9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG JALAK v2 PEJANTAN TANGGUH

killertomato

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
5 Dec 2017
Post
478
Like diterima
18.194
KATA BERMULA

Setelah ibundanya meninggal karena sakit, Jalak Harnanto (Nanto) yang sudah yatim piatu tinggal di desa dengan Kakek-nya. Beberapa tahun tinggal di desa, sang kakek akhirnya juga wafat. Nanto pun kembali ke kota untuk melanjutkan hidup dengan bekerja dan kuliah melalui dukungan kawan-kawan dan keluarganya yang tersisa. Semua demi masa depan yang lebih baik.

Tapi hidup si bengal tidak semudah yang ia bayangkan. Kerasnya hidup di kota, rangkaian pertarungan jalanan, tantangan pertempuran tangan kosong yang entah kenapa selalu menghampiri, manis pahit kehidupan yang naik turun seperti roller-coaster, dan lingkaran wanita yang menyambanginya silih berganti menjadi takdir hidup yang harus ia jalani.

Nanto sadar betul, hitam tak selamanya hitam seperti putih tak selamanya putih.

Inilah kelanjutan kisah perjalanan Nanto si Bengal. Untuk kisah perjalanan sebelumnya dapat dibaca pada serial JALAK.

Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter, tempat, dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh, lokasi, dan kejadian nyata. Kemiripan akan penamaan, perilaku, penggambaran ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan belaka. Saya tidak menganjurkan dan atau mendukung seandainya terdapat aktivitas negatif seperti yang mungkin diceritakan.

Mohon maaf sebelumnya jika cerita ini juga akan sangat minim adegan SS (sex scene) dan mungkin lebih banyak menitikberatkan pada adegan pertarungan. Jika anda mencari rentetan adegan SS dan proses binal-binalan dari awal sampai akhir maka ini bukan cerita yang tepat. Read at your own risk.

Mudah-mudahan berkenan.
Selamat menikmati, sobat ambyar.


Sebelum membaca cerita ini ada baiknya anda membaca terlebih dahulu: JALAK v1



KATA BERMULA
PROLOG - SEBUAH KISAH KLASIK

BAGIAN 1 DAN
BAGIAN 2 YANG TERLEWATKAN
BAGIAN 3 SEBERAPA PANTAS
BAGIAN 4 PAGI YANG MENAKJUBKAN
BAGIAN 5-A LIHAT DENGAR RASAKAN
BAGIAN 5-B LIHAT DENGAR RASAKAN
BAGIAN 6 TERLALU SINGKAT
BAGIAN 7 TUNJUKKAN PADAKU
BAGIAN 8 UNTUK PEREMPUAN
BAGIAN 9 BERTAHAN DI SANA
BAGIAN 10 HUJAN TURUN
BAGIAN 11 ITU AKU

KONTEN BONUS
Struktur keanggotaan kelompok di akhir Jalak v1. Akan di-update sesuai jalan cerita.
Silahkan di-klik untuk memperbesar.


 
Terakhir diubah:

killertomato

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
5 Dec 2017
Post
478
Like diterima
18.194
PROLOG
SEBUAH KISAH KLASIK




Bahkan malam tergelap sekalipun akan berakhir dan sang surya akan kembali bersinar.
- Victor Hugo




Hujan turun seperti tiada henti, seakan sejenak menghentikan rotasi bumi yang melaju cepat meski terasa lambat, kencang meski terasa penat, tak pernah menantikan siapapun, dan memang tak berniat untuk menunggu apalagi rehat hanya demi para penghuninya yang tak kenal terima kasih. Basuhan air yang turun dari angkasa mencuci bersih sudut-sudut kotor dan debu yang kian tebal di dinding bangunan, di tepian jalanan, di atap yang berderak, dan di jendela anak-anak manusia, yang hanya bisa menyaksikan dari balik dinding tebal pelindung. Hujan membersihkan bumi bagai membasuhnya dari segala kotoran untuk mengembalikannya pada kesucian. Seperti pekatnya malam, yang kembali dibersihkan oleh sinar mentari pagi.

Tapi hari sudah beranjak siang, meski angkasa dipenuhi awan berarak bak ratusan domba bergerombol, berkumpul, berlarian, berjalan menuju kandang. Gumpalan awan keriting yang gelap dan berkerumun, menandakan hujan masih akan bertahan beberapa saat lamanya.

Jalak Harnanto mengelap peluh yang menuruni dahinya dengan tissue. Ia berulangkali mengulang kesalahan saat bekerja. Entah itu karena takaran kopi yang salah, entah itu gara-gara airnya yang kebanyakan di mesin espresso, atau gara-gara menumpahkan latte saat sudah hampir sampai ke meja pelanggan. Belum lagi ia harus berulang kali mengepel lantai karena banyaknya pelanggan yang tidak menggesek kaki sebelum masuk ke dalam cafe, becek di luar membuat becek di dalam.

Lelah sekali hari ini.

Lelah sekali pikirannya.

Beristirahat sejenak, Nanto duduk di atas box kayu di dekat pintu dapur yang dibuka lebar. Meski sedang hujan, pintu itu sengaja dibuka agar dingin udara yang dibawa hujan membawa angin yang menyegarkan dapur yang panas. Si bengal berulangkali membuka dan melihat ponselnya, tapi tak ada perubahan sejak pagi.

Ia mendesah kecewa.

“Napa mukanya gitu amat?” tanya Lady yang menjadi partner si bengal hari ini. Lady itu bukan gelar gaes, tapi memang namanya Lady – gadis yang meskipun statusnya magang, tapi justru lebih punya banyak pengalaman bekerja di cafe daripada Nanto.

Lady punya tubuh yang semampai yang cocok untuk mengenakan seragam cafe yang sedikit ketat di daerah dada dan pantat. Dengan rambut sebahu, wajah manis menarik hati dan dada yang cukup sentosa, Lady lumayan jadi magnet mahasiswa-mahasiswa gatel yang pengen liat waitress dengan modal wongso subaliwonge ra sepiro’o, susune sak bal voli. Kebetulan juga Lady ini ternyata temen kampus seangkatan dengan Nanto.

“Hari ini kayaknya lagi ga pas mood-nya ya?” ujar Lady sambil menghangatkan makanan di dalam microwave dapur karena yang ada di counter depan sedang digunakan.

“Iya nih, Dy. Lagi ga semangat.”

“Makanya minum teh Jasmine. Di cafe kan ada.”

“Emang ngefek?”

“Nggak juga, tapi lumayan nglarisin cafe.”

“Yee.”

Lady tertawa terbahak. Suara cewek ini membahana, dasar orangnya memang cewawakan dan sedikit tomboy. “Cowok kalo wajahnya kayak curut gitu cuma ada satu sumber masalah. Ga perlu main tebak-tebakan juga sudah tahu. Masalah cewek mesti.”

Nanto tersenyum kecut. Mungkin memang benar kalau saat ini dia mirip curut, rasanya lemes banget sedari pagi sudah kena masalah. Dia hanya mengangkat bahu dan memandang ke luar dengan wajah ga jelas.

“Halah, ya udah to, To. Masih banyak ikan di laut, masih banyak sumur di ladang, masih banyak kepiting di tambak udang.” Lady meracau. “Kalau ditolak cintanya cari yang lain masih banyak. Jadi cowok itu harus jadi pejantan tangguh. Mati satu tumbuh seribu. Cowokku aja nyantai aku putus, besoknya jadian lagi, udah beberapa kali kita begitu. Hahaha, ga jelas ya kita pacarannya.”

“Aku benernya sudah punya pacar kok, Dy. Baru jadian tapi ga tau hubungan kita bakal dilanjut atau nggak.”

“Lagi berantem?”

Nanto mengangguk lemas. “Gara-gara aku juga yang salah. Ketahuan punya cewek lain, padahal baru sehari jadian. Hahaha.”

Ga tau kenapa tapi Nanto merasa aman-aman saja curhat sama Lady. Mungkin si bengal memang butuh teman cewek. Temen yang beneran, bukan lagi stok gebetan. Udah cukup lah.

“Ya udah sih. Putusin aja dua-duanya. Cari yang lain.” Usul Lady asal.

“Enak aja.”

“Kan masih banyak ikan di dalam kepiting, sumur di tambak udang, masih banyak terwelu di ember, masih sisa kepiting yang direbus.” Eh, kok jadi malah tambah kacau ya? Tadi gimana sih kalimatnya? Lady memang bukan orang yang paling cerdas sejagad, tapi setidaknya dia berniat menghibur.

Makanan yang dipanaskan sudah selesai, Lady lantas berdiri sembari menepuk-nepuk bagian pantatnya yang sedikit kotor.

“Ke depan yuk, ada temen kelas kita tuh baru jajan donat. Siapa tau kamu juga kenal.”

Nanto mengangguk, “bentar lagi aku susul.”

Ya wes. Aku masuk dulu, yo. Itu kayaknya ada juga yang mau bayar donat.”

“Oke, Dy.”

“Kalau aku tinggal jangan bunuh diri lho. Bukan apa-apa. Males panggil ambulan, kalau memang mau di rumah aja. Lebih sepi. Apalagi kalau di sini kalau kamu gentayangan takutnya pelanggan jadi keder.”

“Asem.”

Lady masuk kembali ke depan, sementara si bengal masih merenungi nasib di depan pintu.

Nanto kembali menarik ponselnya dari dalam kantong. Masih tidak ada respon yang diharapkan. Pesan singkat ke nomor Bu Asty belum dibalas. Boro-boro dibalas, masih tetep centang satu, Bro. Sama sekali tidak dibaca – padahal online. Sakitnya tuh di sini.

Apa yang dilakukan Bu Asty, sialnya juga dilakukan oleh Kinan. Nanto tidak bisa menghubungi kekasihnya itu. Telpon tidak diangkat, WhatsApp tidak dibales, padahal statusnya online juga. Wanita oh wanita. Nanto mending berhadapan dengan gali gentho yang berhadapan langsung dengannya, karena dia langsung tahu apa yang akan dilakukan. Tapi kalau berurusan dengan wanita, hadeh... ya begini ini.

Nanto kembali memasukkan ponsel ke dalam saku dan menutup pintu belakang. Batin si bengal melayang sembari membayangkan indahnya wajah sang kekasih yang semalam larut dalam pelukannya.

Ah, Kinan sayang. Kenapa kamu tidak membalas pesanku?

Nanto geleng-geleng kepala, gawat. Beneran sudah jatuh cinta kah dia? Kinan oh Kinan. Pesona Kinan memang memabukkan. Lalu bagaimana Asty? Nah lu, yang satu itu kan juga tidak mungkin dilepas begitu saja? Nanto sudah mendambakan sang guru jelita sejak masih di SMA CB, apa ya gara-gara hal ini dia harus melepaskan Asty?

Apa yang harus dilakukan? Bagaimana cara memperbaiki semuanya?

Nanto menghela napas panjang.

Mungkin beginilah tuah seorang yang serakah, niat hati ingin memiliki semua, tapi malah kehilangan dua-duanya. Yang terlalu berlebihan memang tidak baik.

Si bengal masuk kembali ke cafe. Hujan di luar sepertinya mulai reda, lentik sinaran matahari mulai menyeruak di antara awan mendung yang masih menggantung. Syukurlah kalau begitu. Setidaknya siang ini ada segar sekaligus sendu.

Nanto melangkah ke arah arah meja di mana Lady tengah bercanda dan tertawa terbahak-bahak bersama seorang gadis manis. Si bengal menggelengkan kepala mendengar suara Lady, meski seksi, cewek itu jelas bukan tipe-nya. Terlalu nyablak.

“Mbak-nya yang suaranya besar mau minum apa?” canda si bengal.

“Saya pesan beras kencur, Mang!” Lady kembali cekakakan.

Gadis di depannya juga tertawa.

Eh!?

“Lho kamu kan!” gadis itu menunjuk ke arah Nanto.

“Eh, kamu kan...” Nanto juga lupa-lupa ingat. Dia cuma ingat kuncinya. Kalau tidak salah C A Minor D Minor ke G ke C lagi. Bajilak, kok malah melantur geje. Cewek ini kan yang dulu pernah ketemu waktu pengenalan kampus! “Kamu kan yang waktu itu! Si Bambang!”

“Hahaha! Iya iya!” gadis itu tertawa manis. “Mas Naruto ya? Yang ngantukan!?”

Lady yang tertawa sekarang, “Wah urik! Ternyata kalian sudah kenal! Oy Bro, ini sahabatku dari SMA, namanya Nada. Kapan kalian kenal?”

“Waktu acara pengenalan kampus. Kamu kan bolos waktu itu.” Nanto menepuk pundak Lady. “Makanya diseringin masuk. Malah pacaran mulu yang digiatin, kuliah juga dong.”

“Iya iya Pak Dosen. Rewel aja kek kipas angin soak.”

“Dasar spanduk warteg.”

“Apa kamu sisaan cendol.”

Nada tertawa melihat keduanya. Syukurlah dia menemukan kawan-kawan yang menyenangkan di kampus UAL. Awalnya dia ragu-ragu mendaftar karena banyak hal yang tidak memungkinkan dia untuk kuliah di tempat itu, apalagi reputasi UAL sangat tidak baik. Untunglah kekhawatirannya tidak terwujud.

“Sini, Bro. Ngobrol dulu kita, mumpung sepi, ye kan.” Lady menarik kursi dan meminta Nanto duduk. Si bengal pun menurutinya.

“Jadi gimana kabarmu?” Nada tersenyum. Senyum semanis madu semaut kelokan sirkuit.

Nanto tersenyum, “ya beginilah.”

“Lagi baper dia, say.” Ledek Lady. “Lagi berantem ma ceweknya.”

Nanto menatap kesal ke Lady. Buka-buka rahasia aja nih toples bawang.

“Wah kenapa?” Nada menyeruput minumannya.

“Tidak apa-apa kok, nanti juga...” Nanto mencoba mengelak.

“Mereka baru sehari jadian, eh dia udah ketahuan punya cewek lain. Parah ya?” lanjut Lady tanpa peduli protes si bengal. “Sekarang ceweknya ngambek kayaknya.”

“Asem ik, buka aja semua rahasia. Dasar sendok ronde.”

“Hihihi. Dasar blek krupuk.”

Nada tertawa, “ditelateni aja ya. Biasanya pasangan yang masih baru masih bisa kok diperbaiki hubungannya asal telaten.”

Nanto mengangguk. Dia menghela napas panjang. Kinan...

“Kalau kamu? Sudah punya pacar?” tanya Nanto santai.

“Belum. Ga usah macem-macem kamu. Awas aja,” Lady mengancam. “Cari yang lain! Jangan Nada!”

“Apaan sih! Aku kan cuma nanya! Dasar bungkus nasgor!”

“Idih! Plastik Chiki!”

Nada tersenyum dan menggeleng, “baru putus juga sih. Tapi lagi ga pengen pacaran, pengen serius kuliah. Kalau kuliah kelar pengen kerja. Fokusnya ke situ, bukan ke yang-yangan.”

“Nah bagus itu, say. Ga kayak dia nih, udah pacaran, baru sehari langsung ketahuan selingkuh. Kan payah ya? Dasar keong racun.”

“Wooo. Dasar cangkang pong-pongan!”

Ketiganya tertawa berkali-kali dan melanjutkan dengan obrolan santai, saling diselingi cerita mengenai kegiatan di kampus dan pengalaman kuliah mereka yang masih awal-awal.



Nada melirik ke arah jendela.

“Ah sudah cerah. Untunglah. Aku mau nganterin Mama ke bandara siang ini,” ucap Nada sambil memasang senyum manis yang ga ada obatnya. “Papaku rese banget ngontak terus tiap setengah jam sekali. Dikirain aku ga mau nganterin, padahal aku udah bilang iya.”

Lady tertawa, “itu namanya khawatir sama anak wedhok. Sudah bungsu, cewek pula. Pastilah disayang banget. Kamunya juga sih mbalelo, pake acara ngekos segala padahal rumah cuma di situ.”

“Biar mandiri, say. Tapi ya gimana mau mandiri kalau tiap-tiap saat bokap nyokap selalu nyamperin.”

“Itu tandanya mereka perhatian sama kamu, say.”

“Iya. Masih untung ada orangtua yang perhatian,” sambung Nanto. “daripada aku ga ada yang perhatian sama sekali. Baru jadian aja udah langsung kena masalah.”

Lady dan Nada tertawa bersama.

Suara bel pintu terdengar.

Sesosok pria bertubuh besar masuk ke dalam cafe. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, sepertinya tidak mencari tempat duduk – tapi mencari seseorang. Pencariannya terhenti saat melihat Nada, Lady, dan Nanto. Dia berjalan dengan langkah-langkah yang pasti. Nanto memandangnya curiga. Orang ini berpakaian serba hitam dari atas ke bawah, dengan kacamata hitam, dan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan senyum.

“Maaf, Pak. Mau pesan makanan atau minuman?” Nanto berdiri untuk menyambut orang itu.

Nada dan Lady membalikkan badan untuk melihat siapa yang datang. Nada dan Lady cekikikan, sepertinya mereka berdua mengenali sosok itu.

“Oy Bos, Bapak itu sopirnya Nada.” Lady menepuk pundak Nanto sambil tak henti-hentinya tertawa.

Nada juga tertawa, “ini sopirku, Om Seno – Om Sulaiman Seno.”

“Ooh! Ooh! Maaf, Pak. Saya pikir Bapak...”

“Non Nada, ada perintah dari Bapak untuk menjemput Non Nada...” Seno tidak ambil peduli. Tujuannya hanya Nada.

“Iya iya... aku sudah baca WhatsApp-nya Papa. Makanya Om Seno diminta jemput ke sini, kan aku juga yang share location.” Nada cemberut, dia memandang penuh kesal pada Lady dan Nanto, “maafin ya gaes. Lain kali kita lanjut lagi. Kalau Papa sudah ada mau ya begini ini.”

“Siap, say!” Lady mengangkat jempolnya.

“Ok.” Nanto juga tersenyum.

Nada mendekat ke arah Nanto, dan dengan lembut mengelus punggung tangan si bengal. “Mudah-mudahan cepet baikan sama cewek kamu, ya. Semoga langgeng.”

“Iya. Makasih.”

Seno menatap Nanto dari kejauhan.

Mereka berempat lantas berjalan bersama menuju ke pintu keluar setelah Nada membayar biaya kopi dan snack yang ia makan.

Lady dan Nada berjalan di depan sambil cekikikan. Mumpung cafe sedang sepi, mereka hendak mengantarkan Nada sampai ke mobil di parkiran.

Baru keluar pintu dan melangkah keluar beberapa langkah, Seno menghentikan langkah Nanto dengan menutup jalurnya menggunakan tangan. Dia memastikan Nada dan Lady sudah cukup jauh.

Sopir Nada itu menatap Nanto dengan pandangan yang aneh dari balik kacamata hitamnya. Nanto yang merasa aneh juga teguh mempertahankan posisinya. Keduanya sama-sama menilai sosok orang yang berada di depannya. Nanto bisa merasakan lonjakan ki dahsyat pada diri pria berpakaian serba hitam itu. bukan sosok kaleng-kaleng, beneran jabatannya cuma sopir? Siapa dia sebenarnya?

Seno tersenyum. Dia mendekat ke arah Nanto.

Keduanya saling pandang, saling tatap dari jarak dekat.

“Kenapa, Pak?”

“Kamu ada masalah denganku?” tanya Seno.

“Tidak ada. Anda ada masalah dengan saya?”

“Ada,” Seno semakin dekat. “jangan pernah mendekat ke Non Nada lagi kalau tidak mau tangan dan kaki kamu putus. Aku tahu laki-laki seperti apa kamu.”

Nanto tersenyum tipis. Mana mungkin dia takut dengan ancaman seperti itu, lagipula dia tidak merasa melakukan sesuatu yang salah.

“Kenapa memangnya? Nada teman kuliah saya, jadi ada kemungkinan kami akan sering bertemu. Njenengan juga bukan bapak saya, jadi tidak bisa menyuruh-nyuruh seenaknya. Mending njenengan mbalik, metu kono belok kiri, lurus wae. Kalau mau beli kopi dan donat silahkan datang kembali, tapi kalau njenengan ada masalah bisa kita perbincangkan di tempat lain secara jantan.”

Seno mendengus lagi. “Pengen ngerasain?”

“Ngerasain apa?”

Seno bergumam dan menyentak. “Hfah.”

Blaaaaaam! Bkkkkgghhh!

Tubuh Nanto terbang ke belakang hingga lima meter dan menghantam tembok. Ia ambruk ke tanah dengan tubuh tak karuan.

Badan si bengal terasa linu karena terhempas ke tembok. Bangsat! Begitu mudahnya?

A-apa yang barusan? Ini mirip teknik tenaga dalam milik Rao, tapi kalau yang itu butuh dikumpulkan dan ditembakkan dengan kuda-kuda khusus, orang ini bisa dengan mudahnya melakukannya tanpa kuda-kuda apapun. Tangannya bahkan tidak dihunjukkan ke depan, hanya melalui gumaman beberapa kata saja. Jangan-jangan ini adalah...

“Om Senoooo!” Nada dan Lady berlari menuju ke arah Seno dan Nanto. “Apa-apaan sih Om Seno!? Dia ini kan temen kuliah Nada!”

Seno hanya mengangguk, “Oh.”

Nanto geram. Hanya oh saja?

Seno melanjutkan, “Hanya ada sedikit kesalahpahaman saja di antara kami, Non.”

“Kamu tidak apa-apa, kan? Aduh, maaf banget ya. Om Seno pasti tidak punya maksud buruk, kok.” Nada tergopoh-gopoh hendak menolong Nanto, Lady juga turut membantu si bengal berdiri. Sebenarnya Nanto tidak perlu dibantu berdiri, tapi dia terima saja uluran tangan kedua gadis. Dia hanya memandang tanpa kedip ke arah Seno.

Nanto tersenyum. “Iya aku tidak apa-apa. Pak Seno sepertinya hanya salah paham. Karena kalau tidak, dia tidak akan bisa berdiri dengan santai begitu saja saat ini.”

Seno menurunkan wajahnya sembari melihat ke depan dengan menurunkan kacamata hitamnya. Wajahnya masti tanpa ekspresi. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun. “Maaf.”

Bahkan ucapan maafnya juga tidak ikhlas.

“Tidak perlu meminta maaf. Kita hanya salah paham.” Jawab Nanto.

Nada mendatangi sang sopir dan mengamuk, “apa-apaan sih, Om?! Jangan setiap orang yang dekat sama aku dihajar begini dong! Papa kasih perintahnya keterlaluan ah. Aku ga suka! Itu makanya aku pilih kuliah dan kos di utara daripada kuliah di selatan! Supaya aku tidak perlu tiap hari berurusan dengan hal-hal semacam ini! Dengar ya, ini yang terakhir kalinya Om bertindak di luar batas! Aku tidak mau kejadian seperti ini diulang lagi!”

“Maaf Non. Perintah dari Bapak sudah jelas. Non Nada diminta pulang karena Ibu mau pulang ke Jepang sebentar untuk mengantarkan nenek. Bahkan sekarang Ibu sudah jalan ke bandara dengan Bapak, Nenek, dan Mang Doy. Saya diminta untuk segera...”

“Iya, aku tahu! Ish! Nyebelin banget sih!” Nada kesal.

Gadis itu berbalik ke arah Nanto dan Lady, “aku minta maaf banget ya, beneran minta maaf.”

“Ga apa-apa, say. Nanto mah kuat, baperan sih, tapi kuat. Apalagi kepala dia ada badaknya. Digetok berapa kali pun tetap aja ndleleng.”

Haish.” Nanto protes. Dia tersenyum pada Nada, “tidak apa-apa kok. Santai saja.”

“Ya sudah aku pulang dulu ya, Lady... Nanto... kapan-kapan kita ngobrol bareng lagi. kayaknya tempat ini cocok dijadiin basecamp nih buat kerjain tugas.”

“Siap.” Lady tersenyum lebar. “Iya di sini aja, wifi-nya juga kenceng.”

Nanto masih tak beralih dari memandang ke arah Seno. Jadi ini semua salah paham ya. Melemparkan orang sejauh ini cuma gara-gara salah paham? Kok penak men?

Seno menganggkukkan kepala pada Nanto, memberi salam dari jauh.

Nanto ikut menganggukkan kepala. Tapi dia tidak mau berpisah seperti ini saja. Dia melangkah ke arah Seno dan mengulurkan tangan. Seno menjabat tangannya. Kencang keduanya saling menggenggam jemari, tidak ada yang mau mengalah.

“Terima kasih sudah diberikan masukan yang berharga,” ucap Nanto dengan geram.

“Sama-sama. Maaf, cuma salah paham.”

Nanto tersenyum, “Betul, cuma salah paham. Lain kali kalau kita bertemu kembali akan aku pastikan aku juga akan melakukan salah paham.”

Seno mendengus dan membalas ucapan Nanto dengan senyum seulas seperti tidak peduli, dia berbalik untuk menyusul Nada yang sudah berjalan ke parkir mobil. Tapi Seno kemudian terhenti sejenak, dia memandang ke arah Nanto.

“Yang aku buka tadi adalah gerbang keenam. Kamu seharusnya juga bisa melakukannya.”

Apa!?

Nanto tertegun, dia sempat terkejut. Tapi dia lantas tersenyum. “Yang tadi cuma salah paham, tidak perlu kita perpanjang. Tapi bersiaplah, akan aku lanjutkan salah pahamnya di kesempatan lain. Akan aku tunjukkan seperti apa gerbang keenam yang seharusnya.”

Seno menganggukkan kepala, dan berbalik untuk melanjutkan langkah.

Nanto bersidekap sambil menatap kepergian pria misterius itu. Bangsat! Dia juga menguasai Kidung Sandhyakala? Bagaimana mungkin?

Sulaiman Seno.

Ini pasti bukan kali terakhir mereka akan bertemu.

Suatu saat nanti dia akan...

Ding.

Suara dari ponsel. Ada pesan WhatsApp?

Nanto buru-buru melihat ke arah notifikasi pesan singkat yang masuk. Kinan!? Ah! Dari kekasihnya! Nanto yang sudah khawatir setengah mati buru-buru membuka WhatsApp. Dia rindu berat pada Kinan. Mudah-mudahan gadisnya itu bisa memaafkannya dan...

Nanto tertegun pada satu kalimat yang dikirimkan Kinan.

Tolong!! Kami diserang!!







PROLOG
SELESAI
 
Terakhir diubah:

paimo_87

Tukang Semprot
Daftar
6 Nov 2018
Post
1.140
Like diterima
2.670
KATA BERMULA

Setelah ibundanya meninggal karena sakit, Jalak Harnanto (Nanto) yang sudah yatim piatu tinggal di desa dengan Kakek-nya. Beberapa tahun tinggal di desa, sang kakek akhirnya juga wafat. Nanto pun kembali ke kota untuk melanjutkan hidup dengan bekerja dan kuliah melalui dukungan kawan-kawan dan keluarganya yang tersisa. Semua demi masa depan yang lebih baik.

Tapi hidup si bengal tidak semudah yang ia bayangkan. Kerasnya hidup di kota, rangkaian pertarungan jalanan, tantangan pertempuran tangan kosong yang entah kenapa selalu menghampiri, manis pahit kehidupan yang naik turun seperti roller-coaster, dan lingkaran wanita yang menyambanginya silih berganti menjadi takdir hidup yang harus ia jalani.

Nanto sadar betul, hitam tak selamanya hitam seperti putih tak selamanya putih.

Inilah kelanjutan kisah perjalanan Nanto si Bengal. Untuk kisah perjalanan sebelumnya dapat dibaca pada serial JALAK.

Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter, tempat, dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh, lokasi, dan kejadian nyata. Kemiripan akan penamaan, perilaku, penggambaran ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan belaka. Saya tidak menganjurkan dan atau mendukung seandainya terdapat aktivitas negatif seperti yang mungkin diceritakan.

Mohon maaf sebelumnya jika cerita ini juga akan sangat minim adegan SS (sex scene) dan mungkin lebih banyak menitikberatkan pada adegan pertarungan. Jika anda mencari rentetan adegan SS dan proses binal-binalan dari awal sampai akhir maka ini bukan cerita yang tepat. Read at your own risk.

Mudah-mudahan berkenan.
Selamat menikmati, sobat ambyar.



Sebelum membaca cerita ini ada baiknya anda membaca terlebih dahulu: JALAK v1

JALAK v2 PEJANTAN TANGGUH
KATA BERMULA
PROLOG - SEBUAH KISAH KLASIK


KONTEN BONUS
CERITA SAYA YANG LAIN
Asyik asyik joss
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR