya banyak cerita loh. Ya, kan, Bu Ratna?” sahut bu RT yang selanjutnya di iyakan oleh bu Ratna.

“Yah, Bu, tapi maaf sekali. Saya lupa tadi belum nyiapkan makan. Kasihan anak sama suami saya kalo sampe kelaparan. Saya pamit dulu, ya, Bu.”

“Yaudah deh, Bu. Mau gimana lagi. Hati-hati ya.”

Sepanjang jalan aku merasa gugup. Bayangan kenikmatan yang akan aku dapatkan membuat memekku terasa basah. Sesampai dirumah Pak Ramlan, aku membunyikan bel. Tak lama, sang pemilik rumah keluar.

“Eh, Bu Dewi. Tumben, Bu? Masuk masuk, silahkan.” ujar Pak Ramlan gugup sambil membukakan pintu.

“Iya, Pak. Tadi saya dari arisan mau pulang terus keinget, ada yang mau saya tanyakan, soal Jali.”

“Eh? Jali? Burung Beo saya? Kenapa memangnya, Bu?”

“Ehm, ini, Pak, saya mau tanya, bagaimana sih cara merawat burung dengan baik?” ujarku dengan penuh penekanan saat mengatakan ‘burung’.

“Eh? Soal merawat burung ya, Bu. Gampang kok, Bu, tinggal di mandiin sm dikasih makan aja rutin.” Jawab Pak Ramlan gugup sambil sesekali mencuri pandang ke arah toketku.

“Masak cuma itu, Pak? Burung dirumah saya sudah saya kasih makan, sudah saya mandikan juga, malah dua kali sehari loh, Pak. Tapi kenapa masih belum bisa muaskan saya ya, Pak?” tanyaku memancing Pak Ramlan kembali, sambil ku dekatkan tubuhku sehingga Pak Ramlan bisa mencium aroma tubuhku.

“Kalo seperti itu sih, kayaknya emang burungnya aja yang lemah, Bu.” ujar Pak Ramlan sambil sekarang terang-terangan memandang toketku dengan wajah mesum.

“Yaah, gimana ya, Pak biar burung saya kuat lagi dan bisa memuaskan saya?” ujarku pura-pura kecewa sambil menyandarkan badan ke kursi sehingga toketku terlihat makin membusung.

“Kalau itu sih, kayaknya ngga bisa, Bu. Biarkan burung saya aja yang memuaskan Ibu.” Pak Ramlan sudah menuntun tanganku menuju kontolnya.

“Baiklah. Kalo bapak maunya begitu.” Aku langsung meremas-remas kontol milik Pak Ramlan, sementara tangan Pak Ramlan sudah meremas-remas toketku. Kami mulai berciuman, lidah kami saling bertukar hingga air ludah kami bercampur satu sama lain.

Tiba-tiba pak Ramlan menghentikan gerakannya dan melepas ciumannya. “Eh, Bu, istri saya masih di rumah bu RT?”

“Hehe. Iya, Pak. Bapak santai aja, paling Bu Ratna balik sehabis Maghrib kayak biasanya. Biasalah, ngerumpi dulu.” Aku sudah mulai membuka resleting celana Pak Ramlan. Aku kocok perlahan. “Kalo gitu, kita main cepet aja, Bu.” Aku kemudian berlutut didepan kontolnya dan kumasukkan kontol besarnya itu ke mulutku.

“Ehhmm. Sssshhh.... Bu...” aku melancarkan aksiku mengulum kontol besar Pak Ramlan meski tidak bisa semuanya masuk.

“Ahhh... Enak, Bu. Shhh... Ahhh.. Emut aahh kontolku... Ahhh..” Pak Ramlan menjambak rambutku dan memaju mundurkan kepalaku.

“Bu, stop, Bu. Saya nggak mau keluar di mulut Ibu. Sekarang Ibu berdiri dan lepas semua pakaian Ibu.” Aku yang sudah dikuasai nafsu segera melepas semua pakaianku. “Jilbabnya ngga usah, Bu. Ibu lebih seksi kayak gitu.”

“Masukkan burungku ke sarangnya sekarang, Bu.” Aku pun segera duduk diatas batang pak Ramlan dan memposisikan kontolnya untuk masuk dalam memekku.

Bless. “Ahhh..” aku merasakan sesak saat kontol itu menerobos memekku. Tanpa memberikan jeda waktu, Pak Ramlan menggoyangkan pantatnya. “ehhm, Bu. Memekmu enak sekali.” Sementara memekku mulai bereaksi dan menimbulkan rasa nikmat.

“Ahhh, iya, Pak. Ehmm, kontolin saya, Pak. Ssshhh...” Aku juga berusaha menggoyakan pinggulku untuk merasakan kenikmatan.

“Ahhh... Ssshhh... Phaakk...” Aku mendesis semakin nikmat ketika tiba-tiba Pak Ramlan menjilat puting susuku. “Ahh, Pak, iyaa, putingku. Aaaaahh...” Aku semakin berteriak tidak karuan saat jilatan Pak Ramlan berubah menjadi gigitan.

Tanpa melepas kontolnya, Pak Ramlah merubah posisi sehingga sekarang aku dibawah dan dia di atas. “Ahhh.. ahh. Gila. Selain toketmu yang gede, memekmu juga peret, Bu.” Di posisi ini pak Ramlan justru makin bersemangat menggerakkan kontolnya.

“Aaahh.. Iya, Pak. Ahh, kontolmu... gede. Ahhh... Kayak yang dibilang Bu Ratna. Ahhh...” Pak Ramlan terus mengocok kontolnya didalam memekku. Membuat gerakan berputar yang membuat aku makin berteriak kencang.

“Aahhh, Pak, saya mau keluar, Pak... Aaaaahhh, Pak. Saya... Keluar, Paakk..” Tubuhku mengejang merasakan kenikmatan sementara Pak Ramlan masih belum menampakkan tanda-tanda akan keluar.

“Ah, sialan kamu, Bu. Sini nungging.” Aku yang masih lemas hanya menurut ketika tubuhku dibalik oleh Pak Ramlan.

“Ahhh... Ahhh... Bhangsat. Mmemekmu makin ngempot, Bu kalo nungging gini.”

“Ahhhh... Hhmmm.. Iya, Pak. Enhaakk.” Aku merasakan birahiku kembali naik diposisi ini. Terlebih saat Pak Ramlan meremas kedua toketku dengan kasar.

“Ahhhh, Pakk, Ahhh iya, enak. Hisap terus aahhh...” Aku makin tidak karuan ketika Pak Ramlan menghisap toketku melalui celah ketiak.

“Ehhmmm... Pak, Ahhh... Saya mau keluar.”

“Tahan, Bu. Sebentar lagi saya juga keluar.” Aku merasakan kocokan pak Ramlan makin cepat.

“Aaaahhhh.. Pakk... Saya keluar lagi.” Pak Ramlan segera menangkap tbuhku sebelum jatuh tersungkur. “Ah, bangsat kamu, Bu. Saya belum puas, kamu udah keluar dua kali. Dasar, Lonte.” Tanpa memberi ampun, Pak Ramlan makin mempercepat kocokannya.

“Aaahhh.. Ahhh.. Memek lonte emang enak. Ahhh.. HHmmm... Dasar Dewi Lonte... Aku keluaaarr...” Memekku terasa semakin basah oleh semprotan sperma Pak Ramlan. Tubuh kami kemudian terjatuh ke lantai dengan tubuh Pak Ramlan masih menindihku.

Kami baru berkemas saat kumandang Adzan sudah terdengar. Aku segera memakai pakaianku. “Putingmu seksi, Bu. Kenapa di tindik begitu? Apa nggak sakit?” tanya Pak Ramlan sambil memperhatikanku memakai baju kembali.

“Sakit sih, Pak. Tapi nggak papa. Biar seksi. Hehe.” Entah apa yang aku pikirkan sehingga aku berani menjawab seperti itu.

“Dasar kamu, Bu. Memang lonte. Tau gitu, sudah saya pake kamu dari dulu.”

“Ya kan sekarang Bapak udah pake saya. Hehe.” Ujarku cengengesan. “Saya pulang dulu, ya, Pak. Keburu Bu Ratna dateng nih.”

“Iya. Hati-hati, Bu. Kapan-kapan saya boleh minta jatah lagi, ya.” katanya sambil meremas toketku sekali lagi.

Ketika di jalan, aku berpapasan dengan Bu Ratna yang baru saja pulang.

“Dari mana, Bu Dewi?”

“Eh, Bu Ratna. Ini, Bu, saya habis nikmatin burung.”

“Oohh. Habis beli lauk diwarung depan ya, Bu?”

“Iya, Bu.” dalam hati aku tertawa puas. Salah siapa selama ini menceritakan burung suaminya ke aku. “Mari, Bu, saya pulang dulu.”

“Iya, silahkan, Bu Dewi.”

Malam ini, tidak seperti Minggu malam biasanya yang aku tutup dengan masturbasi. Malam ini, aku akan tidur lelap dengan perasaan puas karena mendapat kenikmatan dari tetanggaku sendiri.

Keesokannya aku bersiap membantu bu ratna untuk mempersiapkan arisan dirumahnya. Tepat pukul 11 aku mendapat pesan WA tanpa nama, saat kubaca ternyata nomor itu milik pak Ramlan. Dalam pesannya pak Ramlan mengajak ku untuk keluar jalan2 nanti jam 3, aku mengiyakan ajakan itu. Setelah itu aku mangabari bu ratna kalau aku tidak bisa membantunya nanti dengan alasan acara keluarga. Aku pun meneruskan pekerjaan ku dan segera menyelesaikannya agar bisa pulang jam 3.

Setelah beres dengan pekerjaan rumah dan mengurus suamiku yang lumpuh, akhirnya aku bersiap untuk pergi dengan pak ramlan. Aku sengaja hanya memakai gamis tanpa mengenakan dalaman apapun.

"Nak nanti mama mau pergi ke temen mama, kamu jaga rumah sama papa yaa. Palingan nanti jam 8 malem mama udah balik" kataku berpamitan ke anakku.

"Iya maa nanti putri juga kerumah mau belajar kelompok kok, ati2 ya maa" kata anakku.

Setelah berpamitan, pak ramlan ternyata sudah menunggu ku di depan rumah, aku pun masuk ke mobilnya.

"Halo lonte ku haha nyeplak amat tuh puting" pak ramlan meremas toketku dan mencubit pelan putingku.

"Ih apaan sih bapak...udah main remes aja nih, mau kemana sih kita" tanya ku ketus.

"Udahh kamu nurut ajaaa".

Diperjalanan pak ramlan menaikan gamisku sampai memek ku terlihat, dia juga mengelus2 jembut lebat ku ketika menyetir mobilnya. Tak lama kami sampai di perumahan yang masih dalam tahap pembangunan, disana hanya ada beberapa rumah dan hanya 3 rumah yanh sudah berpenghuni.

"Nah udah sampe nih dek dewi sekarang lepas gamisnya, mas ramlan mau kamu sebagai lonte, exhib disini hahaha" kata pak ramlan.

"Ih apaan sih pak masa disini, kalo keliatan orang gimanaaa?" Kataku sebal.

"Gaakan adaaa bu, saya juga menemani kamu kok, lagian ini jauh dari komplek gabakal ada orang yang mengenalimu haha" kata pak ramlan sambil membantuku melepaskan gamisku.

Setelah aku bugil, pak ramlan membuka kan pintu mobilnya. Angin semilir yang menyentuh tubuh bugil ku membuatku semakin terangsang. Kami berjalan mengitari perumahan yang sangat sepi ini, aku tidak percaya tubuh bugil ku terekspos di luar seperti ini. Kami pun duduk di bangku untuk beristirahat. Tiba2 ada anak kecil berumur sekitar 6 tahun bersepeda dan berhenti didepan kami. Saat itu aku sangat malu, dia bingung melihatku bugil.

"Loh om tante, kok tante ga pake baju? Ga malu emang?" Kata anak itu polos.

"Ehmm anu dekk...emmm..." jawabku kebingungan.

"Ini dek tante nya kepanasan makanya lepas baju gini, nama mu sapa?" Sambung pak ramlan.

"Sarah om, oh kepanasan, itu kok tante banyak bulunya, keteknya juga, punya sarah gaada" dia kebingungan melihat jembut dan bulu ketek ku.

"Hahahaha iya dek tante nih jorok gamau dicukur, bilangin gih suruh cukur" goda pak ramlan menertawaiku yang sedang malu.

"Tante harus mau dicukur daripada ada kutunya loh" kata anak itu.

"Ii...iyyaa dek, udah ah sana nanti kamu dimarahin ayah loh" kataku mengusir anak itu.

Anak itu pun melanjutkan bersepeda meninggalkan aku dan pak ramlan.

"Ih udah ah mas malu tau diliatin anak kecil" kataku sambil mencubit perut pak ramlan.

"Aw aw..awhhh iyaa dek udah ih sakitt, iya2 ayo ke mobil" kami pun kembali ke mobil, di depan mobil tiba2 pak ramlan langsung mengecup bibir ku dan meremas toketku.

"Nghhh..mhhmmm mas jaangann disiniii.." pak ramlan melepas celana nya dan langsung masuk ke mobil. Di mobil kami bercumbu dan saling bertukar ludah, toketku juga terus diremas pak ramlan, sesekali dia memilin puting ku dan mengecupnya. Aku pun di posisikan dipangku oleh pak ramlan.

"Nghh bu dewi sexy banget mpshhh muachhh aku sange banget liat bu dewi tadi hahaha dasar lonte exhib" pak ramlan memposisikan kontolnya dan menggesek2nya di memek ku.

"Mpshhh mhmmmm masukin massss aku istri lontemu mass masukin sekarangggg nghhh" dengan dorongan kuat blesss kontol pak ramlan masuk semua. Kudiamkan sebentar dan kami kembali berciuman layaknya suami istri.

"Ayo dek goyangin nghh". Aku pun mulai menggenjot kontol pak ramlan.

"Mpshhmm aghh anjinh mentok banget masss enak banget kontolmu mass". Desahku.

"Dasar lonte *plak* empot banget memek mu dek dasar lonte exhib" pak ramlan menghisap putingku seperti bayi. Aku pun dengan semangat menggenjot kontol pak ramlan dengan semangat. Kami ngentot selama hampir 1 jam di mobil, tak lama kurasakan kontol pak ramlan semakin keras.

"Dek aku mau keluar nghhh" kata pak ramlan.

"Sama mass nghh mpshh mhmm ayo keluar bareng ajaa mass".

Tak lama kami mendesah keras dan kurasakan cairan panas meledak di rahimku *crot crot crot* pak ramlan keluar banyak sekali dalam rahimku. Aku pun hanya terkulai lemas dan kami pun membiarkan posisi ini selama beberapa menit, saat dipangkuan pak ramlan kami pun mengobrol ringan. Setelah 15 menit pak ramlan mencabut kontolnya dan kami pun berbenah. Kami meninggalkan tempat itu pukul set 7 sore dan memutuskan untuk membeli makanan sebelum akhirnya kami pulang.
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR