9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG Pulang

Gentile

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
6 Aug 2015
Post
91
Like diterima
3.987
Lokasi
Singapore
Salam hormat buat para admin dan para suhu sekalian

Di awal tahun yang baru ini, nubie kembali lagi akan membagikan sebuah cerita yang semoga berkenan buat para pembaca sekalian.

Cerita ini mungkin ga akan terlalu panjang, kurang lebih akan sama dengan cerita yang saya bagikan sebelumnya yaitu :


Sketsa



----------0----------



PULANG



Cerita ini akan mengisahkan tentang seorang laki-laki yang berusaha untuk menemukan kembali jati dirinya setelah mengalami sebuah peristiwa kelam di hidupnya.

Usahanya akan menemui banyak kesulitan karena peristiwa itu membuat dia kehilangan ingatannya dan ga tau siapa orang yang sudah mencelakainya serta siapa orang yang bisa dia percayai untuk membantu usahanya.



Tanpa panjang lebar lagi, selamat mengikuti petualangannya dan semoga terhibur.
I. Awal Segalanya
II. Dua 'R', Dua 'C', Tanpa 'H'
III. Riwayat Kehidupan
IV. Persimpangan Jalan
V. Menjemput Kehidupan Lama
 
Terakhir diubah:

Gentile

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
6 Aug 2015
Post
91
Like diterima
3.987
Lokasi
Singapore
I. Awal Segalanya


Sampai saat ini aku masih merasa ada sesuatu yang salah dan mungkin akan selalu terasa seperti itu. Benar atau salah disini maksudnya terkait dengan kesehatanku, kondisi tubuhku, otak, dan ingatanku. Sebagian besar ingatanku sudah balik lagi, tapi ingatan dari hari saat kejadian naas itu tidak pernah muncul. Memori dari hari kelam itu masih gelap dan belum bisa kuakses sampai saat ini bertahun-tahun setelahnya.

"Kasus ini adalah kasus yang sangat langka, jarang terjadi," kata dokter yang menanganiku. "Hampir di semua kasus lain pasien akan mendapatkan lagi ingatannya setelah beberapa waktu, kecuali berarti ada kemungkinan ingatanmu akan hilang secara permanen, buktinya kamu bahkan belum ingat identitasmu sendiri sampai saat ini... Walaupun kalau dilihat lagi, ga ada orang yang masih bisa hidup setelah mengalami cedera dan luka-luka seperti itu."

Oke, jadi kasusku ini memang langka, tapi tahu tentang kenyataan itu ga ada gunanya sama sekali buatku. Yang jelas kondisiku sudah jauh lebih baik sekarang. Ingatan jangka panjangku dari masa kecil dan masa-masa sebelum peristiwa itu sudah banyak yang kembali, walaupun karena ga lengkap, aku ga bisa susun jadi sebuah urutan sejarah kehidupanku sendiri.

Ingatan jangka pendekku masih belum bisa diandalkan bahkan setelah masa pemulihan sekian lamanya. Kadang-kadang ingatanku tentang kejadian-kejadian yang baru saja terjadi bisa tiba-tiba hilang dan bikin aku panik sesaat karena aku ga ingat sedang ada dimana dan lagi ngapain. Untungnya sekarang aku punya buku catatan kecil yang terbiasa kupakai untuk mencatat kejadian-kejadian penting dan buku itu selalu kubawa kemana-mana, sangat membantu buat mengingat hal-hal yang paling penting. Jadi aku ga hilang arah kalau pas tiba-tiba lupa.

Tapi ada baiknya kita mulai cerita ini dari awal. Walaupun, ceritanya mungkin akan panjang dan bikin bosan.


----------0----------​



Orang-orang di rumah sakit cerita padaku berdasarkan versi mereka masing-masing soal kasusku saat aku dirawat di rumah sakit daerah di Kota Semarang. Mereka sangat telaten, cerita kisah itu berkali-kali diulang, dan berulang kali juga aku lupa lagi. Sampai secara bertahap sebagian cerita itu terekam permanen di ingatanku.

Aku dilarikan ke rumah sakit pada tanggal 24 Agustus 2011. Ada orang yang telepon polisi dan polisi yang merespon panggilan itu segera mengirimkan ambulans, sebuah tindakan yang menyelamatkan hidupku. Waktu itu aku dalam kondisi sangat kritis, aku sepertinya sudah dipukuli sebegitu parah, dan setelah itu dibuang di sebuah lapangan tempat pembuangan sampah.

Seberapa parah? Seluruh wajahku sudah dipukuli dan bahkan mungkin diinjak, membuat tengkorakku retak. Sebagian besar gigiku hilang, hidungku patah di beberapa bagian, begitu juga tulang rahang dan pipiku patah. Itu baru yang di kepalaku.

Leherku robek sedemikian rupa sampai menembus dan melukai pita suaraku, bikin suaraku berubah jadi serak. Tulang rusuk, satu tulang paha dan tulang kering di kaki satunya patah, tempurung lutut rusak dan kedua pergelangan kaki juga sama. Ada beberapa luka dalam yang harus mereka operasi, para preman itu sepertinya fokus menghajar kepalaku. Polisi mengira bahwa preman atau perampok yang menyerangku mungkin mencoba membunuhku, dan yang terutama mereka berusaha membuat wajahku ga bisa dikenali.

Ada memar di punggung dan pantatku, pasti ada beberapa tendangan yang nyasar ke bagian belakangku. Tapi mereka yakin aku pasti mempertahankan diri dalam posisi meringkuk saat dipukuli, karena daerah selangkangan dan penisku ga tersentuh. Kita harus bersyukur atas kebaikan kecil mereka, kata dokter sambil tertawa. Kecil? No Comment.

Semua barang-barangku hilang, cuma celana dalam yang disisakan menempel ditubuhku. Polisi yang selalu punya berbagai macam skenario, menganggap ini adalah perampokan dengan kekerasan, tapi juga ga menutup kemungkinan bahwa aku mungkin terlibat dalam perang gangster atau bahkan bandar narkoba. Apapun itu, aku ditinggalkan bersimbah darah, berjuang antara hidup dan mati di tumpukan sampah sebelum ditemukan oleh orang yang kebetulan lewat.

Yang jelas luka-lukaku adalah yang paling parah yang pernah dilihat oleh petugas medis, setidaknya di rumah sakit ini, dan ga ada satupun yang mengira aku bisa tetap hidup. Aku harus dirawat di ICU memakai alat bantu pernafasan untuk bertahan hidup dalam keadaan koma selama enam bulan, tapi selama itu juga ga ada satupun keluarga yang mencariku dan bisa mereka minta penjelasan atas kondisiku, dan sudah jelas perawatanku pasti butuh biaya yang ga sedikit tanpa ada kejelasan siapa yang harus membayarnya.

Ga heran karena ga ada yang tahu siapa aku, apalagi siapa keluargaku. Jadi, akhirnya, pihak rumah sakit memindahkanku ke ruang perawatan biasa dan disaat yang sama membuat permohonan ke pengadilan agar mendapatkan izin untuk menghentikan penggunaan alat bantu hidup pada perawatanku. Dokter menganggap aku ga akan bisa bertahan hidup tanpa alat bantu, dan itu artinya mereka butuh legalitas dari pengadilan saat harus melepas alat itu. Biasanya pihak keluarga pasienlah yang diminta tanda tangan untuk tindakan semacam itu, tapi seperti yang sudah kubilang bahwa belum ada orang yang mencariku dan mengaku sebagai keluargaku.

Butuh berminggu-minggu untuk menyelesaikan proses itu, sampai akhirnya pihak rumah sakit mendapatkan apa yang mereka mau. Ajaibnya, saat mereka melepas alat bantu hidupku, aku bisa terus bernapas secara mandiri. Sebulan setelahnya aku bahkan mulai sadar walaupun dengan sangat lambat, dan semua hal yang dilakukan rumah sakit terkait dengan pengadilan jadi ga ada gunanya lagi. Jadi sampai saat ini aku sudah berhasil selamat dari dua usaha pembunuhan, satu oleh preman, dan satu lagi dari tindakan medis rumah sakit.

Seperti yang kubilang kesadaranku pulih dengan sangat lambat, butuh waktu sampai berbulan-bulan. Berangsur-angsur aku mulai merespons pada sentuhan dan cubitan yang mereka lakukan untuk mengukur tingkat kesadaranku. Aku sempat ada di level yang paling dasar dan dalam waktu sembilan bulan aku sudah pernah berada dalam berbagai tingkat koma, dan baru dua bulan setelahnya aku bisa dikategorikan dalam keadaan sadar. Masalah berikutnya muncul karena ternyata aku ga ingat dan ga tahu siapa aku.

“Bisa sebutkan namamu?” Tanya seorang dokter yang sedang memeriksaku.

Aku mengerti pertanyaan itu, tapi anehnya aku ga menemukan apapun yang bisa kupakai sebagai jawaban, bahkan kepalaku sedikit pusing saat aku panik dan berusaha terlalu keras mencari jawabannya.

“Dengar suara saya?” tanyanya lagi

Aku membuka mulut untuk menjawab, tapi rahangku seakan terkunci dan ga bisa kubuka. Aku berusaha mengangguk sebagai gantinya, tapi gerakan itupun sama sulitnya dengan sekedar membuka mulut. Mataku bergerak liar melirik kearah dokter disampingku, dia menatap mataku sebentar dan mengangguk.

“Jangan terlalu dipaksa, saya tahu bapak bisa mendengar saya, tapi belum bisa merespon.” Dia lalu meminta selembar kertas kosong pada suster yang dari tadi mencatat dibelakangnya, dan dokter itu lalu menuliskan dua kata di kertas itu, ‘Ya’ dan ‘Tidak’.

“Cukup kedipkan mata pada saat saya menunjuk jawaban yang sesuai,”

Setelah itu dia memberiku beberapa pertanyaan yang hanya dapat kujawab dengan kedipan mata hingga dia membuat kesimpulan bahwa aku menderita amnesia dan karena luka-luka yang membuatku koma berbulan-bulan menyebabkan syaraf gerakku kaku dan harus diterapi.

Kondisi itu membuat aku harus mengikuti rehabilitasi selama berbulan-bulan. Kasusku langka karena aku ga punya ingatan sama sekali, bahkan namaku, satu kondisi yang hampir ga pernah terdengar. Para dokter dan polisi lalu malah menganggap aku pura-pura, karena ga biasanya kehilangan ingatan akan identitas butuh waktu selama ini. Mereka menganggap aku punya suatu rahasia, mungkin salah satunya alasan kenapa aku dipukuli sampai hampir mati, atau mungkin sampai mati seharusnya, tapi mereka gagal membunuhku.

Aku bisa memahami perkataan orang lain, tapi aku harus belajar bicara, belajar jalan, membaca, pakai baju sendiri, mandi dan menggunakan toilet, semuanya. Belakangan aku belajar menulis. Rasa sakit saat harus menggerakkan otot yang sekian lama pasif sangat menyiksa dan perjuangannya panjang dan bikin putus asa. Kondisi emosionalku juga jadi kacau balau. Aku secara bergantian bertindak agresif tapi di lain waktu penurut, optimis tapi di lain waktu depresi parah, tapi aku terus belajar dan membaik sampai bisa mengendalikan emosiku di sebagian besar keseharianku.

Hampir dua tahun sejak pertama aku tiba di rumah sakit, aku dinyatakan cukup sehat secara fisik dan bisa meninggalkan balai rehabilitasi meskipun bisa dibilang aku jadi orang cacat permanen, berjalan harus dibantu kruk dengan pin yang menyambung tulang di beberapa tempat, tapi karena ingatanku kadang datang dan pergi, aku ga bisa diijinkan hidup sendiri, jadi aku harus tetap tinggal di balai rehabilitasi.

Selama itu beberapa ingatan mulai muncul. Aku beberapa kali mendapat mimpi yang detailnya ga bisa kuingat ga lama setelah aku bangun, ada beberapa kilatan cahaya yang ga bisa kupahami penyebabnya.

Aku ingat kalimat "Dua ‘R’ dua 'C' dan tanpa 'H'" beberapa kali muncul, entah apa artinya.

Dokter dan polisi memperkirakan aku berumur 30 tahun akhir atau 40 tahun awal. Karena itu perawat dan dokter memanggilku Adjie, seperti nama depan aktor yang baru meninggal di awal 2011 lalu di usia yang hampir sama denganku. Sebagian sebagai ejekan membandingkan wajahku yang hancur dengan ketampanan sang aktor. Mungkin juga sebenarnya mereka berharap aku yang meninggal, bukan dia.

Tubuh dan wajahku sudah direkonstruksi dengan operasi selama berbulan-bulan saat aku koma. Aku bersyukur karena itu berarti aku ga perlu merasakan sakit yang harus kualami karena efek operasi itu. Tapi secara penampilan, wajahku masih kelihatan berantakan, aku sendiri masih takut melihat bayanganku di cermin. Dokter sudah bekerja dengan baik membuatnya ga terlalu seram untuk dilihat, tapi ada banyak bekas luka dan bentuk yang ga lagi simetris di wajahku membuatnya ga enak dipandang. Aku sering membayangkan seperti apa wajahku sebelumnya. Aku tahu aku ga berhak mengeluh, karena para dokter bedah sudah melakukan apa yang mereka bisa tanpa ada dukungan dana yang nyata. Suster yang sebagian besar wanita bilang wajahku punya pesona yang unik, daya tarik yang kuat. Sudah tentu aku ga percaya.

Satu hal lagi yang dibilang oleh para suster adalah aku terobsesi untuk sembuh. Aku bisa frustrasi dan marah, sampai mengamuk membuang-buang barang saat perkembanganku terlalu lambat. Positifnya, tekadku itu bisa membuatku pulih lebih cepat.

Aku mengerjakan puzzle melatih otak dan daya ingat, aku terus belajar berjalan memakai kruk dan suatu saat mencoba berjalan tanpa kruk terlalu awal, dengan hasil yang buruk. Satu hal yang segera menarik perhatianku adalah komputer yang mereka ijinkan untuk kupakai.

Untuk membantu melatih ingatan jangka pendekku, aku mencatat semua yang perlu kuingat di komputer itu. Ada beberapa kenangan masa kecil yang muncul. Misalnya tiba-tiba aku tahu bahwa aku tinggal di Tangerang, bukan Semarang.

Oh iya, jangan dikira aku melakukan semua itu sendirian. Seorang perawat secara sukarela membantuku secara khusus. Dialah yang selalu datang dan menjengguk saat aku terbaring di ranjang rumah sakit sebelum aku bisa jalan. Dia memegang tanganku dan menggosoknya pelan setiap kali aku putus asa dan hampir menyerah. Bahkan setelah dia dipindah ke bagian lain, dia tetap datang menemuiku.

Namanya Patricia Mary Sousa, biasa dipanggil Tris. Dengan selera humornya yang unik, dia biasa bilang bahwa jangan sampai ga nurut perintahnya karena dia gampang marah. Paham maksudnya? Namanya kalau disingkat akan jadi ‘PMS’, Pre- Menstuation Syndrom.

Tris adalah gadis asal Timor Leste. Orangtuanya memutuskan untuk pulang kesana setelah negaranya referendum dan merdeka, tapi Tris terus melanjutkan sekolah di Indonesia sampai akhirnya mendapat beasiswa untuk sekolah perawat disini dari negaranya. Dia punya panggilan khusus buatku yaitu 'hinny', dia bilang itu adalah sebutan anak hasil persilangan antara kuda dan keledai, ya aku punya tekad seperti kuda, tapi juga pelupa dan ceroboh seperti keledai. Aku ga tersinggung, ga mungkin aku marah pada satu-satunya orang yang dengan setia memberikan rasa optimisme dan mendukungku saat rasa sakit dan stres paling parah datang.

Dia gadis yang cantik dan punya bentuk tubuh yang indah. Kulitnya sedikit kecoklatan tapi bersih dan terawat, tubuhnya tinggi dan langsing, umurnya sekitar dua puluh lima, mungkin lebih. Dia punya bentuk pantat dan payudara yang proporsional dengan tubuhnya. Kakinya panjang dan ramping. Rambutnya berwarna sedikit kemerahan, entah warna asli atau di warna.

Suatu kali aku bertanya, “Tris, kenapa kamu selalu datang kesini? Kenapa kamu rela menghabiskan banyak waktu buatku? Aku bukan siapa-siapamu.”

Dia tersenyum dan menjawab, “Hinny, aku ga punya keluarga lagi di Indonesia, jadi aku tahu rasanya sendirian, lagian aku ini perawat, jadi aku tahu rasa kesepian pasti ga akan membantu penyembuhan.”

Alasan itu yang sering dikatakannya setiap kali aku mengulang pertanyaan itu.

Dia juga bilang belum punya pacar, walaupun dia pernah beberapa kali jalan dengan teman pria, tapi ga ada yang serius, cuma untuk bersenang-senang, sambil tersenyum penuh arti. Semua cerita tentang kesehariannya itulah yang seringkali menghiburku, membuatku bersemangat untuk cepat pulih dan melihat sendiri dunia diluar tembok rumah sakit.

Dan dia tahu keinginanku itu, dan supaya aku boleh keluar dari balai rehabilitasi, dia rela mencari dan menyewakan buatku sebuah kamar apartemen murah dekat dari rumah sakit dan pindah kesana denganku, meninggalkan asrama perawatnya sendiri sementara. Apartment ini sederhana, hanya punya satu kamar tidur yang berbatasan dengan kamar mandi, lalu ruang tamu dan dapur kecil di bagian depan.

Dia bersikeras memilih apartemen untuk kami agar lebih aman, aku tahu dia harus mengeluarkan biaya ekstra dari tabungannya sendiri karena tunjangan akomodasi yang dia dapatkan dari pihak kedutaan ga akan cukup untuk menutup biaya sewanya. Dia sering membersihkan dan merapikan ruangan apartemen, atau bikinin makanan saat aku ga bisa diganggu atau sedang terlalu depresi untuk melakukan sesuatu. Begitu dia yakin aku bisa ditinggal, dia balik ke asramanya, tapi dia selalu datang menjengukku tiap hari, bahkan beberapa kali sampai menginap.

Kebaikannya yang lain adalah, dia membeli laptop murah buatku agar aku bisa melanjutkan kegiatanku di rumah sakit, membuat catatan keseharianku tiap malam, dan kalau sempat siang hari, aku harus catat semua yang aku lakukan hari itu. Itu akan membantu ingatanku, katanya, karena aku bisa mengulang aktivitas hari sebelumnya berulang kali.

Jadi aku mulai membuat semacam diary di laptopku. Awalnya aku butuh waktu lama untuk membuat catatan singkat, tapi lama kelamaan aku sudah makin jago dalam hal mengetik. Selain itu, saat mengetik aku sekaligus melatih jari-jariku dan koordinasi syaraf otak menggerakkan jariku semakin lancar dan rasa sakit di tanganku berkurang.

Diluar terapi, setelah melalui pengajuan yang lama dan berulang-ulang, aku berhasil mendapatkan tunjangan jaminan sosial untuk orang cacat dan memungkinkan aku membiayai sendiri kebutuhanku, ga lagi tergantung sepenuhnya pada Tris.

Awalnya Tris yang membantu belanja untuk kebutuhan sehari-hariku, tapi berikutnya dia mulai usul agar aku belanja sendiri dan belajar lebih mandiri. Aku juga harus tetap kontrol ke rumah sakit dua kali seminggu dan sejujurnya aku sekarang benci setiap kali harus keluar apartment. Sangat ga nyaman harus jalan pakai kruk, dan utamanya aku sangat berharap bisa menutupi wajahku. Ekspresi orang-orang setiap kali mereka ngeliat aku, jijik, takut, ngeri dan yang paling parah, kasihan. Jadi aku berusaha untuk ga pernah keluar dari kamar. Tris-lah yang mencoba segala cara untuk mengajakku keluar, mungkin agar aku terbiasa dengan tatapan orang-orang.

Berjam-jam dia habiskan menemaniku, agar aku ga merasa sendiri. Kami bisa membahas tentang apa saja saat kami ngobrol, sebelum biasanya aku sering membawa obrolan kembali ke satu hal. Aku akan mengeluh dan mengeluh bahwa selain dia ga ada orang yang mau tinggal bersamaku, apalagi menikahiku. Dia akan menghela nafas tanda ga setuju pada pendapatku, lalu berusaha mengubah topik pembicaraan, begitu terus sampai suatu pagi dia ga tahan lagi.

"Aku muak mendengarmu mengeluh tentang fisikmu. Kalian pria mungkin cuma melihat wanita secara fisik, tapi kebanyakan wanita ga terlalu mementingkan itu. Kamu pria yang baik, Adjie. Perawat lain kagum sama kamu, kamu berani dan punya tekad kuat dan bahkan beberapa dari mereka suka sama kamu. Kenapa? Karena kualitasmu. Bijaksana, perhatian, sopan pada mereka tapi disaat yang sama juga berkemauan keras, memacu dirimu sendiri diluar batas."

Aku tersenyum kecut. "Oh, ya? Apa kamu lihat gimana cara kasir di supermarket itu ngeliatin aku? Jelas banget dia jijik."

"Oke," katanya tegas. "Sudah jelas kamu sama sekali ga percaya diri. Kamu juga ga percaya semua yang aku bilang. Kamu memang sudah punya banyak jadwal terapi sampai sejauh ini, tapi besok malam kita mulai terapi yang lain."

Aku mengeram marah. Terapi butuh kerja keras yang luar biasa di balai rehabilitasi dua kali seminggu, dan kalau di rumah pun aku tetap punya jadwal terapi yang sudah disusun oleh tim terapis untukku. Semuanya bikin badanku terasa sakit dan pasti bikin capek.

"Jangan menolak sebelum nyobain terapinya!" katanya sambil tersenyum lalu berangkat kerja.

Keesokan harinya hujan turun sejak sore dan aku sedang duduk di kursi ruang tamu menghadap ke pintu masuk saat Tris tiba di apartemen masih memakai jas hujan. Pandangannya terarah ke mataku, lalu dia tersenyum dan mulai melepaskan jas hujannya, mengungkap apa yang dia pakai di baliknya, dan disana kulihat ga ada banyak kain dibanding yang seharusnya.

Rambutnya dikuncir keatas. Dia memakai kaos pendek dengan potongan 'V' rendah di bagian depan. Kaosnya sendiri panjangnya cuma sampai sedikit di bawah payudaranya, memperlihatkan perutnya yang rata. Bahan kausnya terlihat halus, tipis, sedikit transparan berwarna merah dan di baliknya, terlihat jelas, ada push-up bra setengah cup warna hitam. Kulitnya kencang dan pinggangnya melekuk indah. Rok lipit pendeknya masih cukup panjang untuk menutupi bagian pantatnya. Ga ada stocking atau legging tapi sepatu hak tinggi tujuh centi melengkapi pakaian itu. Dia berputar dihadapanku, roknya melebar dan celana dalam berenda warna hitam menarik pandangan mataku.

Ada yang mengeliat dan bangkit di bagian bawah tubuhku.

Jangan salah, aku sudah 'menemukan' penisku dan potensi manfaatnya untuk memberiku kesenangan dan melepaskan stres, meskipun mungkin cenderung lebih secara naluriah dan insting laki-laki yang mengambi alih. Tris juga sering menyewa DVD untuk kami tonton bersama, beberapa di antaranya berisi adegan seks yang jelas ditampilkan, walaupun kami ga pernah bicara atau komentar tentang itu.

"Suka sama yang kamu lihat?" tanyanya genit.

"Oh ya, Tris. Pasti. Putar lagi?"

Dia menurut. Pantatnya sangat bulat, sebagian bongkahnya mengintip dari bagian bawah celana dalam mungilnya. Dia terlihat sangat seksi.

"Sekarang dengar, Adjie, Hinny, apa yang akan kita lakukan malam ini dan malam-malam yang akan datang - terapi akan harus diulang kan - semua 'tanpa ikatan'. Aku ga mau punya hubungan permanen denganmu, bukan karena wajahmu tapi karena aku ga ingin terikat status.” Katanya sambil berdiri berkacak pinggang.

"Kita cuma senang-senang dan jangan sampai kepercayaan dirimu terganggu karena status nantinya. Aku ngelakuin ini karena aku suka kamu, cuma itu. Jangan lupa, aku sudah pernah lihat alat kelaminmu sebelumnya, dalam kondisi tidur atau berdiri tegak. Jadi aku harus adil kan. Oke, sudah cukup bicaranya. Waktunya untuk beraksi." Dia mengakhiri kata-katanya dengan menyeringai ke arahku.

Aku berjuang untuk bangkit dari kursi, penisku dengan bangga membentuk tonjolan di celanaku. Dia melihatnya dan tersenyum dengan tatapan aneh yang kuharap adalah nafsu.

"Bagus! Aku perhatikan ga ada yang salah dengan ingatannya. Dia ga lupa tugas dan fungsinya." Katanya dengan nada seperti seorang dokter.

Dia berjalan melintas di depanku ke arah tempat tidur, pinggulnya bergoyang saat aku berjalan dibelakangnya. Sepertinya dia sengaja menggodaku, tapi aku ga akan protes dan menikmati pemandangan itu dari belakang. Begitu berada di dekat tempat tidur, dia berputar lagi, menampilkan lagi sekilas celana dalam yang tersembunyi itu, lalu dia berlutut di depanku. Dengan semua keterampilan perawat terlatih, dia membuka kancing, membuka ritsleting dan menarik celanaku ke bawah, diikuti dengan celana dalamku, dengan hati-hati menurunkannya melewati ereksiku. Kemudian dia berdiri dan melepas kaosku. Aku berdiri telanjang dalam semua kegagahan yang tersisa di tubuhku yang sudah tercabik-cabik.

"Duduk di tempat tidur," perintahnya tegas, meski lembut.

Penisku berdiri tegak, meminta untuk segera diperhatikan.

"Kamu tahu kan harus ngapain?" tanyanya, saat dia membungkuk untuk menurunkan celana dalam mungilnya, melepaskan roknya, lalu menjatuhkan keduanya di lantai.

Aku ga langsung menjawab dan ga melepaskan pandanganku dari kemaluannya yang terbuka bebas dengan rasa kagum. Dalam ingatanku yang pendek, ini pertama kalinya aku melihat kemaluan wanita secara langsung. Aku melirik keatas dan melihatnya tersipu malu saat aku menyusuri bagian bawah tubuhnya dengan pandangan mataku.

“Sedikit,” kataku

“Semoga cukup buat kali ini,” Dia tertawa ringan lalu merangkak ke tempat tidur dan berbaring, membuka pahanya lebar-lebar dan memberiku pemandangan bebas ke vaginanya yang dicukur bersih. Bibir luarnya menutupi lipatan di bagian dalam tapi aku bisa melihatnya sudah sedikit berkilauan karena antisipasi akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemilau yang sama muncul di sepanjang celah vertikal.

"Ayo," perintahnya cepat. "Untuk sekarang, masukin aja dulu dan kita lihat apa kamu bisa ngelakuin lebih dari itu. Ga usah khawatir, lakuin aja semampumu."

Dia berbaring masih memakai kaus pendek dan branya tapi entah kenapa membuatnya terlihat lebih erotis dan seksi.

Aku naik ke tempat tidur dan berlutut di antara kedua kakinya. Lututku terasa sakit saat harus menopang berat badanku bahkan saat bertumpu diatas selimut yang lembut, tapi aku tetap bertahan, siapa coba yang ga? Dia menatapku dengan antisipasi lebih ke penuh harap aku baik-baik saja daripada penuh nafsu yang terburu-buru.

Aku meletakkan tanganku di atas lututnya dan membeku. Sensasi sentuhan kulitnya begitu memikat, lembut tapi kencang dan padat. Aku yakin saat ini insting yang mengambil alih karena tanpa sadar tanganku bergerak naik menyusuri kulit paha bagian dalamnya yang lembut, membelainya dengan jemariku. Aku membelai sampai ke selangkangannya lalu naik lagi ke lututnya, beberapa kali.

“Ah....nnn...”

Belaianku punya efek padanya. Matanya terpejam dan desahan terdengar keluar dari mulutnya. Jadi aku melanjutkan terus sampai saat aku mencapai bibir vaginanya untuk kesekian kalinya, tapi kali ini tangannya menjulur kebawah dan menangkap tanganku. Dia mengarahkannya ke vaginanya, mengambil jariku, menggerakkannya berputar menelusuri tonjolan kecil di bagian atas celahnya.

“Ehmm... terusin,”

Dia melepaskan tangannya dan aku melanjutkan sendiri setelahnya, tapi cuma sebentar karena aku ingin menjelajah lebih jauh dan menyelipkan jari di sepanjang lipatannya ke ujung yang lain, di mana aku menemukan tempat di mana para pria di DVD mendorong kepala penis mereka ke lubang menganga wanita. Lubang vagina.

Aku ga mendorong jariku masuk terlalu dalam, tapi menelusuri kembali kearah luar, menemukan ada lipatan bibir bagian dalam. Aku ingat pernah melihat ini di salah satu DVD. Tanganku yang lain meraih kelentitnya dan menggosoknya memutar lagi sampai dia mengerang lagi dan pahanya mulai kejang.

"Oh yes!" dia berteriak. "Sekarang Adjie, sekarang!"

Apa maksudnya? Apa aku sekarang bisa menyetubuhinya, atau itu cuma ekspresi nikmatnya?

Dia segera mengklarifikasi. Dia meraih penisku yang sudah tegang sempurna dan menariknya ke arah kelaminnya. Aku mengikuti - ga ada pilihan lain kan - mencoba mengabaikan rasa sakit di lututku. Dia mengarahkan dan aku mendorong masuk, kakiku yang tadinya tertekuk perlahan terentang lebih lurus, rasanya lebih nyaman dibanding harus berlutut.

Tapi siapa yang peduli rasa di lutut kalau ada sensasi lain yang jauh lebih luar biasa. Menakjubkan! Dinding lubang kemaluannya terasa hangat dan lembab, mencengkram batang penisku saat aku mulai bergerak. Aku terpesona dalam sensasi itu, perlahan bergerak di dalam dirinya keluar masuk, keluar masuk. Mataku sudah terpejam dari tadi, dan saat aku membukanya, aku melihatnya menatap mataku. Dia tertawa lembut disela nafasnya.

"Adjie, kamu tuh tipe pasangan yang diimpikan semua cewek. Kamu keliatan sangat menghargai setiap sensasi, dan kamu bergerak lembut walaupun kamu tahu aku sudah ga perawan lagi, aku suka itu, tapi untuk sekarang tolong cepetin."

Aku tersenyum dan dengan sedikit malu mencoba menemukan cara yang ga terlalu menyakitkan saat menyetubuhinya. Aku bertumpu pada lenganku, dan saat aku mempercepat gerakan mendorong, ada rasa familier yang berkumpul di kemaluanku. Aku melambat untuk membuat rasa nikmat itu bertahan lebih lama.

“Ahh... Jangan berhenti... Terusin,” Protesnya

Aku juga ga berencana berhenti sekarang, jadi aku mulai bergerak mempercepat lagi sampai hampir ke batas, lalu melambat lagi, sampai akhirnya aku ga tahan lagi dan tergulung gelombang kenikmatan, aku mencapai orgasme, menggigil dan terengah-engah, kurasakan penisku menyemburkan cairan beberapa kali di dalam vaginanya. Tris ga jauh berbeda, perubahan kecepatanku yang berulang-ulang membuatnya mengejang dibawahku, bahkan tubuhnya sudah pasrah saat maniku menyembur didalam vaginanya.

“Ummph...nnghh...” Teriakannya tertahan karena tertimpa tubuhku yang kehilangan kekuatan saat orgasme.

Saat getaran tubuh kami mereda, matanya sayu setengah terpejam, bibirnya terbuka, menarikku untuk menciumnya, dan dia balas menciumku.

"Aku ga pernah nyangka bakal dapat orgasme disaat kita ngelakuin ini pertama kali." katanya memuji, "Dan seks barusan sama kamu adalah yang paling nikmat yang pernah kualami. Biasanya 'brak, bum, selesai, terima kasih'. Bahkan kalau aku sampai menginap berdua setelahnya, kebanyakan pria ga peduli tentang kepuasanku."

"Jadi, apa kita akan mengulang terapi ini lagi?" Aku bertanya penuh harap.

"Oh ya pasti! Dan untuk sementara ini aku ga akan berhubungan dengan pria lain... By the way," tambahnya, "Semua pria yang lain sebelum kamu, selalu pakai kondom saat kami berhubungan seks."

"Kondom? Tapi aku ga...?"

"Adjie, aku tahu kamu ga pernah berhubungan seks dengan siapa pun selama hampir tiga tahun, jadi aku tahu kamu bersih dari penyakit kelamin, dan jangan kuatir soal hamil, aku tetap minum pil walaupun mereka selalu pakai kondom. Jadi kita bisa ngelakuin tanpa pengaman dan ternyata rasanya luar biasa!"

Aku terdiam sejenak memikirkan kata-katanya, lalu berkata, "Tris, menurut perkiraan mereka aku berumur awal empat puluhan dan kamu berumur dua puluhan. Bukannya aku terlalu tua untukmu?"

"Seperti yang kubilang, Adjie," dia mengedipkan mata padaku, "Ini cuma sekedar seks, tanpa ikatan dan pamrih apapun, dan aku ga peduli soal umurmu, nyatanya seks denganmu lebih memuaskanku dibanding pria yang lain sebelumnya."

Dia menginap malam itu, tidur di tempat tidurku. Keesokan paginya ada beberapa kali terapi yang sama. Selama beberapa minggu berikutnya dia sering datang dan kami berhubungan seks.

Sekarang rasa sakit di lututku mulai berkurang. Aku yakin karena banyak melakukan posisi misionaris. Terapi memang tentang melatih, membiasakan diri, dan terapi khusus dari Tris sangat membantu di bagian itu.

Selain persetubuhannya sendiri, aku juga melakukan hal lain secara alami, dan tanpa punya memori sama sekali, aku ngelakuin semuanya dengan tepat. Aku sering membelai punggungnya saat kami berhubungan badan, dia suka itu. Aku suka menggigit telinganya, dia suka itu. Aku memijat kakinya, dia juga suka. Belakang lututnya? Sukses! Ketiaknya. Efeknya hebat! Tentu itu selain titik-titik normal, payudara, bibir, klitoris, vagina, pantat. Aku sadar aku mungkin sudah pernah melakukan semua sebelumnya, tapi sekarang aku bisa bilang aku cukup beruntung jadi perjaka dua kali.

Dia memujiku terus menerus. Aku pria yang luar biasa. Aku pasti pernah bikin wanita sangat bahagia sebelumnya, dia sendiri sangat antusias pada terapi berikutnya.

Ada dua hal yang dihasilkan dari terapi ini.

Satu, kepercayaan diriku pulih, aku mulai berani belanja sendiri. Butuh waktu lama, berjalan memakai krukku, tapi aku bertahan. Aku makin sering keluar rumah. Ikut ke cafe dengannya, berkumpul dengan teman-temannya sesama perawat, foto, bahkan nonton konser rock bersamanya. Aku sadar bahwa orang lain memang pada awalnya cenderung kaget, takut atau kasihan saat melihatku pertama kali, tapi setelah itu mereka menerimaku seperti biasa.

Kedua, aku mulai memikirkan tentang kehidupanku sebelum tragedi. Apa benar aku pernah membuat seorang wanita bahagia sebelumnya? Atau bahkan apa aku pernah punya hubungan khusus dengan seorang wanita? Menikah? Punya anak? Apa pekerjaanku? Apa aku kaya atau miskin? Dan sebagainya. Tapi untuk saat ini, aku ga akan pergi kemana-mana kan? Ga tanpa dua tongkat.

Tentang Tris, sejauh yang diketahui teman-temannya, kami adalah pasangan kekasih, dan ga satu pun dari kami yang berusaha menyangkalnya.

Secara fisik aku semakin baik. Aku sudah bisa melepas satu tongkat saat berjalan tapi cuma sejauh itu yang aku berani saat ini. Lututku yang rusak bisa tiba-tiba kehilangan kekuatannya dan aku pasti butuh penyangga supaya ga jatuh, meskipun pergelangan kakiku sudah jauh menguat.

Menjelang liburan Natal dan tahun baru, aku bertanya apa Tris punya rencana liburan, tapi sekali lagi dia bilang dia ga punya keluarga di Indonesia, semua di Timor Leste, dan sebagai perawat dia ga punya jadwal libur normal seperti orang lain. Jadi kami ga kemana-mana hanya menghabiskan waktu bersama, memasak berdua bebek yang luar biasa enak, memasak sepertinya salah satu skill yang ga pernah kulupakan karena aku merasa sudah sering melakukan itu setiap kali memasak. Kami ikut beberapa acara tahun baru bersama teman-teman Tris.

Tahun baru selalu memberikan harapan baru, apakah hubunganku dengan Tris akan berkembang lebih jauh? Atau justru aku akan menemukan lagi hidupku yang dulu? Hidupku ga akan pernah sama lagi, tapi aku ingin menjalaninya selangkah demi selangkah seperti orang normal yang lain..



Bersambung... Chapter II

 
Terakhir diubah:
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR